23 April 2021
  • 23 April 2021
Breaking News
  • Home
  • Redaksi
  • Teroris Diduga Eksis di Makassar, Pengamat: Kota Lain Tetap Waspada

Teroris Diduga Eksis di Makassar, Pengamat: Kota Lain Tetap Waspada

By on 30 March 2021 0 24 Views

Situasi di depan sebuah gereja tempat ledakan bom, detik-detik sesaat setelah bom meledak di Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu (28/3/2021). Ledakan diduga bom tersebut terjadi di depan Gereja Katedral Makassar, Sulawesi Selatan pada Minggu (28/3/2021). Foto: ss/ROC

ROC – Polisi langsung menggelar operasi besar-besar pasca ledakan yang terjadi di Gereja Katedral Makassar pada Minggu 28 Maret 2021 baru-baru ini. Beberapa terduga teroris yang terkait dengan insiden tersebut, langsung diringkus dari beberapa kawasan di Makassar, Jakarta, Bekasi, dan NTB.

Kapolri Jendral Listyo Sigit menerangkan, empat orang ditangkap di Makassar. Mereka adalah AS, SAS, MR, dan AA. Dia menyebut, dua terduga pelaku teror di Gereja Katedral Makassar tergabung ke dalam kelompok kajian yang sama dengan mereka.

“Masing-masing perannya bersama-sama dengan L dan YSF mereka ada dalam satu kelompok kajian Villa Mutiara namanya,” ujar dia saat konferensi pers di Polda Sulsel, Senin (29/3).

Listyo membeberkan, keempat pelaku bertugas mendoktrin ‘pengantin’ bom bunuh diri. Selain itu, juga menyediakan alat dan bahan peledak yang akan digunakan dalam aksi.

“Masing-masing berperan memberikan doktrin dan mempersiapkan rencana untuk jihad dan juga membeli bahan yang akan digunakan sebagai alat untuk melakukan bom bunuh diri,” jelasnya.

Di Jakarta, Listyo menerangkan, Densus 88 Antiteror juga mengamankan empat orang. Mereka adalah ZA, AA, AJ, dan DS. Listyo menambahkan, mereka ada yang berperan membeli bahan, mengajarkan, dan membuat bahan peledak serta ada yang siap untuk menggunakan bahan peledak tersebut.

Dari penangkapan itu, Densus 88 Antiteror kemudian mengembangkan dengan menggeledah dua rumah di Bekasi dan Condet, Jakarta Timur. Listyo menerangkan, pihaknya mendapatkan sejumlah bahan peledak.

“Kita temukan barang bukti 5 bom aktif jenis bom sumbu yang siap digunakan, kemudian 5 toples besar yang di dalamnya berisi aseton, H2O2, HCL, sulfur, serta termometer yang bahan-bahan ini akan diolah menjadi bahan peledak. Jumlahnya kurang lebih 4 kilogram. Kemudian ditemukan bahan peledak yang sudah jadi jenis TATP dengan jumlah 1,5 kilogram,” papar Listyo.

Lebih jauh dikatakan, tidak hanya di Jakarta, pihaknya juga telah memberangus jaringan JAD di NTB. Dia menyebut, lima terduga teroris diamankan dari beberapa tempat.

“Total 5 pelaku teroris dari kelompok JAD yang ada di NTB sudah kita amankan. Dengan demikian, sampai hari ini di Makassar, Jakarta, dan di Bima kita terus melakukan upaya-upaya penangkapan dan pengembangan lebih lanjut,” imbuhnya.

Sementara itu, Badan Intelijen Negara (BIN) menampik kalau pihaknya kecolongan atas terjadinya serangan di Gereja Katedral Makassar. BIN sudah memonitor jaringan JAD sejak 2015 di Sulsel bahkan di awal 2021 termonitor kelompok JAD ini berusaha melakukan aksi teror, namun terdeteksi dan dilakukan penangkapan.

“Mereka terus dikejar, namun karena mereka menyadari dikejar maka mereka sembunyi berpindah-pindah, menggunakan cover name, cover job dan cover story untuk mengelabuhi petugas guna menghindari penangkapan.

“Jelang Ramadan ini perlu diwaspadai karena mereka menilai melakukan amaliah saat yang tepat agar dapat pahala banyak,” kata juru bicara BIN, Wawan H Purwanto.

Ia menambahkan, meskipun sudah banyak yang ditangkap, kelompok JAD di Sulsel sisanya masih cukup banyak jika dibanding di Sulteng yang lebih kecil.

“Jaringannya masih ada dan masih melakukan rekrutmen anggota baru,” ucap Wawan.

Sementara itu, Pengamat terorisme dari Universitas Malikussaleh Lhokseumawe Aceh, Al Chaidar mengungkapkan alasan kelompok teror JAD ini melancarkan aksinya di Makassar, Sulawesi Selatan. Tempat itu dinilainya sebagai salah satu kota terbesar di Indonesia selain Medan, Surabaya dan Jakarta.

Selain tiga kota itu, Ia juga menilai masih ada sejumlah tempat lain yang menjadi sasaran serangan. Kota itu seperti Palembang, Yogjakarta, dan Semarang. Ia menyebut, sejumlah wilayah yang sudah menjadi sasaran, JAD bisa jadi kembali menyerangnya di lain waktu.

“Ya ada kemungkinan serangannya berulang seperti Gereja Katedral Jolo, Filipina sebanyak dua kali, Surabaya sudah diserang sekali, Makassar sekali, dan ini harus diwaspadai. Selain di kota lain, harus mewaspadai di kota yang sama, Surabaya dan Makassar ada kemungkinan terulang lagi,” terang Al Chaedar.

Ia menyoroti pasangan suami istri yang menjadi pelaku bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar. Manurutnya, tindakan itu telah melenceng dari yang difatwakan mantan pemimpian JAD Aman Abdurrahman. Aman sendiri telah melarang tindakan bom bunuh diri dengan melibatkan keluarga.

“Sementara orang JAD yang ada sekarang, lebih memilih fatwa dari Khalid Gozali untuk melakukan bunuh diri keluarga menggunakan isteri dan anak,” ucap Al Chaedar.

Menurut Al Chaidar, mereka mengajak keluarga untuk melakukan bom bunuh diri karena telah membuat tafsiran yang aneh terhadap ajaran agama. Padahal hal itu bertentangan dengan apa yang terkandung dalam alquran.

“Anjurannya yakni menyuruh menjaga diri dan keluarga dari api neraka,” kata Al Chaidar.

Ia mengungkapkan, dalam melancarkan aksinya, kelompok teror JAD ini menggunakan senjata tajam ataupun bom. Untuk amaliah dengan senjata tajam, biasanya digunakan untuk menyasar sel atau kelompok kecil maupun lone wolf.

“Namun karena menggunakan bom, mereka menyasar sel atau kelompok besar,” ucap Al Chaidar.

Al Chaidar menilai kinerja polisi sudah sangat baik karena menangkap terduga teroris sebelum mereka beraksi. Namun begitu, masih ada tujuh orang yang belum tertangkap di Makassar.

“Salah satunya satu pasangan yang melakukan bom bunuh diri di Katedral. Jadi ada beberapa orang lagi yang perlu dikejar untuk pencegahan agar tidak terjadi lagi peristiwa serupa,” ucap Al Chaedar.

Terkait dengan rekrutmen anggota, kelompok JAD ini disebutnya banyak memanfaatkan sosial media. Selain menggunakan platform tersebut, kelompok teror ini juga acap melakukan pengajian keluarga namun secara tertutup.

Al Chaidar pun meminta aparat keamanan untuk mewaspadai perpindahan orang dari Filipina maupun Turki ke Indonesia. Hal itu ditandai dengan adanya gerakan ideologi transnasional.

“Gerakan ideologi Transnasional sehingga harus diwaspadai migrasi orang tersebut untuk mencegah terjadinya gerakan itu kembali,” pungkas Al Chaidar.

Red

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *