20 October 2020
  • 20 October 2020
Breaking News
  • Home
  • Redaksi
  • Suryani Protes Dikabarkan Batal Dampingi Bobby, Ini Tanggapan DPD Gerindra

Suryani Protes Dikabarkan Batal Dampingi Bobby, Ini Tanggapan DPD Gerindra

By on 9 August 2020 0 110 Views

Ket.gbr: Ketum Partai Grindra Prabowo Subianto saat menyampaikan pidato politiknya (dok.liputan.6)

ROC — Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Sufmi Dasco Ahmad menyatakan, partainya mengusung Bobby Nasution dan Aulia Rahman dalam pemilihan kepala daerah Kota Medan pada Desember 2020 mendatang. Meski belum diumumkan, namun hal tersebut telah membuat salah satu candidat calon Wali Kota, yaitu Suryani Paskha Naiborhu meradang.

Pasalnya Suryani, yang masih merupakan Pariban (anak perempuan dari saudara laki-laki pihak ibu dalam Suku Batak) dari Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan ini, merasa dirinya yang berhak mendampingi Bobby.

Alasannya, ia mengikuti seluruh tahapan, mulai penjaringan, pemaparan visi dan misi, fit and proper test sampai survei elektabilitas dan popularitas survei di DPD Provinsi Sumut.

Menanggapi protes Suryani, Wakil Ketua DPD Partai Gerindra Sugiat Santoso mengatakan, segala keputusan rekomendasi pencalonan pilkada diserahkan ke Ketua Dewan Pembina Prabowo Subianto.

Secara administrasi yang merekomendasikan finalnya adalah DPP, yaitu Ketua Umum Prabowo Subianto dan Sekretaris Jenderal Ahmad Muzani.

Proses yang dilakukan di tingkat bawah adalah penjaringan. Menurutnya, di Pilkada Kota Medan, banyak bakal calon yang mendaftar ke Gerindra, bukan hanya Suryani Paskah Naiborhu.

Setelah semua tahapan dilaksanakan, DPD Partai Gerindra Sumut mengusulkan beberapa nama, bukan hanya satu nama untuk menjadi bahan pertimbangan memutuskan rekomendasi final.

“Ya, apa pun keputusan dari DPP, kita sebagai kader tetap tunduk, patuh dan mengamankan,” kata Sugiat.

Terkait tudingan Suryani bahwa Aulia tidak mengikuti semua proses dan tahapan yang dilewatinya, Sugiat menyebutkan ada dua proses yang berlaku. Pertama, proses dari bawah ke atas atau buttom up dan dari atas ke bawah atau top down.

Dua proses ini menjadi otoritas DPP untuk memutuskan. Tidak hanya di Kota Medan, tetapi juga di beberapa daerah lain juga mengalami hal yang sama.

“Ya, tidak ada masalah, namanya politik,” ucapnya.

Menurut Sugiat, meski keputusan finalnya berada di KPU, namun dia sudah mendapat informasi dari DPP dan sudah disampaikan Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Sufmi Dasco Ahmad bahwa Aulia Rahman diputuskan mendampingi Bobby Nasution. Alasan keputusan itu belum disampaikan kepada Suryani, Sugiat beralasan karena secara administrasi belum selesai.

“Apa yang mau disampaikan? Secara administrasi kita menunggu keputusan DPP, misalnya memfinalkan Bobby Nasution-Aulia Rahman, ya kita wajib menyampaikannya, bukan hanya ke kandidat, tetapi ke seluruh infrastruktur partai,” tambahnya.

Sugiat mempersilakan Suryani untuk melakukan lobi-lobi ke DPP Gerindra karena keputusannya belum final dan belum ditetapkan oleh KPU. Sebab, kata dia, dalam politik tidak ada yang tidak mungkin.

“Dalam politik, tidak ada yang tidak mungkin, ya silakan saja misalnya Kak Suryani mau melakukan proses lobi-lobi ke DPP. Namanya politik, sebelum ditetapkan KPU, kita belum bisa memastikan siapa calon wali kota dan calon wakil wali kota kita. Kak Suryani silakan memperjuangkan hak politiknya,” katanya lagi.

Soal biaya survei Rp 20 juta, Sugiat membenarkannya karena untuk survei memerlukan biaya yang terbilang mahal. Biayanya tidak mungkin dibebankan kepada partai.

Survei itu untuk mengukur bagaimana elektabilitas dan popularitas calon setelah bersosialisasi. Jadi ini berlaku untuk semua calon yang mendaftar.

Terkait asumsi Suryani yang merasa tak terpilih sebagai bakal calon pendamping Bobby karena berasal dari golongan minoritas, Sugiat membantahnya.

Dia mengatakan, di beberapa daerah banyak calon yang berpasangan namun berbeda keyakinan.

Ia menegakan bahwa kalau tidak ada urusan SARA dalam menentukan calon yang diusung. Urusan yang sebenarnya adalah bagaimana menuntuskan program-program pembangunan.

“Kalau dikatakan Gerindra mengedepankan politik SARA, saya secara tegas membantah itu. Kalau di Kota Medan, Bang Bobby dipasangkan dengan Bang Aulia, tidak ada kaitannya dengan politik identitas apa pun. Tapi lebih berkaitan kepada kepentingan pembangunan Kota Medan,” pungkas Sugiat. (Red)

 

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *