20 October 2020
  • 20 October 2020
Breaking News
  • Home
  • Redaksi
  • Tak Terapkan Protokol Kesehatan, Deklarasi KAMI Dinilai Jadi Zona Penularan Corona

Tak Terapkan Protokol Kesehatan, Deklarasi KAMI Dinilai Jadi Zona Penularan Corona

By on 20 August 2020 0 93 Views

Ket.gbr: Deklarasi KAMI di Tugu Proklamasi, Jakarta Pusat, pada 18 Agustus 2020, tidak menerapkan protokol kesehatan.

ROC — Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) bentukan Din Syamsuddin mendeklarasikan diri di Tugu Proklamasi, Jakarta Pusat (Jakpus). Hal tersebut dinilai kurang cermat karena pada pelaksanaannya tak menerapkan protokol kesehatan dalam rangka mencegah penularan virus Corona atau Covid-19, seperti adanya massa yang berkerumun, tak jaga jarak, dan tidak memakai masker dengan cara yang benar.

Kondisi tersebut disorot Satuan Tugas Penanganan Covid-19. Acara deklarasi itu dinilai menjadi zona risiko penularan virus Corona.

“Yang terkini pada hari ini ada aksi masyarakat dari deklarasi Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) di Tugu Proklamasi di Jakarta. Dan ini juga terlihat kerumunan massa yang cukup besar dan sangat berdekatan, sebagian ada yang menggunakan masker, dan cukup banyak yang tidak menggunakan masker atau maskernya digunakan dan diturunkan di dagu,” kata Jubir Satgas Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmita, dalam konferensi pers yang disiarkan di akun YouTube Sekretariat Presiden, Jakarta, Selasa (18/8).

“Hal-hal seperti ini kami mohon sekali lagi perhatian anggota masyarakat bahwa apa yang kita capai secara bersama dan berusaha susah payah, yang tadi ditunjukkan dengan zonasi risiko itu menggambarkan tingkat penularan,” sambung Wiku.

Wiku menuturkan, jika kondisi seperti saat deklarasi KAMI terjadi lagi, akan muncul klaster Corona baru. Wiku berharap para pihak berpartisipasi menjadikan Indonesia dalam situasi aman dari ancaman penularan Corona.

“Apabila kejadian seperti ini terulang, maka klaster yang tadi dipertanyakan banyak pihak, itu akan muncul dan ini harus kita cegah agar betul-betul kondisi aman Covid di Indonesia bisa terjadi,” ucap Wiku.

Wiku memohon agar masyarakat dari seluruh elemen berperilaku sesuai protokol kesehatan. Wiku menilai masih ada masyarakat yang mengesampingkan protokol kesehatan ketika bereuforia.

“Jadi mohon agar disiplin menggunakan masker, jaga jarak karena apa yang sudah terjadi sebuah refleksi dari kegembiraan yang ada di masyarakat sehingga lupa atau menyampingkan protokol kesehatan,” ujar Wiku.

Hal yang sama disorot Ketua DPP Golkar Ace Hasan Syadzily. Ace menilai acara deklarasi KAMI tak menjadi teladan bagi masyarakat.

“Model deklarasi dengan mengumpulkan orang banyak atau massa, apalagi dengan mengabaikan protokol kesehatan karena sulit dihindari untuk tidak menjaga jarak, bukan saja telah menyalahi aturan, tetapi sungguh tidak menunjukkan keteladanan bagi rakyat yang diatasnamakannya,” tutur Ace kepada wartawan.

Ace menilai deklarasi yang dilaksanakan tanpa mengindahkan protokol kesehatan adalah hal memalukan. Pasalnya, lanjut Ace, masyarakat sendiri berupaya menahan diri untuk tidak merayakan HUT RI ke-75 dengan kemeriahan seperti tahun-tahun sebelumnya.

“Malu kepada rakyat. Rakyat saja saat ini yang biasanya merayakan kemeriahan HUT Kemerdekaan RI dengan berkumpul dan mengadakan berbagai kegiatan, mereka menahan diri untuk tidak menggelarnya karena mereka sangat menyadari bahwa saat ini dihindari untuk mengadakan kegiatan yang dapat menimbulkan kerumunan yang berakibat pada penularan Covid-19,” ungkap Ace.

Ace setuju bila hak berkumpul dan menyuarakan pendapat dijamin di negara demokrasi. Kendati demikian, Ace berharap inisiator acara memahami kondisi Tanah Air yang masih dalam masa pandemi Corona.

“Sebagai sebuah gerakan penyelamatan, pertanyaannya, apanya yang perlu diselamatkan? Sejauh ini, pemerintahan Jokowi ini merupakan produk dari mekanisme demokrasi yang telah sejalan dengan konstitusi kita dan hasil dari pemerintahan rakyat Indonesia,” pungkas Wakil Ketua Komisi VIII DPR ini.

(red)

 

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *