1 October 2020
  • 1 October 2020
Breaking News
  • Home
  • Redaksi
  • WHO Tak Setuju Konsep Herd Immunity untuk Atasi Corona, Simak Pembahasan Tentang Herd Immunity

WHO Tak Setuju Konsep Herd Immunity untuk Atasi Corona, Simak Pembahasan Tentang Herd Immunity

By on 21 May 2020 0 169 Views

Jakarta, ROC – Bila virus Corona atau Covid-19 dibiarkan saja tanpa kebijakan yang tegas, maka akan semakin banyak orang terpapar virus itu. Hasilnya adalah kelompok yang terpapar wabah ini menjadi kebal Corona, meski bakal ada sebagian yang meninggal dunia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengutuk konsep herd immunity ini.

“Mungkin saja negara yang kurang menerapkan langkah-langkah, tidak melakukan apapun, tiba-tiba secara ajaib akan mencapai kekebalan kawanan (herd immunity), dan tidak masalah apabila kita kehilangan orang-orang tua selama proses tersebut,” kata Direktur Eksekutif Kedaruratan Kesehatan WHO, Michael Ryan, dalam jumpa pers mengenai Covid-19, di Jenewa, Swiss, tanggal 11 Mei 2020, sebagaimana disiarkan kanal YouTube United Nations.

“Ini adalah kalkulasi yang amat sangat berbahaya,” imbuh Ryan.

Ide herd immunity dengan membiarkan virus Corona menjangkiti sebanyak-banyaknya orang kini terus diperbincangkan publik, termasuk di media sosial di Indonesia. Ide ini sempat menjadi pergunjingan saat awal-awal penanganan wabah di Inggris. Publik menganggap pemerintahan Boris Johnson sedang menggulirkan cara herd immunity untuk mengatasi Corona di Inggris, meskipun akhirnya pemerintahan Inggris menepis kebenaran isu itu.

Dalam bahasa Inggris, ‘herd’ artinya adalah ‘kawanan binatang’, misalnya kawanan serigala, kawanan domba, atau kawanan burung. Namun masyarakat manusia bukanlah kawanan binatang.

“Manusia bukanlah kawanan hewan,” kata Ryan.

Ryan menjelaskan, pada dasarnya konsep herd immunity adalah cara mencapai kekebalan tubuh dari virus dengan cara vaksinasi, bukan dengan cara pembiaran penularan virus terhadap manusia. Konsep herd immunity berisi perhitungan berapa banyak orang yang bisa divaksinasi supaya semuanya bisa kebal.

“Maka saya pikir kita perlu sangat berhati-hati ketika menggunakan istilah ini terkait penularan alami dan manusia, karena ini bisa mengarah ke artimetika yang sangat brutal,” kata Ryan.

Ryan percaya negara-negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) punya kemauan untuk menjaga masyarakatnya. Setiap negara menghargai individu-individu masyarakatnya sendiri dan bakal melakukan apapun untuk menjaga kesehatan mereka. Dengan menjaga kesehatan, maka itu sama artinya dengan menjaga ekonomi dan menjaga kehidupan sosial.

Di Twitter, warganet dari Indonesia kini bergunjing bahwa pelonggaran pembatasan sosial berskala besar (PSBB) adalah cara mencapai herd immunity. Pemberian izin beraktivitas kerja bagi warga berusia 45 tahun ke bawah adalah salah satu bentuknya.

Apa Itu Herd Immunity ?

Kasus infeksi virus Corona atau Covid-19 yang semakin banyak di Indonesia masih jadi pusat perhatian dunia. Di tengah perhatian tersebut, ide herd immunity sempat muncul dan menjadi kontroversi para ahli kesehatan.

Dikutip dari Business Insider, herd immunity yang disebut dapat memperlambat pandemi Corona adalah kondisi saat sejumlah orang dalam populasi punya daya imun yang sangat baik sehingga tahan penyakit. Adanya herd immunity memungkinkan penyakit tidak menyebar lebih luas dan bisa ditahan.

Ide herd immunity menghadapi virus Corona dilontarkan Perdana Menteri Belanda Mark Rutte dalam acara televisi. Dengan mengekspos lebih banyak orang terhadap Covid-19, peluang sembuh makin banyak dan terbentuk daya tahan tubuh dan komunitas yang lebih baik.

“Dengan pendekatan herd immunity, satu dari banyak orang hanya akan mengalami gejala minimal. Hasilnya, kita bisa membangun daya tahan tubuh komunitas dan sistem kesehatan untuk menanganinya,” kata Rutte.

Rutte segera meralat ide herd immunity setelah mendapat tanggapan negatif dari ahli kesehatan. Dalam klarifikasinya, Rutte menjelaskan, herd immunity adalah efek samping dari upaya pemerintah menangani Covid-19 dan bukan fokus utama.

Herd immunity hanya dapat dibangun dengan proses alami, bukan sengaja memaparkan banyak orang kepada virus atau bakteri. Kemungkinan herd community juga hanya dapat dibangun lewat penggunaan vaksin.

“Cara paling aman untuk memperoleh herd immunity terhadap virus Corona atau Covid-19 adalah melalui vaksin,” kata ahli biostatistik Natalie Dean dari University of Florida.

Contoh herd immunity adalah pada ketahanan menghadapi measles atau campak, yang lebih menular dibanding virus Corona. Para ahli memperkirakan, 93-95 persen komunitas harus punya imun yang baik menghadapi campak. Sedangkan dalam virus Corona hanya perlu 40-70 persen komunitas.

Selain lewat vaksin, herd immunity bisa diperoleh lewat mereka yang berhasil sembuh dari infeksi virus dan bakteri. Namun mereka yang sembuh harus benar-benar memiliki daya imun yang baik, sehingga kemungkinan mengalami reinfeksi rendah atau nol.

Terkait virus Corona, para ahli diperkirakan butuh waktu 18 bulan untuk mengembangkan vaksin yang melindungi tubuh dari virus Corona. Selain itu, hingga saat ini belum diketahui peluang mengalami reinfeksi Covid-19 dan pengaruhnya pada berbagai kelompok penduduk.

“Mereka membuat asumsi yang sangat besar saat mengatakan, usia muda bisa mengalami Covid-19 namun tidak meninggal. Kita tidak punya cukup data untuk mendukung asumsi tersebut. Kita melihat pasien virus Corona usia 30-an di ICU dan tidak tahu akan sehat kembali, mengalami gangguan paru, atau sesak napas,” kata Dean.

Data Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menegaskan usia muda tetap berisiko mengalami infeksi virus Corona. Dalam data yang diperoleh 12-16 Maret 2020, sekitar 20 persen dari 508 pasien Covid-19 yang dirawat di rumah sakit berusia 20-44 tahun. Artinya, tidak ada yang bebas dari risiko Covid-19 dan kemungkinan terburuknya.(Red)

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *