23 April 2021
  • 23 April 2021
Breaking News
  • Home
  • Redaksi
  • Suplai Vaksin Berkurang, Ahli Epidemiologi UI: Strategi Pemerintah dari Awal Tidak Tepat

Suplai Vaksin Berkurang, Ahli Epidemiologi UI: Strategi Pemerintah dari Awal Tidak Tepat

By on 6 April 2021 0 30 Views

Epidemiologi FKM Universitas Indonesia Pandu Riono dalam tangkapan layar. Foto: VOA indonesia. 

ROC – Pemerintah menyatakan bahwa kecepatan program vaksinasi COVID-19 diperkirakan akan melambat karena adanya embargo vaksin dari negara-negara produsennya.

Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan laju kecepatan vaksinasi COVID-19 di Tanah Air akan berkurang. Hal ini disebabkan, adanya gelombang ketiga atau third wave kenaikan kasus aktif COVID-19 di negara-negara produsen vaksin sehingga vaksin tersebut hanya akan dipakai di negara mereka sendiri.

Menurut Menkes Budi, saat ini pemerintah sedang melakukan negosiasi dengan produsen-produsen vaksin tersebut agar suplai vaksin tidak berkurang secara drastis. Budi berharap pada Mei nanti, pengiriman vaksin bisa berjalan dengan lancar.

Terkait hal tersebut, ahli Epidemiologi dari Universitas Indonesia (UI) Pandu Riono mengungkapkan seharusnya dari awal pemerintah Indonesia bisa bernegosiasi untuk mendapatkan lisensi atau izin dari produsen vaksin untuk bisa membuat vaksin di tanah air. Dengan begitu, Indonesia tidak bergantung 100 persen pada impor vaksin COVID-19.

Strategi serupa, kata Pandu sudah dilakukan oleh negara-negara lain seperti India yang memperoleh lisensi untuk membuat vaksin AstraZeneca, dan juga Brazil yang memperoleh izin membuat vaksin Sinovac di negaranya sendiri.

“Mikirnya logika saja, semua orang butuh. Kenapa kita gak bikin sendiri saja, Kita kan bisa jual juga. Makanya sekarang Afrika pengen bikin sendiri juga untuk kebutuhan Afrika. Mereka bernegosiasi untuk investasinya ke pabrik vaksin, dia gak mau dapat vaksin utuh,” ujar Pandu, dikutip hari ini, Selasa (6/3).

Lebih jauh dijelaskan Pandu, strategi vaksinasi COVID-19 yang dilakukan pemerintah dari awal tidak tepat, karena berdasarkan kategori pekerjaan yang beresiko tinggi terpapar virus corona. Menurutnya, strategi yang tepat adalah vaksinasi berdasarkan kelompok umur, di mana kelompok lansia yang seharusnya mendapatkan prioritas vaksinasi setelah tenaga kesehatan, karena angka kesakitan dan angka kematian paling besar berasal dari lansia.

Dengan keterbatasan stok vaksin yang ada pada saat ini, Pandu menyarankan semuanya diberikan kepada lansia.

“Sekarang kan gini karena terbatas, sisa vaksin yang ada berikan semua pada lansia. Jadi pandeminya menjadi lebih lega, maksudnya rumah sakit kosong, kematian minim, kan orang nanti ada harapan. Jadi sekarang fokus ke sisa vaksin yang ada untuk suntikan kedua yang sudah terlanjur, kemudian lansia,” pungkasnya.

Red

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *