31 October 2020
  • 31 October 2020
Breaking News
  • Home
  • Redaksi
  • SBY : Lebih Elok Berprasangka Baik Ketimbang Berburuk Sangka

SBY : Lebih Elok Berprasangka Baik Ketimbang Berburuk Sangka

By on 13 October 2020 0 72 Views

Ket.gbr: Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (kiri) berbincang dengan Presiden Ke-5 Megawati Soekarnoputri (kanan) saat menghadiri pemakaman ibu negara Ani Yudhoyono di Taman Makam Pahlawan Nasional Utama (TMP) Kalibata, Jakarta, Minggu, 2 Juni 2019 lalu. ANTARA

ROC – Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengklaim selama 10 tahun menjabat sebagai presiden tidak pernah menuduh tokoh-tokoh oposisi menunggangi berbagai aksi unjuk rasa yang mengkritik pemerintah. Ia menilai lebih elok berprasangka baik ketimbang berburuk sangka.

“Suuzon enggak baik. Saya dulu menghormati semua, misalkan PDI Perjuangan beroposisi dengan pemerintahan saya, saya tetap menjaga silaturahmi dengan para petinggi PDI Perjuangan,” katanya dalam acara ‘Ngobrol Santai’ yang diunggah channel YouTube-nya, Senin (12/10).

Menurut SBY ia memiliki hubungan baik dengan Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri dan suaminya.

“Saya menghormati Ibu Megawati sebagai presiden sebelum saya, kakak saya, hubungan saya dengan almarhum Pak Taufik Kiemas juga baik, jadi gak ada masalah apapun,” tuturnya.

Dia menambahkan, seorang pemimpin, apalagi presiden, harus siap dikritik, difitnah, dan dihujat. Pemimpin harus kuat menghadapi serangan tersebut agar bisa menyelesaikan tugas yang diembannya secara tuntas.

“Saya tidak mudah untuk mengatakan yang menggerakkan ini, pasti ini yang beroposisi, bisa salah loh,” tuturnya.

SBY mengaku tidak memiliki jawaban jika ditanya mengapa pemerintahan saat ini terkesan menuduh pihak-pihak oposisi menunggangi berbagai macam unjuk rasa. Namun Presiden Indonesia ke-6 itu menuturkan kunci yang harus dimiliki setiap pemimpin dalam menghadapi ujian seperti itu adalah dengan cara tetap menghormati para pendahulu dan tidak berburuk sangka.

SBY juga membantah jika ia dianggap dalang unjuk rasa besar menolak UU Cipta Kerja yang berujung ricuh pada Kamis pekan lalu. SBY menjelaskan kalau pun dia memiliki kemampuan menggerakkan massa dan uang yang banyak untuk membiayainya, hal tersebut tidak akan dilakukannya.

“Saya tidak punya niat, tidak terpikir untuk melakukan sesuatu yang menurut saya tidak tepat dilakukan,” katanya.

Dituduh menunggangi demo UU Cipta Kerja, sama seperti tahun 2016

Presiden Indonesia ke-6 tersebut membantah tuduhan sebagai tokoh di balik demonstrasi menolak UU Cipta Kerja yang berujung ricuh pada Kamis pekan lalu. Ia menilai tudingan itu adalah fitnah.

SBY menuturkan hal ini sama seperti 2016. Saat itu ia dituduh menggerakkan massa menuntut Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama, yang dipidana atas kasus penistaan agama.

“Ya, tidak tahu saya, apa barangkali nasib saya dibeginikan terus,” ujarnya.

Mantan Ketua Umum Partai Demokrat itu menuturkan fitnah ihwal menunggangi demo UU Cipta Kerja sama saja dengan menghina masyarakat yang turun ke jalan untuk semata-mata menyampaikan aspirasinya.

“Kalau dianggap itu ditunggangi oleh orang seperti saya, digerakkan, dikasih uang mereka juga terhina, merasa dihina,” tutur SBY.

Ia meminta aksi saling memfitnah di antara anak bangsa dihentikan. Pasalnya fitnah adalah perbuatan yang mempermainkan kebenaran.

“Kalau kita senang dan suka memfitnah, senang mempermainkan kebenaran, sama dengan mempermainkan Tuhan,” tambahnya.

SBY meminta publik bertanya langsung kepada Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto yang sempat menyampaikan jika pemerintah tahu aktor di balik demo omnibus law. (red)

 

 

 

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *