23 October 2020
  • 23 October 2020
Breaking News

Takwa Kunci Kebangkitan dan Kejayaan

By on 3 July 2020 0 215 Views

Oleh : Mayjen TNI (P) Dr. Ir. H. Suharno, M.M

 

Takwa memiliki efek yang menakjubkan dalam upaya membangun peradaban. Secara ringkas, takwa adalah kunci kebangkitan dan kejayaan di dunia, sekaligus juga modal keselamatan dan kebahagiaan kelak di akhirat.

Allah Swt sendiri menjanjikan bahwa sekiranya penduduk sebuah negeri beriman dan bertakwa, maka keimanan dan ketakwaan ini akan memberi efek pada melimpahnya keberkahan dari langit dan dari bumi, sebagaimana firman-Nya: “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri tersebut beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al-A’raf: 96).

Adanya keberkahan terhadap suatu negeri adalah syarat mendasar dan kekuatan menentukan bagi suatu negeri dalam upaya membangun peradabannya. Begitu juga sebaliknya, tidak adanya atau berkurangnya ketakwaan adalah masalah paling kronis yang menjadi penyebab mundurnya umat  di era kejayaannya, dan sekaligus sebab datangnya siksaan Allah Swt. Kita tidak bisa membangun peradaban di sebuah negeri jika tanpa keimanan dan ketakwaan. Keimanan adalah konsepsi akidah, sementara takwa adalah implementasi dari akidah. Iman yang kuat akan menghasilkan buah takwa yang menakjubkan.

Bagi pribadi kita, takwa adalah bekal keselamatannya di dunia dan akhirat. Maka itu sebab kita diminta untuk berbekal, dan karena sebaik-baik bekal adalah takwa. Bahkan, takwa menjadi pintu dimudahkannya urusan-urusan kita di dunia dan di akhirat. Sekaligus, takwa adalah jalan dibukakannya pintu ilmu. Orang-orang yang bertakwa akan mudah mendapatkan ilmu-Nya yang luas.

Lalu mengapakah takwa menjadi suatu gelar yang sangat prestisius? Secara historis, kalau kita membaca sejarah, kita akan menemukan ketakwaan sebagai pakaian yang mereka gunakan dan bekal yang mereka selalu siapkan di era kejayaannya. Kita pasti akan menemukan ketakwaan sebagai pakaiannya generasi terdahulu saat merintis kejayaan  dan membangun peradabannya.

Lihat saja, dengan bekal takwa, Khalifah Umar bin Khattab mampu menaklukkan Imperium Kisra Persia yang beragama Majusi. Dengan bekal Takwa juga, Daulah Abbasiyah berdiri berabad-abad memimpin peradaban dunia. Dengan takwa, Kerajaan  di Andalusia-Spanyol menjadi mercusuar dalam lapangan ilmu dan peradaban dunia. Dan dengan bekal takwa, kekhalifahan Turki Usmani tegak selama hampir mencapai enam abad. Bahkan berbekal pakaian takwa, Sultan Muhammad Alfatih mampu menaklukkan benteng Konstantinopel yang legendaris.

Dengan pakaian takwa yang digunakan, Sultan-sultan Turki Usmani mampu menggetarkan musuh-musuhnya. Dengan pakaian takwa, secarik surat dari Sultan Sulaiman Alqanuni dari Turki Usmani mampu membuat Raja Prancis menghentikan pesta maksiat rakyat Perancis.

Dan sebaliknya juga, kemunduran suatu generasi umat  adalah diakibatkan karena ditanggalkannya pakaian ketakwaan. Ketika pakaian takwa ditinggalkan, Umawiyah dan Abbasiah runtuh, Turki Usmani ambruk, Andalusia tinggal kenanangan. Tanpa takwa segenap bangsa, musuh-musuh  akan begitu mudah menerkamnya.

Lalu bagaimana konkretnya derajat takwa tersebut? Takwa seperti dijelaskan Nabi Muhammad saw memang terletak di hati, namun Allah Swt dalam Alquran telah menggambarkan begitu banyak karakteristiknya. Banyaknya karakteristik orang-orang yang bertakwa yang digambarkan dalam Alquran membuat upaya kita meraih gelar takwa dan juga memakaikan pakaian takwa kepada bangsa ini menjadi sesuatu yang mudah untuk dievaluasi tentang sudah sejauhmana upaya meraih takwa telah kita wujudkan.

Di antara kriteria takwa yang dijelaskan dalam Alquran adalah Beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat, Alquran, dan kitab-kitab yang lain dan para Nabi, menafkahkan sebagian hartanya, memerdekakan hamba sahaya, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, menepati janji, bersabar dalam kesempitan dan penderitaan (lihat: QS. al-Baqarah: 177).

Sementara dalam ayat lain, kriteria takwa yaitu manusia yang berdoa, bersabar, benar, tetap taat kepada Allah, menafkahkan sebagian hartanya di jalan Allah, istighfar di waktu sahur (lihat: QS. Ali Imran: 15-17). Ciri-ciri takwa berikutnya: “Menafkahkan sebagian hartanya di waktu lapang dan sempit, menahan amarahnya, pemaaf, apabila berbuat kejahatan (maksiat) ia segera bertobat, tidak meneruskan perbuatan kejinya padahal mereka mengetahuinya, berbuat kebaikan kepada orang lain.” (QS. Ali Imran: 133-135).

Selain ciri-ciri ini, juga terdapat banyak karakteristik lainnya dalam berbagai ayat dan hadis. Dengan karakteritik seperti ini, pertama marilah kita mengevaluasi diri kita masing-masing. Sudah melekatkah kriteria tersebut dalam diri kita masing-masing? Sudah luruskah akidah kita dan tidak ada lagi kesyirikan? Atau barangkali kita masih termasuk yang mendewakan nafsu, sudahkah kita menjadi orang-orang yang pemurah hati yang gemar menafkahkan rizki kita di jalan Allah, seperti berinfak dan berzakat?

Bukankah dengan berbagi maka Allah justru akan menambah rizki kita berlibat-lipat lagi seperti janjinya dalam surat al-Baqarah? Bukankah bangsa yang memiliki peradaban besar adalah suka membantu orang lain, bukankah Turki modern tidak menjadi miskin dengan membantu 1 juta pengungsi Suriah? Begitulah peranan kebaikan-kebaikan dalam membangun struktur dasar sebuah peradaban.

Dan, apakah kita sudah beribadah dengan taat dan juga mengajak keluarga dan juga masyarakat kita untuk mengerjakannya tanpa kelalaian? Bukankah ibadah adalah tiang agama sehingga yang meninggalkannya berarti mereka telah merobohkan tiang agama? Bagaimana jamaah beribadah wajib di sekitar kita, sudah penuh kah atau jamaahnya masih orang-orang yang sama, sementara yang lain cukup dari warungkopi menyaksikan jamaah beribadah? Jika demikian, lalu dimana peran kita dalam membangun peradaban?

Atau, sudahkah kita menjadi orang yang pemaaf? Sudahkah kita saling mengasihi sesama manusia, apalagi dengan saudara seiman dan seIslam? Atau barangkali kita masih suka bermusuhan dengan muslim lain, oleh sebab perbedaan cara pandang politik, aliran fikih dan atau suku?

Demikianlah, bahwa peradaban berbasis ketakwaan dibangun dengan susunan “batubata” kebaikan, sehingga kumpulan kebaikan tersebut akan membentuk sebuah tatanan masyarakat ideal yang siap hidup sebagai bangsa yang besar.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *