4 April 2020
  • 4 April 2020
Breaking News

Sarasehan Membangun Identitas Jati Diri Bangsa Melalui Sejarah

By on 2 March 2020 0 57 Views

Jakarta, ROC – Adventure Documentary Festival Academy (ADFA) bersama Keluarga Pomparan Si Raja Oloan dan keluarga Sisingamangaraja, melaksanakan acara Sarasehan Membangun Identitas Jati Diri Bangsa Melalui Sejarah dengan tema ”De Laatste Sisingamangaraja”, yang diadakan di Auditorium Museum Nasional Indonesia di Jl. Medan Merdeka Barat, Gambir, Jakarta Pusat, Jumat (28/3).

ADFA adalah organisasi bergerak di bidang sejarah, seni, jelajah, dan budaya, yang diresmikan oleh Wakil Menteri Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 2013 di Museum Bank Indonesia. ADFA memiliki perhatian kepada generasi muda untuk memperjuangkan nilai-nilai luhur jati diri bangsa Indonesia diantaranya dengan mengenal sejarah leluhur Sisingamangaraja XII dan peradaban tanah Batak.

Acara tersebut didukung oleh Pelindungan Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia dan Museum Nasional Indonesia. Kegiatan dimaksudkan untuk mendukung persiapan riset dan collecting data Sisingamangaraja dari berbagai sumber, penerbitan buku, seminar, wisata sejarah, dan produksi film Sisingamangaraja XII. Acara ini merupakan komitmen awal mempertahankan file-file sejarah Sisingamangaraja dan peradaban tanah Batak yang tersebar di pelosok negeri, dikarenakan Sisingamangaraja tidak hanya dimiliki oleh masyarakat Batak saja, melainkan bangsa Indonesia, dan banyak pengagumnya. Meskipun masih banyak pula masyarakat kita belum mengenali tokoh pahlawan pejuang di tanah air. Misalkan Sisingamangaraja hanya dikenali melalui nama jalan maupun uang seribu. Maka melalui sarasehan ini dimaksudkan pula untuk menghargai jasa-jasa perjuangan Sisingamangaraja XII bersama panglima-panglimanya yang gugur mempertahankan tanah Batak.

Acara sarasehan terbagi menjadi dua sesi, sesi pertama mengangkat topik Jejak Perjuangan dan Kepahlawanan Raja Sisingamangaraja XII, keynote speaker Bridgen. TNI (Purn) Tarida Sinambela sebagai Ketua Umum Pomparan Si Raja Oloan, dan para pembicara terdiri dari Prof. Nicolaus Lumanauw, PhD. (Pembina ADFA), Raja Batu Parlindungan Sinambela (Cucu Sisingamangaraja XI), Iman Sutan Baringin Situmorang (peminat kebudayaan, putra dari Sitor Situmorang), Dra. Dedah Rufaedah Sri Handari, M.M (Pamong Budaya Madya Pelindungan Kebudayaan Kemendikbud), Agus Hariadi, S.H. M.Hum (Staf Ahli Menteri Bidang Hubungan Antar Lembaga Kemenkumham). Moderator Erick Brandie (Kompasiana) dan Nina Yusab (Pemerhati Kebudayaan).

Dalam sambutannya Agus Hariadi, S.H. M.Hum (kemenkumham), mengatakan Kekhawatiran bangsa pada era milenial ini adalah bagaimana generasi kita dapat melawan musuh-musuh seperti bahaya laten narkoba, sara, hoax, korupsi, maupun teknologi.

” Dahulu bangsa Indonesia memperjuangkan kemerdekaan dengan melawan penjajah Belanda. Kini momok terbesar bangsa kita adalah melawan pecandu dan pengedar narkoba. Generasi tua, muda, ibu, bapak, anak-anak, yang ada di penjara 70% terkena kasus narkotika, hal ini dapat diperangi melalui semangat kepahlawanan Sisingamangaraja,” ujar Agus.

Begitu juga dengan Bridgen TNI (Purn) Tarida Sinambela mengatakan “Di jaman milenial ini keteladan Sisingamangaraja ada tiga disebut Pulas. Pertama, mengusir penjajah, kedua, melarang, sombong, ketiga mengadakan negosiasi dengan raja-raja Batak. Nah pulas dalam jaman Milenial ini apa? Berantas Korupsi, Hindari Narkoba, pelihara jangan ada SARA. Dengan nilai semangat juang Sisingamangaraja mari kita terapkan” tuturnya.

Menjadi seorang Pimpinan, Raja, maupun Sultan tidaklah mudah, mereka orang terpilih. Melalui semangat perjuangan dan keyakinan akan keterlibatan pihak-pihak pemerintah maupun institusi dan juga bersama pihak keluarga Sisingamangaraja, ada Balai Pustaka yang dapat menerbitkan buku Sisingamangaraja, Kemendikbud, dan Pariwisata, maupun Museum, maka cita-cita dalam membangun kekuatan bangsa ini akan terwujud.

Dalam bidang pariwisata pun Prof. Nicolaus Lumanauw, PhD., menyampaikan akan mendatangkan tour operator berjumlah 135 orang untuk membuat track perjalanan Sisingamangaraja.

Pada sesi kedua mengangkat topik Rencana Produksi Film “De Laatst Sisingamangaraja”, dengan moderator DR. Rahajeng Widya SE. MM. CPC (Ahli Strategic Communication), dengan menghadirkan para pembicara: Astryd Diana Savitri (Ketua ADFA), Captain Andi Pakpahan (penggiat film), Haposan Bakara (researcher), Wilda Situngkir (Putri Indonesia Pariwisata), Adrianto Sinaga (sutradara & production designer cinema), Edmond Waworuntu (production designer cinema), Budi Suyanto, S.Sn., MSi (Kepala Trisakti Multimedia). Dari paparan Adrianto Sinaga dan Wilda Situngkir, mereka memiliki pengalaman yang sama, bahwa masih ada masyarakat kita lebih membanggakan kebudayaan negara lain dibanding negeri sendiri atau bahkan negara lain lebih mengenal hanya Bali saja. Maka dengan membuat film biopic mengenai sejarah kebudayaan Sisingamangaraja, diharapkan publik lebih peduli dan mengenali budaya Batak, bila perlu film yang dikemas nantinya berbahasa Batak. Membuat film Sisingamangaraja XII tentunya membutuhkan tayangan hiburan yang menarik tanpa mengesampingkan kejujuran dan nilai-nilai luhur jati diri yang ada pada tokoh tersebut. Maka sebelum memulainya akan diperkuat riset dan survey terlebih dulu, mengumpulkan sumber data, membuat novel maupun ensiklopedinya terlebih dulu sebelum melangkah ke film dokumenter maupun layar lebar.

Acara sarasehan dihadiri oleh PT Balai Pustaka (Persero), Mitsubishi Pajero Club Indonesia, Kemenko Maritim, Kemenpar, Mahasiswa Trisakti School of Multimedia, Akademi Televisi Indonesia, SMAN 90, SMKN 57, dan para komunitas sejarah budaya didukung oleh MAKSIM (Masyarakat Sejahtera Indonesia Maju), fashion designer Athan Siahaan yang menampilkan mode ulos terbaiknya di sesi hiburan peragaan busana.

Kegiatan sarasehan ini harapannya dapat menjadi pembelajaran sejarah yang didukung oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Semakin banyak para kreator memproduksi film biopic sejarah, maka dapat membantu mensosialisasikannya lebih luas kepada publik, namun tetap saja harus bersumber pada fakta yang akurat bersumber pada data terpercaya. Kelanjutan acara sarasehan “De Laatste Sisingamangaraja” ini rencananya akan diadakan seminar dan bedah buku pada bulan April mendatang.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *