14 July 2020
  • 14 July 2020
Breaking News
  • Home
  • Redaksi
  • Tangani 104 Kasus Hoaks Tentang Covid-19, Polri Himbau Masyarakat Bisa Memilah Informasi Yang Beredar dan Diedarkan

Tangani 104 Kasus Hoaks Tentang Covid-19, Polri Himbau Masyarakat Bisa Memilah Informasi Yang Beredar dan Diedarkan

By on 26 May 2020 0 90 Views

Foto: hoaks ratusan polisi positif corona (dok.Kominfo)

Jakarta, ROC Direktorat Siber Bareskrim Mabes Polri tengah menangani 104 berita palsu atau hoaks menyangkut Virus Corona atau Covid-19.

“Perkembangan penanganan kasus hoaks Virus Corona sampai dengan dengan Mei 2020 ada sebanyak 104 kasus hoaks yang ditangani oleh Polri,” kata Kabag Penum Divisi Humas Polri, Kombes Pol Ahmad Ramdhan, dalam keterangan tertulisnya, di Jakarta, Selasa (26/5).

Rinciannya, Polda Metro Jaya menangani 14 kasus, Polda Jawa Timur menangani 12 kasus, Polda Riau menangani 9 kasus.

“Polda Jawa Barat menangani 7 kasus, Dittipidsiber Bareskrim menangani 6 kasus, dan 56 kasus lainnya ditangani oleh Polda jajaran,” katanya.

Diberitakan sebelumnya, Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Raden Prabowo Argo Yuwono menegaskan akan terus patroli untuk mencegah beredarnya berita-berita hoaks yang meresahkan dan menyesatkan masyarakat. Dia juga meminta masyarakat bisa memilah informasi yang beredar dan yang di edarkan.

“Apabila masyarakat memerlukan informasi terkait Virus Corona atau Covid-19 diharapkan bisa mengakses situs resmi pemerintah atau mendapatkannya dari media massa yang kredibel. Jadi, sampai saat ini demikian kasus hoax Corona yang sedang ditangani,” kata Argo.

Kominfo menyebutkan, saat ini terdapat tiga level penyebaran informasi di tengah masyarakat. Hal tersebut juga menunjukkan pihak-pihak yang bakal didekati Kemenkominfo jika terjadi persoalan dalam penyebaran informasi.

“Pertama itu internet. Itu yang nanti kalau ada masalah kita akan bicara dengan ISP (Internet Service Provider). Kedua medsos. Instagram, Facebook, Twitter, platform kita akan komunikasi. Kalau memang melanggar diambil oleh pihak keamanan. Tetapi kalau enggak kita minta takedown,” kata Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik Kementerian Komunikasi dan Informatika, Widodo Muktiyo dalam diskusi, pada Rabu (13/5) lalu.

Yang paling berbahaya, kata dia, yakni media memiliki sistem yang tertutup, seperti WhatsApp. Hal ini menjadi tantangan yang harus segera ditangani oleh pihaknya.

“Yang paling berbahaya sebenarnya media yang tertutup sistemnya kayak WA. WA grup misalnya. Ini sekarang semakin kita banyak di rumah isengnya kita itu kan WA grup. Postingan yang di dapatkan dari WA group, di share lagi ke WA group yang lain, yang belum jelas kebenarannya.Tambahan selama Covid-19 ini groupnya sangat banyak. Ini yang saya kira menjadi tantangan kita,” pungkasnya.(idj/idj)

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *