30 October 2020
  • 30 October 2020
Breaking News
  • Home
  • Redaksi
  • Pengamat Politik soal Nasir, Wakil Rakyat Seharusnya Memberikan Contoh dan Teladan

Pengamat Politik soal Nasir, Wakil Rakyat Seharusnya Memberikan Contoh dan Teladan

By on 8 July 2020 0 107 Views

Foto: Anggota DPR dari Fraksi Partai Demokrat, M Nasir (dok: dpr.go.id)

ROC — Pengamat politik Emrus Sihombing mengkritik keras sikap anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI Muhammad Nasir dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi VII bersama Holding Pertambangan BUMN, Selasa (30/6) kemarin. Menurut Emrus, tindakan Nasir dalam rapat itu tidak beradab dan bertentangan dengan nilai Pancasila. Pasalnya, Nasir menunjukkan kemarahan dalam rapat tersebut.

“Saya kira sebagai anggota dewan tidak perlu marah-marah. Kalau pun ada yang marah di negara lain, tidak perlu ditiru. Kita, kan, negara beradap. Coba lihat Pancasila sebagai dasar negara adalah kemanusiaan yang adil dan beradab. Apakah marah itu beradab,” kata Emrus, di Jakarta, Selasa (7/5).

Selain itu, lanjutnya, sikap Nasir juga tidak tepat karena terkesan merendahkan peserta rapat. Terutama, ketika Nasir menyebut Direktur Utama (Dirut) PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) atau Inalum Orias Petrus Moerdak sebagai sosok yang kurang ajar.

“Pilihan diksi kurang ajar, tidak tepat. Saya yang termasuk mengkritisi. Bila perlu kawan dari legislatif itu saya siap berdebat dengan beliau. Bukan karena dia anggota DPR, lalu dia mempunyai powerfull dalam berpendapat, tidak boleh. Kalau boleh jujur, dia wakil kita. Dia wakil rakyat, seharusnya dia bisa memberikan contoh dan teladan. Tidak boleh seperti itu, ya,” ujar Emrus.

Ke depan, kata dia, sikap seperti yang ditunjukan Nasir dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi VII bersama Holding Pertambangan BUMN, tidak boleh terulang.

Partai tempat Nasir bernaung perlu melakukan pembinaan atas tindakan Nasir. Ke depan, anggota yang menunjukkan sikap tidak beradap tak diusung partai sebagai calon legislatif.

“Menurut saya, anggota dewan ini, kan, wakil rakyat yang menjadi teladan, saya mengharapkan partai yang ada anggota seperti ini dilakukan pembinaan. Kedua jangan diajukan anggota seperti ini menjadi calon. Jangan diajukan sebagai calon dari partainya,” papar dia.

Sebelumnya, Anggota Komisi VII DPR M Nasir mengusir Dirut PT Inalum Orias Petrus Moedak saat rapat kerja dengan Holding Tambang BUMN, Selasa kemarin.

Tensi rapat menjadi tinggi saat Nasir yang juga anggota Fraksi Partai Demokrat itu menanyakan kepada Orias ihwal utang Inalum untuk pengambilalihan 41,64 persen saham PT Freeport Indonesia. Namun, ternyata Inalum berencana menambah utang.

“Saya minta Pak Dirut (jelaskan) utang pembelian 41 persen ini kapan selesai dibayar,” kata Nasir.

Orias menjelaskan pembayaran utang itu terbagi dalam beberapa tenura, yakni 3, 5, 10 hingga 30 tahun. Jawaban itu membuat Nasir tidak puas.

“Jadi, sampai 30 tahun kalau perusahaan ini lancar baru selesai. Kalau kita mati, tak selesai nih barang, ganti lagi nanti dirut yang lain, lain lagi polanya,” ucap Nasir.

Oleh karena itu Nasir mengaku agak galau mendengar ada rencana mau utang lagi. Menurutnya, hanya ada dua hal dari risiko berutang, jika usaha lancar berarti bagus untuk pengembaliannya.

“Kalau barang ini tidak lancar, disitalah barang ini. Ini urusan utang,” katanya.

Saudara mantan Bendahara Umum Partai Demokrat, M Nazaruddin itu mengaku khawatir bahwa tiga anak perusahaan yang tergabung di bawah Inalum hanya dijadikan sepakai penopang utang.

“Maka saya minta data detail mana?” kata Nasir.

Orias lalu menyahut Nasir.

“Akan disampaikan, Pak,” tegas dia.

Debat pun tak terelakkan. Nasir dengan nada tinggi meminta Orias keluar dari ruang rapat.

“Kalau Bapak sekali lagi seperti ini, saya suruh Bapak keluar dari ruangan ini,” kata Nasir.

Orias langsung menjawab permintaan Nasir.

“Kalau Bapak suruh saya keluar, (atas) izin pimpinan saya keluar,” ujar Orias.

“Bapak bagus keluar, karena tidak ada gunanya Bapak rapat di sini. Anda bukan buat main-main DPR ini, tahu?!” kata Nasir sambil menggebrak meja.(Red)

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *