22 May 2019
  • 22 May 2019
Breaking News

Suharno Caleg DPD RI Dapil Jabar, Ungkap Keistimewaan Hari Asyura

By on 22 September 2018 0 117 Views

Bandung, ROC – Berpuasa di hari Asyura pada bulan Muharram ini, dosa yang telah kita perbuat selama satu tahun akan dimaafkan. Hari Asyura dapat dijadikan momen untuk memotivasi bangsa,terutama menjelang pemilu 2019.

Hal tersebut diungkapkan oleh Mayjen TNI (Purn) DR.Ir.H. Suharno, MM Calon Anggota DPD RI Dapil Jawa Barat dalam khutbah jumatnya di Masjid Caringin Garden, Jatinangor, Bandung, Jumat (21/09).

Beliau memaparkan, bulan Muharram adalah momen terbaik untuk meningkatkan kebaikan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Di bulan Muharram ini terdapat hari yang istimewa, yaitu hari ‘Asyura. Di hari tersebut umat Islam disunnahkan untuk berpuasa.

Hari Asyura adalah hari yang amat istimewa. Karena di hari Asyura dapat dijadikan momen yang baik untuk meniru akhlak para nabi, akhlak yang mulia, lemah lembut, dan menjunjung tinggi kasih sayang, dan kerukunan. Menghindari terhadap kejelekan, penghinaan, kekerasan, permusuhan, dan adu domba. Ingat, kebaikan di bulan ini dilipatgandakan pahalanya. Kejelekan di bulan ini dilipatkan siksa dan malapetakanya.

“Apalagi menjelang Pemilihan Presiden dan Pemilu Legislatif saat ini, banyak yang menebar kebencian, fitnah, hoax dan lain sebagainya, janganlah dihari yang baik ini dan seterusnya agar masyarakat tidak gampang terprovokasi,” ujarnya.

Lanjutnya, mengapa hari Asyura disebut istimewa? Dan Asyura artinya sepuluh? Badaruddin al-‘Aini dalam kitab Umdatul Qari’ Syarah Shahih Bukhari, juz 11, halaman 117, beliau menjelaskan sebuah pendapat bahwa di hari ‘Asyura, Allah SWT memberikan kemuliaan dan kehormatan kepada sepuluh nabi-Nya.

Yaitu (1) kemenangan Nabi Musa atas Fir’aun, (2) pendaratan kapal Nabi Nuh, (3) keselamatan Nabi Yunus dengan keluar dari perut ikan, (4) ampunan Allah untuk Nabi Adam AS, (5) keselamatan Nabi Yusuf dengan keluar dari sumur pembuangan, (6) kelahiran Nabi Isa AS, (7) ampunan Allah untuk Nabi Dawud, (8) kelahiran Nabi Ibrahim AS, (9) Nabi Ya’qub dapat kembali melihat, dan (10) ampunan Allah untuk Nabi Muhammad SAW, baik kesalahan yang telah lampau maupun yang akan datang.

“Suatu ketika seorang laki-laki bertanya pada Nabi, apa yang akan engkau perintahkan kepadaku wahai Nabi setelah saya berpuasa di bulan ramadhan? Nabi bersabda: Berpuasalah di bulan Muharram, Muharram adalah bulan milik Allah, di bulan itu Allah menerima taubat satu kaum dan menerima taubat kaum yang lainnya. Menurut Hadis Riwayat Tirmidzi,” ungkap Suharno.

Selain itu, Ibnu Majah meriwayatkan sebuah hadits sahih dalam kitab Sunan Ibnu Majah, juz 1 halaman 553, bahwa barang siapa puasa di hari ‘Asyura akan dihapus kesalahan satu tahun yang telah lalu.

Ibnu al-Jauzi dalam kitab at-Tabshîrah juz 2 halaman 6 menyimpulkan bahwa bulan Muharram adalah bulan yang mulia, hari ‘Asyura adalah hari yang mulia. Bulan Muharram adalah musim kebaikan, momen yang baik untuk melakukan perdamaian, momen yang baik untuk meningkatkan amal, sedekah, menyantuni anak yatim, dan menolong mereka yang membutuhkan. Bulan Muharram sebagai bulan awal tahun baru hijriah menjadi momen yang terbaik untuk melakukan hijrah, hijrah dari sifat yang tercela menuju sifat yang terpuji.

Dari pernyataan tersebut, mari kita bangkitkan motivasi kita untuk berubah dan berhijrah ke perilaku yang baik, semakin merekatkan persaudaraan, memanfaatkan potensi yang kita miliki sesuai dengan profesi masing-masing untuk membantu orang lain, membantu agama, dan membantu negara.

Seseorang hamba akan selalu mendapatkan perlindungan dari Allah SWT selama ia bermanfaat dan membantu kesusahan saudaranya. Semoga kita dapat menjadi orang yang selalu berhijrah menuju kebaikan dan menjadi orang yang bermanfaat untuk masyarakat, agama, dan bangsa. Allahumma Aamiin. (Red)

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *