15 December 2019
  • 15 December 2019
Breaking News

Pelaku Pengeboman Gereja di Filipina Diakui ISIS

By on 28 January 2019 0 162 Views

Filipina, Roc – Bom meledak di Gereja Katedral Our Lady of Mount Carmel di Jolo, Sulu, Filipina, Minggu (27/1). Sekitar 18 orang dinyatakan tewas dan seratus lebih terluka dalam kejadian tersebut. ISIS pun mengklaim bertanggung jawab atas ledakan tersebut. Demikian menurut Kelompok Intelijen SITE yang memantau kegiatan jihadis.

Dilansir dari South China Morning Post, Senin (28/1), ISIS mengeluarkan komunike resmi yang mengklaim dua pembom bunuh diri telah meledakkan sabuk peledak pada Minggu di dalam gereja dan tempat parkir mobil di Jolo.

Sementara itu, dilansir dari Strait Times, ISIS mengklaim bertanggung jawab beberapa jam setelah serangan. Klaim ini disampaikan melalui kantor berita Amaq sebagaimana disampaikan Kelompok Intelijen SITE. Penyidik di Filipina sejauh ini belum menemukan bukti bom yang meledak kemarin adalah serangan bom bunuh diri.

Laporan awal menyatakan bom kedua meledak di tempat parkir tepat di luar halaman Katedral Our Lady of Mount Carmel. Penyidik mengatakan bom kemungkinan dipasang pada sebuah sepeda motor. Sedangkan bom pertama diperkirakan ditanam di sekitar bangku di dalam gereja.

Serangan tersebut merupakan serangan paling mematikan dalam beberapa tahun terakhir di kawasan yang telah lama mengalami instabilitas. Kepala Kepolisian, Direktur Jenderal Oscar Albayalde yang mengunjungi lokasi ledakan menyampaikan dua bom tersebut dikendalikan melalui ponsel.

Juru Bicara Komandan Militer Mindanao Barat, Kolonel Gerry Besana menyampaikan dalam sebuah wawancara radio, rekaman CCTV menunjukkan militan dari sub-kelompok Ajang-ajang Abu Sayyaf yang kemungkinan besar berada di balik serangan mematikan itu.

Abu Sayyaf, kelompok Islam militan dibentuk pada 1990 dengan aliran dana dari jaringan Al Qaeda Osama bin Laden. Kelompok ini sejak lama berbasis di Sulu, terlibat dalam berbagai kasus penculikan dan pengeboman. Kelompok ini pun telah bersumpah setia kepada ISIS.

Kendati kelompok ini secara resmi memiliki agenda separatis, mereka juga memanfaatkan instabilitas di Mindanao selama puluhan tahun untuk menghasilkan puluhan juta dolar dari pembayaran pembajakan kapal dan uang tebusan.

Abu Sayyaf dipercaya menjadi dalang berbagai serangan teror terburuk dalam sejarah Filipina, termasuk pengeboman kapal penumpang di Teluk Manila yang menewaskan lebih dari seratus orang pada 2004.

Faksi Ajang-ajang diyakini terdiri dari ayah, anak laki-laki dan saudara laki-laki dari anggota militan Abu Sayyaf yang dibunuh pasukan keamanan. Ajang-ajang adalah istilah etnis yang berarti “putra para pejuang” atau “putra para martir”. [ujg/red7]

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *