Wednesday, May 18, 2022
Home DKI Jakarta Sidang Perdana Edhy Prabowo, Didakwa Terima Suap Rp 25 Miliar Lebih dari...

Sidang Perdana Edhy Prabowo, Didakwa Terima Suap Rp 25 Miliar Lebih dari Ekpsor Benur

Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo saat bersiap meninggalkan gedung KPK usai menjalani pemeriksaan di Jakarta. Edhy Prabowo hari ini menjalani sidang perdana, sebagai tersangka dalam kasus dugaan penerimaan suap perizinan tambak, usaha dan atau pengelolaan perikanan atau komoditas perairan sejenis lainnya tahun 2020.

Harmoni Media – Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan, Edhy Prabowo, menjalani sidang perdana dalam kasus suap ekspor benih lobster, yang digelar di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta hari ini, Kamis (15/4).

“Hari ini, sidang perdana terdakwa Edhy Prabowo dkk dengan agenda pembacaan surat dakwaan oleh jaksa penuntut umum KPK,” kata Pelaksana tugas juru bicara KPK Ali Fikri.

Ali mengatakan para terdakwa didakwa melanggar dua pasal yaitu, pertama Pasal 12 huruf a Undang-Undang RI Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dengan Undang-undang RI Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-Undang RI Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP jo Pasal 65 ayat (1) KUHP.

Atau kedua Pasal 11 UU Tipikor jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP jo Pasal 65 ayat (1) KUHP.

KPK menetapkan tujuh orang menjadi tersangka dalam kasus korupsi ekspor benih lobster. Mereka adalah Edhy, Staf Khusus Edhy sekaligus Wakil Ketua Pelaksana Tim Uji Tuntas (Due Diligence) Safri, Staf Khusus Edhy sekaligus Ketua Pelaksana Tim Uji Tuntas (Due Diligence) Andreau Misanta Pribadi.

Selanjutnya, Amiril Mukminin selaku sekretaris pribadi Edhy Prabowo, pengurus PT Aero Citra Kargo Siswadi, dan Ainul Faqih selaku staf istri Edhy. Seorang pemberi suap telah masuk ke tahap persidangan adalah Direktur PT Dua Putera Perkasa Pratama Suharjito. KPK mendakwa Suharjito menyuap Edhy Rp 2,1 miliar untuk mendapatkan izin ekspor benur.

Terima Suap Rp 25 Miliar Lebih

KPK kemudian mendakwa Edhy Prabowo menerima uang Rp 24,6 miliar dan US$ 77 ribu. Suap diberikan agar Edhy dan bawahannya mempercepat proses pemberian izin benih lebih lobster.

“Telah melakukan atau turut serta melakukan beberapa perbuatan yang harus dipandang sebagai perbuatan yang berdiri sendiri sehingga merupakan beberapa kejahatan,” kata jaksa KPK Ronald Worotikan.

Jaksa mengatakan uang US$ 77 ribu berasal dari Direktur PT Dua Putera Perkasa, Suharjito. Edhy menerima uang tersebut melalui Staf Khusus Menteri, Safri dan Sekretaris Pribadi Edhy, Amiril Mukminin.

Sementara uang Rp 24,6 miliar diterima dari para perusahaan ekspor benih lobster lainnya.

Uang diterima melalui Staf Khusus Menteri, Andreau Misanta Pribadi; Amiril Mukminin, Staf Pribadi istri Edhy, Ainul Faqih dan Komisaris PT Perishable Logistics Indonesia, Siswadhi Pranoto.

Atas perbuatannya, KPK mendakwa Edhy Prabowo melanggar Pasal 12 atau pasal 11 huruf a atau Pasal 11 Undang-Undang (UU) RI Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tipikor Juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP, Juncto Pasal 64 ayat (1) KUHP.

Red

Most Popular

Recent Comments