12 November 2019
  • 12 November 2019
Breaking News

H. Suharno : Pentingnya Bertakwa Sebelum Mati

By on 21 February 2019 0 962 Views

Umat Islam Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa kepada-Nya. Dan janganlah sekali-kali kamu mati, melainkan dalam keadaan beragama Islam (Q.S. 3:102).

Suharno, MM dalam khutbahnya kali ini membahas tentang ketakwaan kita terhadap Allah SWT, dan menukil dari Ayat tersebut diawal, mengingatkan kita agar meninggal dalam keadaan khusnul khotimah.

ittaqullah, ittaqullah, ittaqullaha haqqa tuqatih. Bertaqwalah kamu, bertaqwalah kamu, dan bertaqwalah kamu dengan sebenar-benar taqwa. Ya ayyuhalladzina amanu ittaqu Allaha haqqa tuqatih, wa la tamutunna illa wa antum muslimun,” ayat pembuka dimana kaum muslim pertama kali mendengarkan khutbah. Seperti yang disampaikan oleh Khatib Jumt di Mesjid Caringin Garden, Mayjen (Purn) DR. Ir. H. Suharno MM.

Menurut beliau, definisi takwa yang mudah, yang populer, dan yang sudah seringkali didengar adalah menunaikan segala yang diperintahkan dan menjauhi segala yang diharamkan Allah.  Sedangkan pengertian sebenar-benar takwa, artinya adalah menjadikan Allah ditaati, tidak disanggah, diingat, tidak pernah dilupakan, disyukuri, tidak diingkari.

“Tidak akan seorang hamba bertaqwa kepada Allah sebenar-sebenar taqwa sampai ia sadar bahwa apa yang menimpanya tidak akan meleset dari dia, dan apa yang luput dari dia memang tidak akan mengenainya,” Ujar Khatib seperti disampaikan oleh Rasulullah.

Lanjut Caleg DPD RI Dapil Jabar ini, adapun contoh tindakan taqwa yang benar-benar itu, seperti yang diceritakan oleh Ali ibn Abi Thalib dari Ibnu Abbas adalah ‘berjihad di jalan Allah dengan sebenar-benar jihad, tidak dipengaruhi, demi Allah, oleh celaan tukang cela dan berdiri untuk Allah dengan sikap adil, walau terhadap diri sendiri, bapak maupun anak’.

“Jika kita kembali pada dasar-dasar pembebanan ajaran islam (taklif), bahwa Allah tidak mungkin memberikan beban kepada umat manusia kecuali yang mampu dilakukannya. Maka pembebanan kewajiban taqwa “ittaqu Allaha haqqa tuqatih” pada dasarnya tidaklah melampaui kemampuan yang dimiliki oleh seorang manusia. Jika demikian maka ayat yang kedua, yang menyatakan kewajiban taqwa “fattaqu Allaha mastatha’tum”, bukanlah penghapus terhadap ayat sebelumnya, tetapi hanyalah penegasan terhadap maksud dan kandungannya,” paparnya.

Artinya, antara kewajiban taqwa sebenar-benar taqwa dengan kewajiban taqwa sejauh kemampuan kita pada dasarnya adalah sama. Kewajiban taqwa kita kepada Allah SWT adalah sejauh kemampuan yang kita miliki. Manakala kita telah bertaqwa kepada Allah dengan segenap kesungguhan dan kemampuan kita, maka itulah taqwa yang sebenar-benar taqwa. Wallahu A’lam bish-shawab. [Red]

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *