21 October 2020
  • 21 October 2020
Breaking News
  • Home
  • Redaksi
  • Novel Baswedan : Saya Yakin, Pelaku Sebenarnya Pasti Sedang Genetaran

Novel Baswedan : Saya Yakin, Pelaku Sebenarnya Pasti Sedang Genetaran

By on 21 June 2020 0 137 Views

Jakarta, ROC — Nama penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Novel Baswedan, kembali mencuat ketika tim jaksa penuntut umum (JPU), terdiri dari Ahmad Patoni, Satria Irawan, dan Fedrik Adhar, hanya mengajukan tuntutan 1 tahun penjara terhadap pelaku penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan pada 2017 lalu.

Sebelumnya diberitakan, terdakwa Rahmat Kadir Mahulette dan Ronny Bugis, yang merupakan dua orang oknum anggota Polri itu dituduh sebagai pelaku penyiraman air keras terhadap Novel, pada 11 April 2017 lalu, dan tengah menjalani proses persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Utara.

Tuntutan 1 tahun penjara itu memicu kegemparan karena terlalu ringan . JPU beralasan para terdakwa menyesali perbuatannya, telah meminta maaf kepada Novel dan keluarganya, serta perbuatan itu tidak sengaja.

“Meski sejak awal persidangan kasus itu banyak kejanggalan, saya tetap saja terkejut ketika dua terdakwa hanya dituntut 1 tahun penjara. Saya tidak mengerti mengapa sampai segitunya. Apakah memang JPU tidak yakin mereka pelakunya? Atau memang seperti apa, saya tidak mengerti,” ujar Novel, dilansir dari Tribunnews, Minggu (21/6).

Menanggapi proses hukum kasus penyerangan terhadap dirinya, Novel Baswedan yang juga merupakan mantan anggota Polri tersebut, meyakini bahwa dua oknum yang dituduh saat ini adalah keliru, dan sebagai mantan anggota Polri, dia bisa tahu dan yakin bahwa saat ini orang yang sebenarnya terlibat dalam kasus dirinya saat ini sedang gemetaran.

“Mereka pasti sedang gemetaran ketakutan, karena mereka tahu saya tidak takut. Saya tidak pernah merasa menyesal berbuat kebaikan sehingga kemudian diserang orang,selain itu saya tidak pernah merasa susah terkait keadaan ini,” ujar Novel.

Ditegaskan Novel, tidak ada orang yang kuat menutupi perbuatan jahatnya.

“Hal yang terpenting jangan beranggapan orang berbuat jahat itu hebat, bahkan dikasih gelar, secara tidak sadar itu sama saja dengan kita menyanjung penjahat, kita melihat penjahat itu seolah-olah besar, padahal kita sendiri yang membesarkan, mungkin dibantu setan,” urai Novel.

Meski sejak awal persidangan kasus itu banyak kejanggalan, diakui Novel tetap terkejut ketika dua terdakwa hanya dituntut 1 tahun penjara.

“Saya tidak mengerti mengapa sampai segitunya. Apakah memang JPU tidak yakin mereka pelakunya, atau memang seperti apa saya tidak mengerti,” ungkapnya.

“Itu merupakan hal yang keterlaluan dan tidak masuk akal. Apa yang saya alami masuk kategori penganiayaan berat, berencana, akibatnya luka berat, dan yang diserang adalah aparatur. Kalau terjadi terhadap orang lain, saya pun akan marah. Tapi memang saya sudah dari awal mempersiapkan diri untuk sabar, bersikap tenang. Kalau saya punya harapan terlalu tinggi, saya khawatir jadi emosional dan putus asa.”

Menurutnya, hal dan kondisi itu bukan hanya terkait dengan dirinya, tapi juga telah menghina bangsa dan melukai rasa keadilan publik.

“Dan ini keterlaluan sekali.”

Diberitakan juga, JPU dalam tuntutannya menyebutkan para terdakwa menyesali perbuatannya, telah meminta maaf kepada Novel Baswedan dan keluarga, dan tidak sengaja menyiram air keras ke mata Anda Novel.

Menanggapi pernyataan tersebut, faktanya mereka tidak pernah meminta maaf baik pada Novel maupun keluarganya.

“(Minta maaf) kepada saya tidak pernah, kepada keluarga saya juga tidak pernah. Kalau saya masih hidup (minta maaf) mestinya sama saya dong. Kalau saya sudah meninggal baru (minta maaf) sama keluarga,” jelasnya.

“Terus yang kedua dibilang menyesali, masak iya? Kita lihat di persidangan dia teriak-teriak, memaki-maki. Masa itu menyesali?
Definisi menyesali ini mesti dipelajari lagi. Begitu juga dengan pertimbangan (terdakwa) dinas di kepolisian. Harusnya itu jadi pemberatan,” tambahnya.

“Sebagai aparat seharusnya mengayomi masyarakat dan aparat yang lain, ini justru malah menyerang. Mestinya bukan jadi hal yang meringankan, tapi memberatkan. Aneh ya, kok dibalik-balik.”

Saat di tanya jika seandainya putusan majelis hakim PN Jakarta Pusat ternyata senada dengan tuntutan jaksa, apa yang akan Anda lakukan?

“Sebagai korban saya tidak bisa apa-apa. Sistem peradilan pidana di Indonesia, kepentingan saya sebagai korban diwakili oleh JPU,” jawabnya.

“Apakah saya bisa banding? Tidak bisa. Apakah saya bisa protes melalui mekanisme formal? Tidak bisa. Saya hanya bisa diam.”

Novel menegaskan, walaupaun proses hukum ini sangat janggal, namun dia tidak akan melakukan upaya mengirim surat kepada Jaksa Agung atau Presiden Joko Widodo.

“Kalaupun saya melakukannya, apa faedahnya? Bukankah terjadinya kejanggalan yang vulgar dan terang-terangan itu selau kami sampaikan melalui protes terbuka, harapan kami, negara mengetahui. Negara kan aparaturnya banyak, dipimpin oleh presiden tentunya. Terkait dengan diri saya, bukankah saya sudah memaafkan, bukankah saya sudah menerima apapun yang terjadi dengan diri saya,” urainya.

Namun menurutnya, penegakan hukum yang berantakan dan porak poranda itu tidak boleh dibiarkan. Mengapa? Kepentingan negara untuk membangun masyarakat, membangun negara, yang paling mendasar adalah membangun penegakkan hukum.

“Saya ingin mengingatkan kembali, dalam rangka pemberantasan korupsi, KPK sudah sering sekali diserang. Saya beberapa kali diserang. Pegawai KPK selain saya juga diserang. Bahkan pimpinan KPK periode lalu juga diserang. Semuanya tidak ada yang diungkap. Pertanyaannya kan’ sederhana, tidak diungkap itu mengapa,” pungkasnya.(Red)

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *