22 May 2019
  • 22 May 2019
Breaking News

Sudut Pandang Suharno Menjadikan Jabar Makmur dan Barokah

By on 27 July 2018 0 82 Views

Bandung, ROC – Suatu negara yang maju, pastinya akan bisa terlaksana jika daerah yang berada di suatu negara sudah makmur dan maju. Negara bisa dikatakan makmur jika mempunyai banyak sektor pemasukan bagi kas negara untuk pembangunan. Pemasukan negara yang berlimpah juga akan bisa mensejahterakan rakyat. Semua hal itu bisa tercapai jika negara melakukan inovasi dalam membangun negaranya.

Menurut Calon Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Dapil Jawa Barat, Mayjen (Purn) DR. Ir. H. Suharno, MM, merupakan suatu rencana besar untuk bisa memakmurkan suatu negara, hal itu dapat terwujud jika ditopang oleh daerahnya yang sudah maju, makmur dan barokah.

“Disinilah peran kita untuk bisa memajukan dan mengembangkan daerah, khususnya daerah penyangga ibukota, seperti Jawa Barat ini, yang bersentuhan langsung dengan pemerintah pusat. Tugas kita agar Jawa Barat bisa lebih maju, berkah dan hebat,” ujar Suharno di Lembang, Bandung.Rabu (25/7).

Menurut mantan Staff Ahli Panglima TNI ini, menyebutkan bahwa beberapa factor yang harus dibenahi untuk mencapai tujuan tersebut bisa dilakukan dengan beberapa cara, diantaranya,  mengelola sumber daya alam secara mandiri, memanfaatkan sumber daya manusia, melakukan perdagangan dengan luar negeri, taat akan pajak, membangun komunikasi bilateral, mempermudah jalur birokrasi, mandiri, meminimalisir aturan dan regulasi, Menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, memiliki militer yang kuat, serta yang paling utama memiliki pemimpin yang jujur dan amanah.

“Suatu daerah yang makmur adalah daerah yang mampu memproduksi lebih banyak dari yang dibutuhkan, sehingga kelebihan hasil produksi tersebut diekspor, dan pada akhirnya akan menambah kemakmuran di daerahnya sendiri bahkan memakmurkan negara,” ujarnya.

Lanjutnya, beliau menyebutkan bahwa kekuatan ekonomi Jawa Barat bisa berasal dari struktur demografi penduduknya. Jawa Barat sejatinya memiliki potensi modal sosial (social capital) dan pasar domestik yang luar biasa besar.  Jabar dikaruniai Allah SWT modal dasar  berupa 46.497.175 jiwa penduduk dengan kualitas dasar yang bagus, yang berarti merupakan human capital dan potensi pasar domestik yang sangat besar.

“Kontribusi tenaga kerja sebagai alat membangun kekayaan suatu bangsa, menyatakan usaha tenaga kerja, peningkatan dalam produktivitas, dan pertukaran produk dalam pasar besar menjadi pertimbangan yang utama di balik suatu kemakmuran dan kekayaan suatu daerah,” paparnya.

Salah satu persoalan yang menghambat laju pertumbuhan usaha di Indonesia saat ini adalah seperti rumitnya birokrasi dan kepastian hukum yang tegas dan aturan yang jelas.  Masalah birokrasi perizinan di Indonesia sangat jauh dari efisien.

“Pelayanan publik di Indonesia masih tidak efisien dan buruk. Banyak sekali meja yang harus dilewati dalam mengurus administrasi serta membutuhkan waktu yang cukup lama dan bertele-tele,” ucapnya.

Namun, ada satu hal yang sangat penting dalam memakmurkan suatu daerah adalah, berpedoman kepada Pasal 33 UUD 1945 berbunyi ‘Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.

“Kalau mengikuti bunyi pasal itu harusnya kekayaan alam Indonesia dikuasai negara untuk kemakmuran rakyat. Namun ternyata Kekayaan alam Indonesia sudah diprivatisasi dan dikuasai oleh swasta baik domestik maupun asing, mereka yang menikmati hasilnya. kekayaan alam Indonesia dikuras asing dan perekonomiannya dikuasai asing. Contohnya untuk tambang emas dan perak di Papua, Freeport dapat 99% sementara 230 juta rakyat Indonesia harus puas dengan 1% saja,” Ujar Alumni S3 Pascasarjana UNJ ini.

Indonesia memiliki potensi kekayaan alam yang kaya raya, bukan hanya sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui juga sumber daya alam terbarukan. Semua ada di Indonesia ini.  Lahan subur untuk pertanian dan perkebunan, perairan luas yang menyediakan penghasilan bagi para nelayan, hutan lebat yang menyediakan pepohonan, cadangan minyak bumi, gas alam, batubara serta bahan tambang lain yang belum tereksplorasi.

“Alangkah kayanya Indonesia sekiranya potensi sumber daya alamnya, terutama sektor minyak dan gas atau migas, dikelola dengan baik. Angka minimal keseluruhan pemasukan negara dari migas, batubara, dan emas Rp20 ribu triliun per tahun. Kalau Rp20 ribu triliun dibagi angka jumlah penduduk, bayangkan berapa banyaknya. Karena itu kita dorong (negara) harus bisa ambil kepemilikan asing 60 persen jadi 40 persen,” kata Suharno.

Jumlah 20 ribu trilyun Itu angka minimal. Coba bandingkan dengan APBN-P Indonesia sekarang yang hanya sebesar Rp 1.500 triliun. Sebenarnya Indonesia bisa menjadi kaya raya dari kekayaan alam saja.

Namun untuk mewujudkan semua itu, kembali lagi kepada pemimpin di daerahnya masing-masing, Indonesia dan khususnya Jawa Barat memerlukan pemimpin yang memiliki rasa ingin  melihat negara dan rakyatnya makmur, seharusnya pemimpin harus ahli dan memiliki inovasi yang kreatif untuk memajukan segala aset yang dimiliki negara dan daerahnya.

“Pemimpin negara adalah faktor penting dalam kehidupan bernegara. Jika pemimpin negara itu jujur, baik, cerdas dan amanah, niscaya rakyatnya akan makmur. Sebaliknya jika pemimpinnya tidak jujur, korup, serta menzalimi rakyatnya, niscaya rakyatnya akan sengsara,” terangnya.

Mengakhiri pembicaraan, Jenderal Bintan Dua ini mengatakan bahwa kemajuan suatu daerah atau negara ditentukan oleh kebijakan pemimpinannya, jika seorang pemimpin mempunyai visi misi kedepan lebih maju, bukan sekedar mementingkan suatu kelompok atau golongan masyarakat. Maka kemungkinan besar Negara dan daerahnya tersebut mempunyai peluang untuk lebih maju, makmur, barokah dan hebat.  [RedROC]

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *