20 April 2021
  • 20 April 2021
Breaking News
  • Home
  • Redaksi
  • Simak Alasan Kenapa Suntik Vaksin Covid-19 Sinovac Harus 2 Kali

Simak Alasan Kenapa Suntik Vaksin Covid-19 Sinovac Harus 2 Kali

By on 11 January 2021 0 78 Views

Relawan dan Tenaga Kesehatan melakukan simulasi uji klinis vaksin Covid-19.

ROC — Vaksinasi Covid-19 dapat segera dilakukan setelah Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menerbitkan izin penggunaan darurat terhadap vaksin Covid-19 buatan Sinovac. Adapun proses penyuntikan harus dilakukan dua kali pada setiap penerima.

Ketua Pengurus Pusat Perhimpunan Alergi Imunologi Indonesia (PP Peralmuni) Iris Rengganis mengatakan suntikan vaksin Covid-19 buatan Sinovac harus dilakukan dua kali agar dapat memastikan vaksin tersebut efektif dalam membentuk antibodi.

Dia menyatakan bahwa vaksin Covid-19 ini bersifat inactivated atau mati sehingga tidak dapat berkembang biak. Namun, bukan berarti jika sudah disuntik sekali, maka tidak akan tertular virus Corona.

Pada jeda antara vaksin pertama dan kedua, kata Iris, penerima vaksin harus tetap disiplin menerapkan protokol kesehatan karena antibodi belum secara penuh terbentuk.

“Jangan sampai berpikir orang sudah sekali vaksin lalu sudah aman, lalu tidak menerapkan 3M lagi. Belum vaksin kedua, dia sudah tertular,” kata Iris dalam konferensi pers, Senin (11/1).

Lebih lajut, dia menyebut proses penyuntikkan juga tidak dapat dilakukan dalam satu kali dengan menggunakan dua dosis sekaligus. Menurutnya, suntikan vaksin Covid-19 harus dilakukan secara bertahap.

“Pembentukan pertama karena ini vaksin mati, dia butuh dua kali vaksin supaya antibodinya bisa sekaligus. [Pembentukan] sistem imun tidak bisa (disuntik) dua dosis sekaligus,” jelasnya.

Jika dipaksakan penyuntikan dua dosis dalam satu kali suntik, imbuhnya, dapat berakibat munculnya efek samping.

“Tunggu 2 minggu, 3M tetap kita pakai. Nanti antibodi akan full setelah dua kali suntik atau full dozed,” lanjutnya.

Sementara itu, Ketua Indonesian Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI) Sri Rezeki Hadinegoro menjelaskan setidaknya butuh sekitar 14 hari sampai 1 bulan agar antibodi dapat terbentuk setelah dua kali suntik vaksin.

“Paling tidak setelah 2 kali suntik [butuh] 14 hari sampai 1 bulan baru dia maksimal antibodi, maka antara itu, orang ini masih rentan, maka masker tidak boleh lepas,” jelasnya.

Pada hari yang sama, BPOM telah secara resmi memberikan izin Emergency Use Authorization (EUA) atau persetujuan penggunaan dalam kondisi kedaruratan untuk vaksin Covid-19 buatan Sinovac.

Kepala BPOM Penny K. Lukito mengungkapkan berdasarkan hasil analisis terhadap uji klinis Coronavac atau vaksin Covid-19 buatan Sinovac di Bandung, menunjukkan tingkat kemanjuran atau efikasi sebesar 65,3 persen.

Angka itu lebih rendah jika dibandingkan laporan hasil efikasi di Turki yang mencapai 91,25 persen dan di Brasil yang mencapai 78 persen. Hasil tersebut sudah sesuai dengan persyaratan WHO di mana minimal efikasi vaksin 50 persen.

Red

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *