31 October 2020
  • 31 October 2020
Breaking News

Syarat Negara Ingin Maju Adalah Bertakwa

By on 26 June 2020 0 164 Views

Oleh : Mayjen TNI (P) Dr. Ir. H. Suharno, M.M

 

Seluruh rakyat pastinya mendambakan kehidupan bangsa yang maju, adil-makmur, damai, dan berdaulat.  Sangatlah tepat kita umat Islam untuk mentadaburi kiat dari Allah tentang cara memajukan dan mensejahterakan bangsa.  Diantaranya ada dalam Firman Allah SWT ;

Dan sekiranya penduduk suatu negeri beriman dan bertaqwa, pasti Allah akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan ayat-ayat Kami, maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan”. QS. Al-A’raf (7), ayat-96.

Lalu, apa hubungannya antara ketaqwaan dengan kemajuan bangsa?.   Secara prinsip, taqwa artinya adalah menjalankan seluruh yang diperintahkan Allah dan menjauhi semua larangan-Nya karena iman dan ikhlas kepada Allah.  Sebagaimana kita maklumi, bahwa perintah Allah itu bukan hanya berupa ibadah mahdhoh seperti sholat, puasa, zakat, dan haji.  Tetapi, juga mencakup muamalah seperti berbuat baik dan adil kepada sesama insan serta mahluk lainnnya (rahmatan lil a’lamin), bekerja keras, mencintai ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), jujur,  amanah, dan etos kerja unggul serta akhlak mulia lainnya.

Allah SWT mewajibkan umatnya untuk menuntut, menguasai, dan menerapkan IPTEK dalam menjalani roda kehidupan di dunia.  Rasulullah saw bersabda  di banyak hadits, antara lain: “Menuntut ilmu itu wajib bagi mukmin dan mukminat”;  “Tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri China”; dan  “Apabila engkau ingin hidup sukses/bahagia di dunia, maka harus dengan ilmu, jika engkau ingin hidup bahagia di akhirat pun harus dengan ilmu”.  Lebih dari itu, begitu banyak ayat Al-Qur’an yang memerintahkan manusia untuk menuntut ilmu dan memuliakan ilmuwan.  Contohnya,

“ … Katakanlah, apakah sama orang-orang yang berilmu (mengetahui) dengan orang-orang yang tidak berilmu?.  Sesungguhnya, hanya orang yang berakal sehat yang dapat menerima pelajaran ” (QS. Az-Zumar: 9).

“… Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu (berlimu) beberapa derajat …” (QS. Al-Mujadalah: 11).

Agama Allah, Islam juga sangat menganjurkan umatnya untuk bekerja keras dan profesional.  Bertebaran ayat-ayat dalam Al-Qur’an yang menganjurkan manusia untuk bekerja keras, profesional, dan tidak menyia-nyiakan waktu.  Contohnya,

Apabila sholat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah (bekerjalah) kamu di bumi, carilah karunia Allah dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya” (QS. Al-Jumu’ah: 10).

Maka apabila engkau telah selesai (dari suatu urusan), segeralah (tetaplah) bekerja keras untuk urusan yang lain” (QS. Asy-Insyirah).

“ … Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum, sebelum mereka mengubah keadaan mereka sendiri …” (QS. Ar-Ra’d: 11).

Suatu hari Nabi Muhammad SAW “mengangkat tangan sahabatnya, Saad yang lembam karena seharian bekerja mamahat batu, dengan mengatakan demi Allah bahwa tangan ini tidak akan pernah tersentuh api neraka” (Hadits).  Singkatnya, sedemikian hebat Islam memuliakan mukmin yang bekerja keras dan profesional.

Sementara itu, larangan Allah selain berupa meninggalkan sholat, puasa, dan ibadah mahdhoh lainnya.  Juga semua jenis kemaksiatan dan akhlak buruk, seperti membunuh orang tidak sesuai syar’i, mencuri (korupsi), berjudi, mengkonsumsi narkoba dan minuman keras, berzinah, memakan riba, malas, boros (konsumtif), tidak mencintai ilmu, pembohong, dzalim, dan tidak menyayangi serta menghormati sesama insan. Di dalam banyak ayat Qur’an dan Hadits juga dinyatakan dengan tegas tentang implikasi (siksaan) bagi mereka yang melanggar larangan Allah, baik berupa penderitaan di dunia seperti perasaan gelisah, sakit-sakitan, dan keluarga menjadi berantakan maupun di akhirat berupa sikasaan api neraka.  Dan, bentuk siksaan yang paling ringan di neraka adalah berupa “seseorang dipasang terompah di kakinya, dan mendidih ubun-ubunnya” (Hadits).

Oleh karena itu, bagi muslim yang benar-benar beriman dan bertaqwa kepada Allah tidak mungkin akan berbuat jahat (dzalim) terhadap sesama, membunuh orang lain tanpa alasan syar’i (teroris), melakukan korupsi, membohongi orang  lain, malas, dan enggan menuntut ilmu.  Sebaliknya, dia akan menjadi insan pekerja keras, rajin menuntut ilmu, produktif, ikhlas, senang menolong dan berbagi kelebihan kepada sesama insan, dan merawat lingkungan hidup.

Bagi muslim dengan kualitas iman dan taqwa yang tinggi, yakin betul bahwa hanya iman, taqwa, dan amal saleh (etos kerja unggul dan akhlak mulia) lah yang menjamin keberhasilan serta kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.  Sebaliknya, bagi mereka yang tidak beriman, melakukan yang dilarang Allah, dan berbuat maksiat (dosa), maka bukan hanya sengsara di dunia, di akhirat akan menjadi penghuni neraka, penderitaan dan siksa abadi.

Bayangkan, sebuah negara yang semua atau mayoritas pendukuknya beriman, taqwa, beretos kerja unggul dan berakhlak mulia, niscaya negara semacam ini akan menjadi maju, sejahtera, damai, dan berdaulat (baldatun toyyibatun wa robbun ghofur).  Itulah negara-negara muslim di masa kejayaan umat Islam (the golden age of moslem), dari Fatukh Makkah (656 M) sampai sebelum 1750-an.  Sayang, sejak runtuhnya Kekhilafahan Islam terakhir di Turki pada 1924 sampai sekarang, belum ada satu pun negara Islam atau negara yang mayoritas penduduknya muslim yang penduduknya benar-benar beriman, taqwa, dan berakhlak karimah.  Semoga ibadah puasa kita diterima Allah SWT, sehingga kita menjadi mukmin yang taqwa, dan membantu secara signifikan dalam mewujudkan negeri yang maju, adil-makmur, damai, berdaulat, dan diridhai Allah SWT.

 

 

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *