27 May 2020
  • 27 May 2020
Breaking News
  • Home
  • Redaksi
  • PSBB DKI Bisa Berakhir 4 Juni, Ini yang Harus Diperhatikan di New Normal

PSBB DKI Bisa Berakhir 4 Juni, Ini yang Harus Diperhatikan di New Normal

By on 20 May 2020 0 16 Views

Foto ilustrasi (dok.idj/ROC)

Jakarta, ROC — Gubernur Jakarta Anies Baswedan berharap pembatasan sosial berskala besar (PSBB) bisa berakhir pada 4 Juni nanti, setelah itu warga bisa kembali beraktivitas dalam kondisi yang baru atau the new normal. Seperti apa wajah ‘the new normal’ Jakarta nantinya?

Istilah ‘the new normal’ dalam suasana pandemi COVID-19 sudah semakin sering terdengar belakangan ini. Mereka yang berbicara soal new normal adalah Kepala Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Doni Monardo, Juru Bicara Penanganan COVID-19 Achmad Yurianto, Presiden Joko Widodo (Jokowi), dan Anies Baswedan.

“Kalau angka reproduction ini turun, maka Jakarta berhasil mengendalikan pergerakan COVID-19. Bila itu kita kerjakan bersama-sama, maka Jakarta bisa kembali berkegiatan, tentu normalnya baru, orang biasa mengistilahkan new normal, bukan kembali seperti kemarin, tapi normal yang baru,” kata Anies dalam siaran langsung pemaparan via akun YouTube Pemprov DKI Jakarta, Selasa (19/5) kemarin.

Anies berbicara dalam rangka pengumuman perpanjangan masa PSBB hingga 4 Juni nanti. Dia berharap PSBB ini adalah PSBB penghabisan sebelum warga Jakarta menjalani kehidupan the new normal.

“Saya percaya kita bisa, disiplin kita kerjakan, insyaallah ini jadi penghabisan bagi kita sema, habis itu kita mulai babak baru, bisa berkegiatan di luar rumah, tentu dengan protokol yang baru,” tutur Anies.

The new normal: rajin cuci tangan hingga pakai masker

Jubir Pemerintah untuk Penanganan COVID-19, Achmad Yurianto (Yuri) pada 19 Mei menjelaskan perubahan cara hidup harus dijalankan karena virus Corona ini tidak akan cepat berlalu. Bahkan organisasi kesehatan dunia (WHO) mengatakan virus Corona akan tetap ada di waktu-waktu selanjutnya, apalagi vaksin belum ditemukan.

‘The new normal’ berarti kebiasaan-kebiasaan baru untuk mencegah penularan virus Corona. Wujud ‘the new normal’ adalah mencuci tangan dengan sabun secara rutin, menjaga jarak fisik, menghindari kerumunan, mengenakan masker, dan meminimalkan aktivitas ke luar rumah. Dengan penerapan rutinitas baru itu, warga bisa tetap produktif bekerja dengan risiko penularan COVID-19 yang minim.

“Inilah yang kita sebut sebagai normal yang baru atau the new normal. Kita menginginkan kehidupan normal, dalam arti bisa bekerja, bisa produktif, bisa menghasilkan sesuatu, bisa berkarya, tetapi barunya adalah kita aman dari tertular COVID-19. Ini yang kita sebut sebagai normal yang baru,” kata Yuri.

Anies perlu rumuskan the new normal

Pakar menyarankan agar istilah ‘the new normal’ dibuat lebih konkret supaya jelas batasan-batasannya. Pemerintah Provinsi DKI yang dipimpin Anies perlu menjelaskan lebih rinci, apa dan bagaimana itu the new normal.

“The new normal itu seperti apa? The new normal perlu dirumuskan lebih konkret. Orang harus punya perilaku menjaga jarak hingga melakukan langkah pencegahan infeksi,” kata epidemiolog dari Fakultas Kedokteran Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan, Univeresitas Gadjah Mada (UGM), Riris Andono Ahmad, kepada detikcom, Rabu (20/5).

Riris melihat PSBB yang diterapkan di Jakarta saat ini akan sulit terus dipertahankan lantaran sektor ekonomi masyarakat tidak bisa ditelantarkan. Aktivitas normal perlu kembali lagi. Meski demikian, virus Corona sudah telanjur berjangkit, keadaan ‘normal versi lama’ sebelum Corona tidak akan terulang.

“Yang jelas, kita sudah tidak bisa kembali seperti dulu lagi. Semua lini aktivitas harus memasukkan komponen social distancing dan pencegahan infeksi,” kata Riris.

Bila saja kurva Corona Jakarta melandai dan disimpulkan kasus COVID-19 di Jakarta telah menurun, itu bukan berarti Jakarta sudah aman dari virus itu. Ada wabah Corona gelombang kedua yang mau tidak mau perlu diwaspadai meski manusia hidup berdampingan dengan virus itu. The new normal perlu dipikirkan secara serius supaya gelombang kedua tidak terlalu memberatkan.

“Virus sudah bersirkulasi di Indonesia. Kalau kemudian wilayah Jakarta dibuka (karena PSBB diakhiri, kelak), maka mobilitas keluar-masuk orang bisa mengintrodusir virus baru lagi. Bisa jadi kita akan mengalami gelombang epidemi lagi,” tutur Riris.

“PSBB memang menghentikan transmisi virus, tapi tidak akan melepaskan suatu daerah dari bahaya sama sekali. Ini karena virus sudah bertransmisi secara global, maka kita harus bersiap dengan penularan baru,” pungkas Riris.(Red)

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *