15 April 2021
  • 15 April 2021
Breaking News
  • Home
  • Redaksi
  • Upayakan Pemulihan Ekonomi 2021, ini Strategi Mendag

Upayakan Pemulihan Ekonomi 2021, ini Strategi Mendag

By on 2 December 2020 0 88 Views

Grafik Ekonomi (Foto: Ilustrasi Shutterstock)

ROC – Kementerian perdagangan mulai menyiapkan strategi perdagangan yang lebih baik lagi pada tahun depan. Sehingga proses pemulihan ekonomi bisa terus dijalankan.

Menteri Perdagangan Agus Suparmanto mengatakan, guna memulihkan perekonomian, pihaknya akan fokus menjaga konsumsi dan pasar di dalam negeri. Salah satu upayanya adalah dengan terus mengkampanyekan bangga dengan buatan Indonesia, serta meningkatkan keterlibatan Indonesia dalam rantai pasok global.

“Penghujung 2020 ini menjadi momentum tepat untuk kita belajar dan bersama-sama menyusun strategi perdagangan yang lebih baik di tahun mendatang. Sebagai negara besar, maka menjaga konsumsi dan pasar di dalam negeri adalah salah satu langkah tepat mendukung pemulihan ekonomi Indonesia. Di sisi lain, keterbukaan dan keterlibatan Indonesia dalam rantai pasok global juga menjadi keharusan,” ujarnya dalam keterangan resminya, Senin (30/11).

Mendag Agus melanjutkan, menjaga pasar utama dan terus membuka akses pasar baru di negara-negara nontradisional adalah langkah yang akan terus dilakukan. Sehingga produk-produk Indonesia semakin berdaya saing dan mendunia.

Beberapa hal tersebut penting dilakukan agar Indonesia siap berpacu dalam perdagangan dunia terutama dalam menghadapi ketidakpastian yang diakibatkan pandemi Covid-19. Sebagai implikasi dari kondisi pandemi tersebut, perdagangan dunia juga mengalami perlambatan.

IMF mengungkapkan, perdagangan dunia pada 2020 diperkirakan terkontraksi 10,4%. Namun, pada 2021, perdagangan dunia diperkirakan akan lebih baik dan tumbuh 8,3% dengan kontribusi terbesar dari negara-negara berkembang.

“Kita harus dapat mengubah momentum krisis ini menjadi lompatan, kesempatan dan kemajuan. Untuk itu, Kemendag telah melakukan pemetaan tantangan dan peluang di sektor perdagangan selamatkan dan pasca pandemi Covid-19,” ucapnya.

Tantangan perdagangan yang saat ini dihadapi antara lain terkait perubahan perilaku konsumen dan pola perdagangan global, proteksionisme perdagangan dan meningkatnya hambatan perdagangan, kerja sama perdagangan antaranegara, serta potensi defisit neraca perdagangan dan resesi ekonomi.

Sedangkan, peluang perdagangan yang harus segera dimanfaatkan adalah pertumbuhan nilai perdagangan produk potensial baru, relokasi pusat-pusat industri dan investasi global, transformasi digital dan perkembangan teknologi informasi yang kian masif, serta pemanfaatan potensi pasar di kawasan potensial.

“Dengan melihat berbagai tantangan dan peluang, Kemendag telah dan akan terus melakukan berbagai langkah strategis dan evaluasi secara berkala untuk mendukung program pemulihan ekonomi nasional,” kata Mendag.

Mendag Agus menjabarkan, beberapa respons kebijakan strategis Kemendag antara lain larangan sementara impor binatang hidup dari Tiongkok yang dilakukan sejak Februari 2020, realokasi dan refocusing anggaran, termasuk program bantuan untuk pasar rakyat dan UMKM, stimulus ekonomi nonfiskal, pengamanan ketersediaan alat kesehatan, seperti masker dan alat pelindung diri (APD) dan stabilisasi harga dan jaminan stok barang kebutuhan pokok.

Selain itu juga menjalankan strategi pengawasan barang beredar dan/atau jasa dalam perdagangan dalam jaringan (e-commerce), peningkatan fasilitasi ekspor, pengamanan bahan baku industri, termasuk impor bahan baku seperti gula yang banyak dibutuhkan UMKM pangan, pengaturan impor barang konsumsi; pemanfaatan forum kerja sama perdagangan internasional, serta pembukaan fasilitas perdagangan secara bertahap di era adaptasi kebiasaan baru.

Kemendag juga telah menyusun strategi akselerasi pertumbuhan perdagangan untuk pasar domestik dan pasar global. Secara khusus terkait upaya peningkatan ekspor nonmigas, Kemendag juga telah menyusun strategi jangka pendek dan jangka menengah.

Strategi jangka pendek berorientasi pada pendekatan produk dan pendekatan pasar, sedangkan strategi jangka menengah dilakukan melalui pemetaan produk Indonesia di negara akreditasi yang telah mempunyai kekuatan. Selain itu, pemerintah pun terus mengupayakan kesepakatan perdagangan melalui perjanjian kerja sama perdagangan internasional.

Sampai saat ini, Indonesia telah menyelesaikan 21 perundingan perdagangan, baik secara bilateral maupun multilateral dan regional, termasuk RCEP yang baru ditandatangani pada 15 November 2020.

(red)

 

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *