21 April 2021
  • 21 April 2021
Breaking News
  • Home
  • Redaksi
  • Potensi Kekuatan Teroris Saat Pandemi Covid-19: ini Penjelasan BNPT, BIN, Lemhanas hingga Komisi lll DPR RI

Potensi Kekuatan Teroris Saat Pandemi Covid-19: ini Penjelasan BNPT, BIN, Lemhanas hingga Komisi lll DPR RI

By on 4 April 2021 0 26 Views

Polisi sedang berjaga jaga pasca penggerebekan rumah warga yang terduga komplotan teroris. Foto/ist.

ROC – Pandemi COVID-19 tidak menjadi halangan bagi kelompok jaringan teroris. Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Boy Rafli Anwar, mengungkapkan bahwa aktivitas terorisme tetap berjalan, terutama untuk melakukan perekrutan.

Pada 12 Desember 2020, BNPT mengumumkan telah menangkap 232 tersangka teroris selama pandemi COVID-19 atau sejak awal Maret 2020. Jumlah tersangka tindak pidana terorisme yang telah ditangkap, terbanyak dari kelompok Jemaah Islamiyah (JI), kemudian banyak juga dari kelompok Jamaah Ansharut Daulah (JAD) dan kelompok Muhajidin Indonesia Timur (MIT).

Penangkapan dilakukan di berbagai daerah seperti Jakarta, Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Sumatera, dan Sulawesi. Boy Rafli mengatakan, dalam situasi pandemi, kelompok teroris lebih masif menyebarkan narasi radikal dan intoleran dengan menggunakan media sosial.

Boy Rafli sebelumnya pernah menjelaskan, kondisi pandemi COVID-19 membuat gambaran keamanan yang berubah di dunia. Krisis yang disebabkan pandemi COVID-19 memengaruhi sinergi antarnegara dalam hal pembangunan kapasitas program penanggulangan terorisme.

Pada Mei tahun lalu, Mahfud MD pernah mengemukakan berbagai aksi terorisme di tengah pandemi COVID-19 yang masih tinggi. Mahfud membeberkan tentang aksi terorisme sadis yang kala itu terjadi di Palu, Sulawesi Tengah.

Aparat Kecolongan

Pada peristiwa ledakan bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar 28 Maret lalu, polisi dinilai kecolongan oleh aksi terorisme. Anggota Komisi III DPR RI, Rudy Mas’ud, meminta polisi meningkatkan kewaspadaan agar aksi serupa tidak terulang.

“Saya meminta kepada Kapolri untuk memerintahkan seluruh jajaran untuk Polda meningkatkan kewaspadaan. Jangan sampai kecolongan atas aksi terorisme bom bunuh diri seperti hari ini,” kata Rudy dalam pernyataan resminya, Senin (29/3).

Dia berharap kelompok teroris yang terlibat dalam aksi bom bunuh diri itu ditindak tegas. Rudy mengajak kepada seluruh masyarakat untuk menjunjung tinggi toleransi antarumat beragama sekaligus memerangi terorisme.

“Ini kembali terjadi di tengah masyarakat kita. Siapapun pelaku aksi bom bunuh diri itu, sangat tidak manusiawi,” imbuhnya.

Di sisi lain, Badan Intelijen Negara (BIN) menepis anggapan bahwa pihaknya kecolongan atas peristiwa bom bunuh diri di gerbang Gereja Katedral Makassar. Menurut Deputi VII BIN, Wawan Purwanto mengatakan, jaringan JAD sudah dipantau pihaknya sejak 2015. Penangkapan di awal 2021 terhadap terduga teroris kelompok kajian Villa Mutiara di Makassar oleh Tim Densus 88 juga merupakan informasi dari BIN.

Wawan mengungkapkan, kelompok JAD di Sulawesi Selatan masih banyak jumlahnya dan mereka mampu merekrut anggota baru untuk didoktrin melakukan apa yang mereka sebut aksi amaliah. Dia menyatakan, dua pelaku bom bunuh di Makassar sesungguhnya berstatus dalam pengejaran oleh aparat keamanan.

“Menjelang Ramadan ini sangat perlu diwaspadai karena mereka menilai melakukan amaliyah saat yang tepat agar dapat pahala banyak. Masih ada beberapa (anggota JAD) yang belum tertangkap dan terus dalam pengejaran,” terang Wawan dalam keterangan tertulisnya, Selasa (30/3).

Gubernur Lemhanas Agus Widjojo angkat bicara soal munculnya anggapan bahwa aparat kecolongan terkait bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar. Agus berpendapat, mendeteksi kapan terjadinya aksi terorisme bukan hal yang mudah dilakukan, termasuk oleh aparat.

“Saya melihat saja untuk menduga kapan teror itu muncul, di mana dan bilamana, itu tidak mudah. Oleh karena itu sangat bergantung kepada pemantauan sebelum kejadian itu terjadi. Dan saya hanya melihat bahwa kita tidak bisa berdoa agar keadaan itu semua seperti yang kita inginkan. Tetapi kita mengukur efektivitas dari penanganan fungsi itu, dari kecepatan dan efektivitas respons setelah terjadi,” papar Agus Widjojo.

“Dan seperti yang kita lihat sekarang ini. Dalam jangka waktu 24 jam, maka sudah bisa dilacak, siapa pelaku-pelakunya dan dalam jaringan apa. Itu yang saya jadikan kriteria bahwa instansi fungsional kita sudah cukup efektif untuk menangani, baik itu pencegahan maupun penindakan atas terjadinya kejadian-kejadian teror ini,” tambahnya.

Jika sebelumnya warga asing kerap menjadi sasaran, belakangan rumah ibadah dijadikan teroris sebagai tempat melakukan aksinya kejamnya. Menurut Agus Widjojo, salah satu penyebabnya bisa jadi karena situasi pandemi COVID-19.

“Jika dilihat dalam persamaan konteks, sebagai lawan-lawan dari kelompok-kelompok teroris ini. Jadi, tidak merupakan dua entitas yang berbeda (antara rumah ibadah dengan orang asing sebagai sasaran teroris).” jelasnya.

“Kalau dulu mungkin sebelum (Pandemi) COVID-19, keberadaan (orang) asing atau barat itu lebih mencolok dari sekarang. Kelihatannya setelah COVID-10, masing-masing negara mulai untuk mengadakan konsolidasi internal sendiri-sendiri dan punya persoalannya masing-masing dengan adanya COVID-19. Sehingga bagi mereka (teroris), tinggal tersisa tempat-tempat ibadah ini (sebagai sasaran). Mungkin itu pertimbangannya,” tandasnya.

Red

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *