5 December 2020
  • 5 December 2020
Breaking News
  • Home
  • Redaksi
  • Survey UNDP : Beban Ganda Masyarakat Sulteng dan Lombok, Gempa dan Covid-19

Survey UNDP : Beban Ganda Masyarakat Sulteng dan Lombok, Gempa dan Covid-19

By on 30 October 2020 0 54 Views

Memperingati hari internasional pengurangan resiko bencana dan hari internasional pemberantasan kemiskinan, UNDP Indonesia mengadakan diskusi bulanan SDG Talks bertemakan Youth are Ready: tackling the double burden of poverty and natural disasters melalui zoom webinar dan juga ditayangkan secara langsung melalui kanal youtube tempodotco, Jumat (30/10). (foto: Tempo)

ROC – Dari hasil survei yang dilakukan oleh UNDP, UNICEF dan Smeru Institute, sekitar 47,2 persen rumah tangga di Sulteng dan NTB yang terkena dampak bencana alam dan pandemi Covid-19 telah kehilangan mata pencaharian atau mengalami penurunan pendapatan. Hal ini menjadi beban ganda untuk mereka yang masih berusaha bangkit dari bencana gempa di tahun 2018.

Indonesia, negara kepulauan yang letaknya berada diantara tiga lempeng utama dunia, yaitu lempeng Indo Australia, lempeng Eurasia, dan lempeng Pasifik, menjadi salah satu negara yang paling rawan bencana mulai dari letusan gunung berapi, gempa bumi, tsunami, banjir dan tanah longsor.

Pengentasan Kemiskinan dan Pengurangan Resiko Bencana menjadi perhatian dari UNDP Indonesia. Hal ini mendorong UNDP Indonesia untuk mengadakan diskusi bulanan virtual, SDG Talks yang bertemakan “Youth are Ready: Tackling the Double Burden of Poverty and Natural Disasters” secara daring, pada Jumat (30/10).

Wakil Kepala Perwakilan UNDP Indonesia, Sophie Kemkhadze, mengatakan bahwa bencana bisa menjadi penghambat laju pembangunan dan menyebabkan kemunduran ekonomi, khususnya pembangunan menuju pengentasan kemiskinan.

“Karena itu, kita harus menciptakan ketahanan masyarakat dengan memberdayakan mereka agar memiliki daya lenting (bounce back) yang lebih tangguh dalam menghadapi bencana,” ujarnya, dilansir dari Tempo.

Data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melansir pada 2019 tercatat 3.768 kali bencana alam seperti gempa yang disertai tsunami dan likuifaksi di Sulawesi Tengah dan Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Pada 2020, pandemi Covid-19 ikut meluluhlantakkan perekonomian masyarakat Indonesia. Kondisi ini meningkatkan angka kemiskinan, sebagai akibat dari berkurangnya lapangan pekerjaan.

Project Manager Programme for Earthquake and Tsunami Infrastructure Reconstruction Assistance / Program Bantuan Rekonstruksi Prasarana Gempa dan Tsunami (PETRA) UNDP Indonesia, Budhi Ulaen mengatakan, beban ganda yang dihadapi masyarakat di Sulteng dan NTB tersebut disiasati dengan kegiatan Cash for Work untuk kelompok Rumah Tangga Miskin.

Untuk meringankan beban masyarakat tersebut mereka mendapat pekerjaan sementara.

“Namun, pandemi Covid-19 juga menjadi beban ganda bukan saja pada masyarakat miskin tapi juga meluas pada penyintas bencana pada kelompok menengah bawah,” katanya.

Hasil riset yang dilakukan UNDP bersama UNICEF dan Smeru Institute, terhadap 887 responden yang tersebar di Lombok Timur, Lombok Utara, Sigi dan Palu pada bulan Juli-Agustus 2020, menunjukkan bahwa 47,2 persen rumah tangga berpenghasilan kurang dari Rp 1 juta terkena dampak pandemi Covid-19 karena kehilangan pekerjaan.

“Sekitar 82,7 persen dari keluarga ini tidak memiliki tabungan,” tutur Rima Prama Artha, Ekonom UNDP Indonesia.

Adapun UNICEF mendorong peran generasi muda untuk menumbuhkan jiwa wirausaha sehingga dapat mendorong perekonomian lokal dan bisa memberi dampak pengganda (multiplier effect) kepada lingkungan sekitar.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan ketangguhan masing-masing daerah berbeda dalam menghadapi bencana.

“Pemulihan tidak hanya fisik bangunannya, tapi juga manusianya, baik dari segi ekonomi, sosial, pendidikan, dan ketahanan pangan,” kata Lilik Kurniawan, Deputi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BNPB.

BNPB bekerjasama dengan UNDP dalam tiga hal. Pertama, penyusunan basis data dan informasi yang akurat. Untuk  pasca bencana, UNDP terlibat dalam proses penyusunan Jitupasna (Pengkajian Kebutuhan Pasca Bencana) sebagai dasar perencanaan proses rehabilitasi dan rekonstruksi. Kedua, untuk memahami permasalahan dalam lingkup penyintas, UNDP melakukan proses konsultasi dengan para pemangku kepentingan. Ketiga, rencana penanganan yang tepat sasaran dan bermanfaat.

UNDP juga secara rutin melakukan koordinasi dan komunikasi rutin dengan pemerintah daerah, masyarakat, lembaga pembangunan internasional, penyandang dana, dan organisasi non-pemerintahan yang bekerja di lokasi sasaran. Khusus untuk penanganan pandemi Covid-19, UNDP terlibat aktif dalam kegiatan penilaian, studi, hingga desain intervensi.(red)

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *