22 October 2020
  • 22 October 2020
Breaking News
  • Home
  • Nasional
  • Omnibus Law Perpajakan Gabungkan 7 UU Menjadi 28 Pasal

Omnibus Law Perpajakan Gabungkan 7 UU Menjadi 28 Pasal

By on 16 December 2019 0 174 Views

ROC- Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, menyebutkan bahwa desain Rancangan Undang-Undang Omnibus Law Perpajakan nantinya akan terdiri dari 28 pasal. Di mana, 28 pasal tersebut sudah mencakup amandemen dari tujuh Undang-Undang (UU) yang berkaitan dengan perpajakan.

“Dari 28 pasal tersebut, terdiri dari 6 klaster isu yang dibahas didalamnya,” ungkap Menteri Sri Mulyani di Gedung DPR RI, Jakarta, Senin (16/12)

Adapun keenam isu yang jadi pusat pembahasan dalam Omnibus Law Perpajakan yakni terdiri dari UU Pajak Penghasilan (PPh), Pajak Pertambahan Nilai (PPN), Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (KUP), Kepabeanan, Pajak dan Retribusi daerah, dan Pemerintah Daerah.

Menteri Sri Mulyani menjelaskan, untuk kaster pertama terkait penurunan tarif pajak PPh dan PPh untuk bunga, dimaksudkan untuk meningkatkan investasi di Indonesia. Lalu klaster kedua terkait sistem teritorial soal penghasilan dari dividen luar negeri akan bebas pajak asal di investasikan di Indonesia.

Kemudian klaster ketiga, mengenai subjek pajak orang pribadi yang membedakan warga negara asing dan warga negara Indonesia. Di mana, untuk orang Indonesia yang tinggal di luar negeri lebih dari 183 hari, bisa berubah jadi subjek pajak luar negeri jadi tidak bayar pajak di negara Indonesia.

Sedangkan untuk orang asing yang tinggal di Indonesia lebih dari 183 hari, akan menjadi subjek pajak dalam negeri dan membayar pajak di Indonesia dari penghasilan yang berasal dari Indonesia itu yang disebut definisi subjek pajak.

Sementara klaster keempat, terkait peningkatan kepatuhan pajak dengan pengaturan ulang sanksi dan imbalan bunganya. Selama ini sanksi pajak yang diberikan pada pihak yang melakukan pelanggaran adalah sanksi bunga cukup tinggi sebesar 2 persen sampai dengan 24 bulan.

“Maka sekarang kami gunakan suku bunga yang berlaku di pasar, ditambah sedikit sanksi administrasinya. Sehingga wajib pajak merasa lebih mudah untuk patuh kepada UU omnibus law,” jelasnya.

Kluster Lima dan Enam

Selanjutnya, kluster kelima akan mencakup ekonomi digital yaitu perpajakan transaksi elektronik yang dibuat sama dengan pajak biasa. Termasuk penunjukkan platform digital untuk memungut PPN dan mereka yang tidak punya kantor fisik atau berbentuk Badan Usaha Tetap (BUT) di Indonesia akan tetap bisa dipungut pajak.

Menurut Bendahara Negara ini sebagai upaya pemerintah untuk dapat mengenakan pajak pada perusahaan digital raksasa yang berlokasi di luar negeri, seperti Netflix, Amazon, Google, hingga Facebook. “Maka mereka tetap akan bisa kami pajaki dengan menyampaikan pengenaan bagi subjek pajak luar negeri yang tidak berada di Indonesia,” kata dia.

Sedangkan klaster terakhir berkaitan dengan insentif pajak yakni mengenai tax holiday, tax allowance, super deduction tax, kawasan ekonomi khusus (KEK), PPh surat berharga. “Kita berharap berharap bahwa bisa dimulai pembahasan ini nanti akan bisa dimulai pada saat masa sidang 2020 mulai dan kita juga akan terus melakukan konsultasi dengan para stakeholder,” pungkas dia. (Red/Merdeka)

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *