7 July 2020
  • 7 July 2020
Breaking News
  • Home
  • Headline
  • Suharno, Jadi Jenderal Gara-Gara Idenya Ditolak Mendikbud Saat Kuliah

Suharno, Jadi Jenderal Gara-Gara Idenya Ditolak Mendikbud Saat Kuliah

By on 26 November 2019 0 3971 Views

Jakarta, ROC – Dikalangan militer, siapa tidak mengenal Mayjen TNI (Purn) Dr. Ir. H. Suharno, M.M. Mantan Kepala Badan Perbekalan TNI tahun 2011-2013 dan jabatan terakhir sebagai Perwira Staff Ahli Tk. III, Bid. Polkamnas, Panglima TNI, 2013 dan Ketua Desk Papua. Siapa sangka dahulunya, beliau pernah ditolak mentah-mentah oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) saat punya ide dan gagasan yang dianggap bisa memicu demonstrasi.

Suharno muda, saat itu di tahun 1977 diterima sebagai mahasiswa IPB dengan bebas test (PMDK). Walau merasa berat meninggalkan kampung halaman tercinta, Jetis, Karanganyar, Solo, kota kelahiran dan dibesarkan dari sekolah TK, SD 1, SMP 1, SMA 1 selama 19 tahun.

Yang lebih beratnya lagi adalah meninggalkan lbunda tercinta yang mulai sakit-sakitan, yang sudah diderita sejak 1958. Kondisi kesehatannya sudah mulai menurun dan bisa dikatakan parah.

Perjalanan dari Solo ke Bogor terasa jauh, hari-hari di Bogor terasa panjang, kerinduan kepada orang tua sangat terasa. Kekhawatiran kesehatan lbu sangat besar, was-was kalau lbu dipanggil Yang Kuasa, tidak bisa menunggu, menuntun, membaca, menyebut nama Allah. Kenapa sekolah jauh-jauh, tidak mengambil yang dekat saja, di UNS Solo misalkan?. Pikiran Suharno berkecamuk, antara kembali ke kampung halaman dan bersekolah di Solo atau sejauhnya di Yogyakarta. Tetapi bagaimana nanti pandangan IPB, kalau sudah diterima bebas test, kemudian kabur meninggalkan kampus. Kasihan adik-adik kelas nanti, bisa-bisa tidak diberi jatah bebas test lagi. Harus bertahan untuk nama baik sekolah SMA Karanganyar.

“Untuk sedikit menghilangkan rasa kerinduan, saya mencoba aktif di berbagai kegiatan kampus, seperti mengikuti Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) HMI mempererat silaturahmi sesama mahasiswa seangkatan dan kakak-kakak angkatan. Bermanfaat sekali mendapat bimbingan belajar oleh kakak-kakak angkatan. Melatih berorganisasi, keberanian menyampaikan ide-ide, gagasan-gagasan lisan maupun tertulis,” ujar Suharno, saat berbincang dengan ROC di kediamannya yang asri,

Lanjutnya, bersama dengan Rochman Damhuri, teman seangkatan, kursi di Babakan Gunung Gede bersampingan, sering bertemu saat sholat malam di masjid dekat indekost, menjadi pengurus Lembaga Pertanian Mahasiswa Islam HMI. Kuliah di Fakultas Teknologi Pertanian jurusan Teknologi Hasil Pertanian/ (Pangan dan lndustri).

Hampir setiap hari kegiatannya kuliah dan praktikum di laboratorium. Timbul pemikiran, laboratorium pengolahan pangan pada hari libur dipakai praktek mahasiswa untuk produksi dan dijual ke pasar umum, sehingga para mahasiswa sudah berlatih produksi, pemasaran/marketing, keuangan dan memimpin perusahaan sebagai “Direktur”.

Ide ini dilontarkan pada kampanye pemilihan Ketua Umum lkatan Mahasiswa Teknologi Hasil Pertanian (IMALOSITA) IPB TA 1980/1981. Mendapat sambutan yang baik dari para mahasiswa Tk.ll, Ill dan IV, serta Dosen, pejabat Jurusan dan Fakultas. Suharno terpilih sebagai Ketua Umum IMALOSITA IPB 1980/1981, sebagai Wakil Ketua Anton Apriantono dan Soedarsono. Mendirikan lndustri Mini IMALOSITA yang melaksanakan kegiatan sesuai dengan rencana, yaitu sebagai arena latihan usaha/bisnis mahasiswa untuk mendapatkan dana/uang. Tahun 1981, menyelenggarakan Seminar Nasional Pemanfaatan Limbah lndustri Hasil Pertanian. Berhasil keluar sebagai pemenang Iomba inovatif produktif mahasiswa Tingkat Jawa Barat dan Tingkat Nasional.

Dalam rangka menyebarluaskan ide profesional menumbuhkan jiwa wirausaha dengan berlatih sejak masih kuliah, praktek menduduki aneka jabatan secara bergantian dalam usaha nyata industri mahasiswa maka menyiapkan Kongres lkatan Mahasiswa Teknologi Hasil Pertanian/lndustri/Pangan Indonesia, namun gagal karena tidak diijinkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yaitu Prof. DR. Daud Yusuf, di era Orde Baru NKK, BKK, dengan pertimbangan khawatir keamanan/demonstrasi.

Tahun 1982 lulus, meninggalkan kampus tercinta. Saat itu terbersit dalam benak Suharno, “Jika Ayahku Jenderal bisa menjelaskan kepada Bapak Menteri !” maka “Aku harus jadi Jenderal’. Adanya lulusan sarjana yang masuk militer/TNI/ABRI yang bisa menduduki jabatan penting berpangkat Perwira Tinggi Bintang Tiga, seperti Letjen Sudharmono (Wapres), Letjen Azwar Anas (Menhub), Letjen Bustanil Arifin (Kabulog/Menkop), Letjen Murdiono (Mensekkab/Mensekneg), Letjen Ginanjar Kartasasmita (Kabapenas/Menteri), dan lain-lain, menjadi motivator untuk masuk militer.

Setelah lulus, Suharno mendaftarkan diri dan dinyatakan lulus seleksi test Caton Siswa Sepamilwa TA 1982/1983. kemudian dididik di Secapa AD, Hegarmanah, Bandung. (Bersambung)

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *