6 July 2020
  • 6 July 2020
Breaking News
  • Home
  • Redaksi
  • Yus Yunus : Sopir Truk Korban Salah Sasaran Amuk Warga Di Papua

Yus Yunus : Sopir Truk Korban Salah Sasaran Amuk Warga Di Papua

By on 2 March 2020 0 289 Views

Papua, republikonline.com — Malam tahlilan atas kepergian Yus Yunus secara sadis di Papua telah berlangsung dalam suasana haru. Keluarga almarhumpun hadir di rumah duka, pada Sabtu (29/2).

Tampak di rumah duka, keluarga, teman dan tetangga hadir dalam tahlilan tersebut, untuk mengenang sepekan Yus Yunus pergi untuk selama-lamanya. Mereka melantunkan doa-doa dan ayat-ayat suci Al Qur’an.

“Alhamdulillah. Terima kasih untuk semuanya atas perhatiannya. Semoga amal ibadah adikku, almarhum Yus Yunus diterima di sisi-Nya, dilapangkan kuburnya, serta diampuni segala dosa-dosanya,” tulis Hasriani di postingan status di akun Whatsapp miliknya.

Dilansir dari beberapa sumber, diketahui bahwa Yus Yunus adalah korban amuk massa hingga tewas, yang belakangan diketahui ternyata salah sasaran. Kejadian tersebut terjadi di jalan Trans Papua Nabire-Enarotali, Kampung Ekimani Distrik Kamu Utara, Kabupaten Dogiyai, pada Minggu, (23/2) lalu.

Atas kasus penganiayaan yang menyebabkan supir truk Yus Yunus (25) meninggal dunia tersebut, Kepolisian Daerah (Polda) Papua terus melakukan penyelidikan.

Kabid Humas Polda Papua, Kombes Ahmad Musthofa Kamal menjelaskan, kronolgi kejadian yang berakhir dengan penganiayaan yang dilakukan warga setempat terhadap sopir asal Kabupaten Polman, Sulawesi Barat itu.

“Kasus itu berawal dari korban yang pertama, warga Papua mengendarai sepeda motor dan menabrak seekor babi. Terus kemudian terpental mengenai bagian truk,” kata Kamal, Jumat (28/2).

Sopir truk yang melapor ke Polsek Kamu, kemudian diantar kembali ke lokasi kejadian untuk melakukan olah TKP. Hanya saja, warga setempat sudah salah paham dan mengira truklah yang menabrak pengendara motor beserta seekor babi.

“Kemudian, salah paham dari masyarakat setempat terhadap proses penegakan hukum. Wakapolsek Kamu dan anggotanya datang ke TKP mendapat perlawanan dari warga. Bahkan memblokir jalan lintasan baik ke arah Nabire maupun sebaliknya, akibatnya truk aparat kepolisian tidak bisa membawa kembali pulang pengguna truk itu,” lanjutnya.

Sementara itu, masyarakat dari kabupaten yang sama dengan korban, mengutuk peristiwa tersebut. Amarah dan kekecewaan terhadap kasus kematian warga asal Kabupaten Polewali Mandar Sulawesi Barat. Para mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Solidaritas Mahasiswa Sulawesi juga menggelar aksi unjuk rasa di depan Polda Sulsel, Jalan Perintis Kemerdekaan, Kota Makassar, Jumat (28/2).

Beberapa dari mereka meneriakkan aspirasi atas meninggalnya Yus Yunus secara sadis, dalam orasinya mengatakan, oknum kepolisian dianggap melakukan pembiaran saat Yus Yunus akan dihakimi oleh massa. Saat itu, pria berprofesi sebagai sopir truk tersebut dituduh telah menabrak seorang pemotor dan seekor babi di Nabire, Papua.

Yunus pun tewas dihakimi oleh massa hingga meninggal dunia. Saat itu, jenazah korban sudah berlumuran darah.

“Penganiayaan kepada Yus Yunus yang mengakibatkan kematian, yang membiarkan terjadinya tindakan kriminal,” kata penanggung jawab aksi, Marwan Ali dalam keterangannya.

Selama berunjuk rasa, mereka meminta kepada Polda Sulsel untuk mendesak Polda Papua menuntaskan kasus tersebut. Menurut dia, dalam video yang beredar, mereka menganggap ada pembiaran saat korban akan dihakimi.

Menanggapi tuduhan tersebut, Kamal menampik, jika kepolisian melakukan pembiaran saat warga menganiaya Yus Yunus. Saat itu, beberapa personil kepolisian juga menjadi korban dari warga setempat.

“Kita tahu soal video yang beredar dan viral, ada satu shit yang dari jauh dan satu dari dekat truk, terlihat beberapa rekan-rekan kami jadi korban penganiayan ketika melindungi sopir truk yang jadi korban. Jadi tidak serta merta bahwa korban sopir truk itu dilakukan pembiaran oleh aparat kita,” ucap perwira berpangkat tiga bunga ini.

Kepada warga luar Papua, Kamal meminta pemahaman soal situasi dan kondisi masyarakat kita di Papua. Terutama kultur kondisi keterbelakangan dan pemahaman hukumnya masih rendah.

“Tidak semua masyarakat di sini menyelesaikan pendidikan di tingkat SD, SMP maupun SLTA. Masyarakat di Papau sendiri itu, ketika mendengar letusan senjata, bukan takut atau lari. Malah mendekat dan mengejar anggota yang memegang senjata. Jadi itu tidak serta merta itu menyelesaikan masalah,” kata Kamal.

Menurutnya juga, sebagian masyarakat Papua masih menganut hukum rimba. Mereka berprinsip, kalau satu nyawa harus dibayar satu nyawa.

“Ini kan masih pakai hukum rimba namanya, sedangkan hukum nasional kita tidak begitu, siapa yang berbuat itu yang harus bertanggung jawab bagaimana prosesnya sengaja atau tidak harus diproses,” jelasnya.

Masyarakat dari kabupaten yang sama dengan korban, mengutuk peristiwa tersebut. Amarah dan kekecewaan terhadap kasus kematian warga asal Kabupaten Polewali Mandar Sulawesi Barat, memicu aksi unjuk rasa para mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Solidaritas Mahasiswa Sulawesi juga menggelar aksi unjuk rasa di depan Polda Sulsel, Jalan Perintis Kemerdekaan, Kota Makassar, Jumat (28/2).

Beberapa dari mereka meneriakkan aspirasi atas meninggalnya Yus Yunus secara sadis. Bahkan, salah satu dari mereka naik ke atas mobil dan dijadikan sebagai mimbar saat berorasi, dalam orasinya mengatakan, oknum kepolisian dianggap melakukan pembiaran saat Yus Yunus akan dihakimi oleh massa. Saat itu, pria berprofesi sebagai sopir truk tersebut dituduh telah menabrak seorang pemotor dan seekor babi di Nabire, Papua.

Yunus pun tewas dihakimi oleh massa hingga meninggal dunia. Saat itu, jenazah korban sudah berlumuran darah.

“Penganiayaan kepada Yus Yunus yang mengakibatkan kematian, yang membiarkan terjadinya tindakan kriminal,” kata penanggung jawab aksi, Marwan Ali dalam keterangannya.

Selama berunjuk rasa, mereka meminta kepada Polda Sulsel untuk mendesak Polda Papua menuntaskan kasus tersebut. Menurut dia, dalam video yang beredar, mereka menganggap ada pembiaran saat korban akan dihakimi.

Menanggapi hal itu, Kabid Humas Polda Papua, Kombes Ahmad Musthofa Kamal, telah menjelaskan, kronologi kejadian yang berakhir dengan penganiayaan yang dilakukan warga setempat terhadap Yus Yunus.

“Kita tahu soal video yang beredar dan viral, ada satu shit yang dari jauh dan satu dari dekat truk, terlihat beberapa rekan-rekan kami jadi korban penganiayaan ketika melindungi sopir truk yang jadi korban. Jadi tidak serta merta bahwa korban sopir truk itu dilakukan pembiaran oleh aparat kita,” pungkas Kamal. (idj/idj)

Foto : istimewa

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *