26 March 2019
  • 26 March 2019
Breaking News
  • Home
  • Nasional
  • Minimnya Perawatan, Situs Megalitikum di Desa Legokherang, Kuningan Terancam Punah

Minimnya Perawatan, Situs Megalitikum di Desa Legokherang, Kuningan Terancam Punah

By on 31 July 2018 0 53 Views

Kuningan, ROC – Keberadaan benda peninggalan sejarah dan pra sejarah menjadikan bukti bahwa sebelum peradaban modern muncul, sudah ada peradaban manusia yang bisa disebut masa pra sejarah, dimana peninggalan warisan tersebut bisa ditemukan dalam berbagai macam jenis.

Menurut Mayjen (Purn) DR. Ir. H. Suharno, MM calon anggota DPD-RI Dapil Jabar serta Tokoh Muda Desa Legokherang, Kuningan, Iwan S Wiranatasajim kepedulian masyarakat terhadap benda dan warisan pusaka daerah dinilai masih minim.

“Peninggalan sejarah tersebut di beberapa tempat masih dibutuhkan penanganan dan perawatan yang tepat. Untuk peninggalan sejarah yang sudah dikelola secara khusus baik oleh pemerintah atau warga lokal sudah pasti akan terawat dan terjaga, tapi peninggalan sejarah yang belum mendapatkan perhatian secara khusus, keberadaannya terancam rusak atau punah,” ujar Suharno, saat ditemui republik-online.com di ruang kerjanya, Senin (31/7) .

Beliau menuturkan, salah satu daerah yang memiliki situs peninggalan bersejarah  yang perlu penanganan berada di Desa Legokherang yang berada di kaki Gunung Subang. Desa Legokherang, Kecamatan Cilebak, Kabupaten Kuningan, Provinsi Jawa Barat.

“Ditempat tersebut terdapat tiga situs yaitu Situ Kabuyutan, Situs Gentong dan Situs Batu Wayang yang berada di puncak gunung Subang. Dari ketiga situs megalitik yang berada di Desa Legokherang tersebut belum dikelola secara khusus, baik oleh pemerintah maupun warga setempat, bahkan sangat disayangkan karena sebagian benda bersejarah tersebut sudah hilang karena ulah manusia yang tidak bertanggung jawab,” tuturnya.

Benda sejarah yang hilang dari lokasi peninggalan sejarah tersebut diantaranya, batu pamangkuan yang berada di situs Situ Kabuyutan dan gentong kecil yang berada di situs Gentong.

Sementara, Iwan S Wiranatasajim menyebutkan bahwa lokasi ketiga situs megalitik yang berada di Desa Legokherang tersebut, dua diantaranya berada jauh dari pemukiman warga.

“Situs Gentong dan Batu Wayang jauh dari kehidupan warga setempat, sedangkan situs situ Kabuyutan berada di dekat desa. Sebelumnya pada tahun 2003 sudah ada upaya penelitian dari pihak ahli sejarah yang langsung meninjau ke lokasi situs megalitik tersebut berada, tapi hanya sekedar melakukan penelitian dan tidak ada tindak lanjut yang dialkukan dan hasilnya pun belum diketahui.” ujar Iwan.

Iwan menyebutkan bahwa kepedulian Mayjen (Purn) DR. Ir. H.Suharno, MM terhadap potensi peninggalan sejarah yang dapat dijadikan tempat pariwisata, seiring dan sejalan dengan pola pikirnya yang selain ingin merawat peninggalan sejarah, juga menginginkan agar daerahnya lebih maju dan data meningkatkan pendapatan daerah melalui potensi pariwisata.

Berikut ini keterangan mengenai situs peninggalan pra sejarah yang berada di Kuningan.

 

Situs Situ Kabuyutan

Situs Kabuyutan di Desa Legok Herang, Kabupaten Kuningan

Situ Kabuyutan berada di  Desa legokherang dengan jarak 100 meter sebelum masuk wilayah desa. Di situ Kabuyutan ini memiliki sebuah situ(telaga) yang dikelilingi oleh hutan rimbun. Didalam kawasan Situ Kabuyutan ini terdapat sebuah situs peninggalan sejarah yang berupa batu bulat berwarna putih seperti marmer dengan dihiasi tulisan zaman megalitik. Selain batu yang utama, ada juga dua anak batu yang bentuknya seperti timun sebesar betis orang dewasa dan berwarna hitam. Batu pamangkuan tersebut tergeletak diatas tanah dengan dikelilingi oleh lingkaran batu yang tersusun rapih. Situs batu Pamangkuan ini oleh warga setempat dipercaya dapat meramalkan apa yang dipertanyakan. Cara utuk menguji apa yang dipertanyakan adalah dengan mengangkat batu tersebut, apabila batu terasa berat dan tidak bisa diangkat maka jawabannya gagal dan bila terasa ringan berarti berhasil. Untuk bisa menjajal batu pamangkuan harus dibantu oleh juru kunci (Kuncen). Situs batu Pamangkuan kini tinggal cerita karena batu yang utama telah dicuri orang dan hanya menyisakan kedua anak batu yang berwarna hitam. Selain batu Pamangkuan dengan jarak tidak terlalu jauh sekitar 10 meter ke arah bawah terdapat sebuah sumur yang terbuat dari batu, sumur ini tidak dalam dan hanya berbentuk tempat penyimpanan air sebesar jolang. Konon katanya air yang ada didalam sumur ini tidak pernah kering dan dipercaya apabila dipakai untuk membasuh wajah akan memberikan aura positif dan awet muda.

 

Situs Gentong

Situs Gentong, yang berada di kaki Gunung Subang, Kuningan

Peninggalan sejarah megalitik ini  berada dikaki gunung Subang dan tepatnya di hutan lindung Gentong . Situs gentong adalah peninggalan berbentuk tempat air yang bernama gentong dan berada di atas punden berundak. Ada pun Gentong atau tempat air yang ada di situs sejarah ini terdiri dari 3 buah gentong dan satu Jubleg(lumpang batu).Wilayah situs Gentong meiliki beberapa tingakatan yang berbentuk undakan dan dari setiap undakan memiliki teras tang tidak terlalu luas. Untuk masuk ke puncak undakan tempat gentong berada harus melintasi anak tangga yang membelah undakan tersebut. Diantara jalan naik yang berbentuk anak tangga terdapat dua batu yang berdiri tegak di kanan dari jalan, dimana kedua batu tersebut diaggap sebagai gapura untuk pintu masuk ke puncak punden berundak.Tepat diatas puncak punden berundak terdapat tiga buah gentong dan satu jubleg, selain itu terdapat pula kuburan kuno yang dipercaya sebagai kuburan zaman megalitik. Gentong atau tempat air yang berada di situs ini terdiri dari tiga jenis, yang pertama berbentuk besar, polos tanpa ukiran dan sudah bolong sehingga tidak dapat menampung air, yang kedua berukuran sedang polos tanpa ukiran dan yang ketiga berbentuk kecil berdiameter sekitar 40 Cm dengan memiliki ukiran atau motif khusus. Gentong yang paling kecil telah hilang dicuri oleh manusia yang tidak bertanggung jawab dan kini hanya menyisakan cerita.

 

Situs Batu Wayang Puncak Gunung Subang

Situs Gentong, yang berada di puncak Gunung Subang, Kuningan

Situs batu Wayang berada di puncak gunung Subang yang mejadi pembatas antara Jawa Barat dengan Jawa Tengah, tepatnya sebagai perbatasan Kabupaten Kuningan dengan Cilacap, dengan ketinggian 1200 Meter Diatas Permukaan Laut, untuk bisa sampai ke puncak gunung Subang harus melaui jalur pendakian yang terjal dan licin. Batu Wayang berada tepat di pucak gunung, kenapa disebut batu wayang? Jawabannya karena bentuk batu sperti kepala wayang, yaitu batu pipih setebal bata dengan lebar sekitar 20 Cm, panjang 30 sampai 40 Cm. Selain batu Wayang, di puncak gunung Subang ini terdapat kuburan tua yang di duga sebagai kuburan seorang petapa yang meninggal saat bersemedi di atas gunung tersebut, tepat disamping kuburan terdapat sebuah batu pipih yang biasa digunakan sebagai duduk, selain itu sebelum masuk ke lokasi situs batu wayang ini terdapat pula dua batu yang berdiri di kanan dan kiri jalan layaknya gapura untuk pintu masuk. Situs batu wayang oleh warga setempat dianggap sebuah kutukan, sehingga di sekitar Desa Legokherang tidak boleh diadakan hiburan wayang golek karena akan menimbulkan bencana, mitos tersebut hingga saat ini masih berlaku dan masih dipatuhi oleh seluruh warga setempat. Dari ketiga situs megalitik yang ada di kawasan Desa Legokherang, situs batu wayang lah yang masih utuh keberadaannya. [Red/ISW]

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *