1 June 2020
  • 1 June 2020
Breaking News
  • Home
  • Pojok Jum'at
  • Pengaruh Iman dan Takwa Pada Hari Akhir Terhadap Perilaku Manusia (Bagian 2)

Pengaruh Iman dan Takwa Pada Hari Akhir Terhadap Perilaku Manusia (Bagian 2)

By on 15 May 2020 0 70 Views

Oleh : Mayjen TNI (P) Dr. Ir. H. Suharno, M.M

 

Di ujung surat al-Baqarah ayat 183 Alquran, terdapat ungkapan la’allakum tattaqûn (semoga kamu berhasil meraih posisi takwa) dengan menjalankan puasa itu. Istilah takwa merupakan salah satu konsep kunci dalam Alquran di samping iman dan Islam.

Dari segi akar kata takwa berasal dari tiga huruf “w, q, y” yang bermakna menjaga diri, baik dari kehancuran moral atau dari kemurkaan Allah akibat penyimpangan perilaku seseorang dari jalan lurus. Takwa adalah salah satu hasil  iman yang tulus dan otentik.

Apa indikator takwa itu? Dalam berbagai ayat Alquran telah menjelaskannya. Kita ambil yang paling sering dibaca pada bulan Ramadhan, ayat 133-136 surat Ali ‘Imrân yang artinya:

“Dan cepat-cepatlah kamu menuju ampunan dari Tuhanmu dan menuju surga yang luasnya seluas langit dan bumi, disediakan bagi mereka yang telah berhasil meraih posisi taqwâ. [Yaitu] orang-orang yang memberikan infaq, baik di saat lapang maupun di saat sempit, dan orang-orang yang mampu mengendalikan marah serta bersedia memaafkan [kesalahan] orang lain. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan. Dan [juga] mereka yang apabila melakukan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, [segera] mengingat Allah dan mohon ampun atas segala dosanya,.”

Taqwa ini merupakan harapan, dalam artian, dengan puasa kita menjadi bertaqwa, bukan hanya ketika berpuasa, tapi secara terus menerus, untuk bulan-bulan dan tahun-tahun berikutnya. Taqwa juga merupakan predikat yang harus diupayakan tiap hamba.

Menjadi menarik untuk dicermati, taqwa memang bukan predikat yang bisa kita dapatkan dengan berpangku tangan, sekadar berharap dari Allah swt., tapi ia harus dikejar oleh seorang hamba, dengan niat tulus, ibadah yang sungguh-sungguh, dan mengaplikasikan nilai-nilainya dalam hidup sehari-hari.

Dalam al-Qur’ān, telah dijelaskan beberapa indikatornya secara eksplisit, misalnya dalam Al-Baqarah: 1-5 dan Ali Imrān: 133-146. Dengan mengutip pendapat beberapa ulama, indikator takwa ada empat hal;

Pertama, al-khawf minal Jalīl (rasa takut kepada Allah Yang Maha Agung). Orang bertaqwa semestinya merasa selalu diawasi, kapan pun dan dimanapun. Juga mengakui bahwa selain Allah swt adalah kecil. Jika kita merasa takut pada hal-hal kecil, seperti bencana alam dan lainnya, maka selayaknya kita lebih takut kepada Dzat yang mengatur itu semua; Allah swt. Artinya, kita sebagai umat manusia takut akan berbuat hal yang tidak diridhoi oleh Allah SWT. Contohnya mau berbuat korupsi, memiliki sesuatu secara tidak sah, melakukan kejahatan, menimbun dan mengakui harta yang bukan miliknya, maka kita tahu kalau hal tersebut adalah dosa besar.

Allah berfirman :

” Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain diantara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebagaian dari pada harta benda orang itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui. “ (QS. Al- Baqarah: 188)

Sabda Rasulullah :

“Sungguh, darah, harta kehormatanmu haram bagimu.”

“Siapa yang menganiaya (orang lain) mesti sejengkal tanah, kelak ia akan dikalungkan dengan tanah itu sedalam tujuh lapis bumi.”

Keduanya diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.

Kedua, al-‘Amal bi-t-tanzīl (beramal sesuai tuntunan Syari’ah). Disebut bertaqwa jika seseorang itu menjalankan apa yang menjadi perintah Allah swt, dan menjauhi segala apa yang dilarang-Nya.

Ketiga, ar-Ridhā bil qalīl (ridha dengan yang sedikit). Jiwa manusia menghendaki yang banyak, obsesi tinggi, namun seringkali tidak dibarengi dengan ridha atas ketetapan Allah swt.

Keempat, al-isti’dād liyawmi-r-rahīl (menyiapkan untuk kehidupan akhirat). Ya, disebut bertaqwa jika seseorang itu memberikan prioritas untuk kehidupan yang kekal. Seperti yang digambarkan dalam sekian banyak ayat al-Qur’ān dan Hadis Nabi.

Tentu kita ingat adagium masyhur, man ‘arafa bu’da as-safari ista’adda, barangsiapa yang tahu jauhnya perjalanan, maka ia akan bersiap dengan bekal cukup. Akhirat adalah perjalanan spiritual, yang harus kita siapkan dengan sebaiknya untuk mengahadapinya. Kita seringkali berpikir bagaimana hidup dengan baik, tapi lupa bagaimana mati dengan baik.

Dengan adanya takwa dan takut kepada Allah SWT, maka Insya Allah negara kita akan terbebas dari korupsi, kejahatan. Dengan tidak adanya kejahatan dan korupsi, maka kita akan sejahtera dan dapat menghemat perekonomian negara, contohnya adalah penjara akan kosong sehingga tidak ada biaya untuk pelaku kejahatan, aparat hukum akan semakin sedikit jumlahnya, sehingga dipastikan negara akan berhemat ratusan milyar rupiah.

Korupsi yang menjadi urutan pertama dalam perihal kejahatan, dimana APBN kita sejumlah 2.500 Triliun Rupiah, menguap paling sedikitnya 30 persen, atau sekitar 750 Triliun Rupiah (Data Transparansi Internasional Indonesia/TII).

Tahun 1998 saat terjadi krisis moneter, negara mengeluarkan Rp320 triliun untuk 54 bank swasta, yang seharusnya dikembalikan kepada nasabah, tapi yang terjadi dana kembali ke negara hanya 8,5 persen [Rp27,2 T] (Sumber Indonesia Corruption Watch/ICW)

Kelemahan dalam pemungutan pajak menimbulkan resiko tindak kejahatan pajak, seperti manipulasi angka baik oleh wajib pajak ataupun oleh pegawai pajaknya sendiri. Kelemahan tersebut karena menggunakan Self Assessment yang mewajibkan WP patuh atau Voluntary Compliance, hal ini termasuk kedalam korupsi.

Dengan tidak adanya korupsi, maka nilai uang tersebut dapat dibelanjakan dan memajukan untuk kepentingan negara dan masyarakat Indonesia. Itu baru dari ikhtiar kita dalam mengelola APBN yang tidak dikorupsi, belum lagi adanya uang senilai puluhan ribu trilyun milik negara yang jejaknya bias, kalau misalkan diserahkan kepada negara, maka Indonesia akan menjadi negara super power, mengalahkan negara adikuasa seperti Amerika dan China.

Timbulnya korupsi ini dikarenakan ketidak takwaannya manusia yang ingin disogok, sehingga lahir pemimpin yang tukang sogok, negara dipimpin oleh sebagian besar pejabat yang menghalalkan rasuah, sehingga negara kita ini akan dijauhi dari ridho Allah SWT, sebagian besar umat gagal disebut Takwa,  di bulan puasa ini mereka hanya menahan lapar dan haus tanpa mendapatkan pahala.

Seharusnya umat manusia tidak perlu untuk melakukan korupsi, yang jelas jelas dimurkai oleh Allah SWT. Karena jalannya rejeki seseorang merupakan hal ghaib, dan bisa kapan saja mendatangi umatnya.

Allah Ta’Ala berfirman:

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya. Sesungguhnua Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Alllah telah mengadakan ketentuan bagi tiang-tiap sesuatu.” (QS. Ath-Thalaq [65]: 2-3)

Mari dibulan suci yang penuh maghfirah ini kita beribadah dengan penuh ketakwaan dan keimanan. Kita sudah ditegur oleh yang maha kuasa dengan hadirnya pandemik Covid 19 yang bisa kapan saja merengut nyawa kita. Memang alangkah baiknya kita sementara waktu ini tidak beribadah di mesjid ataupun mushola, tidak perlu memaksakan diri dan nekat, karena ujungnya akan muncul riya.

Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqolani dalam kitabnya Fathul Baari berkata:

“Riya ialah menampakkan ibadah dengan tujuan dilihat manusia, lalu mereka memuji pelaku amalan itu. Sedangkan Imam Al-Ghazali menggatakan, riya adalah mencari kedudukan pada hati manusia dengan memperlihatkan kepada mereka hal-hal kebaikan.”

Sementara ini lebih baik kita beritikaf dan bertafakur diri di rumah masing-masing, mengintrospeksi diri sendiri, memperbaiki qalbu, karena jika qalbu kita baik, Insya Allah segalanya akan baik

Orang-orang yang memilik hati/qalbu ini akan selamat pada hari kiamat, sebagaimana firman Allâh Azza wa Jalla:

يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ ﴿٨٨﴾ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

(Yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tiada lagi berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allâh dengan hati yang bersih. [Asy-Syu’ara’/26: 88-89]. Disebut qalbun salîm (hati yang selamat; sehat) karena sifat selamat dan sehat telah menyatu dengan hatinya. Di samping, ia juga merupakan lawan dari hati yang sakit.

Semoga dengan adanya takwa dan takut kepada Allah SWT, maka negara kita akan selalu diberkahi, aman, damai dan makmur, menuju Baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *