26 November 2020
  • 26 November 2020
Breaking News
  • Home
  • Redaksi
  • Merasa Terzolimi Wanita Separuh Baya Berteriak Histeris Minta Keadilan di PN Jakut

Merasa Terzolimi Wanita Separuh Baya Berteriak Histeris Minta Keadilan di PN Jakut

By on 16 November 2020 0 82 Views

ROC — Merasa terzolimi wanita separuh baya berteriak histeris di ruang sidang minta keadilan pada Majelis hakim yang dipimpin Tumpanuli Marbun SH, dalam putusan gugatan perbuatan melawan hukum (PMH), di Pengadilan Negeri (PN), Jakarta Utara, Senin (16/11).

Wanita yang diketahui istri dari Arwan Koty ini tiba-tiba berdiri, mengangkat tangan, maju mendekat ke majelis hakim saat membacakan putusan perkara Perbuatan Melawan Hukum (PMH) antara Penggugat I (Arwar Koty) dan Penggugat II (Alfin) melawan Tergugat I (PT. Indotruck Utama) dan Tergugat II (Tommy Tausihan, namun hakim Tumpanuli tidak meresponnya karena tidak melihat istri Arwan Koty yang hendak interupsi itu, anggota majelis Tiares Sirait SH MH memberitahukannya agar segera meresponnya.

“Pak Hakim, penggugat I tidak pernah menyerahkan bilyet giro ke tergugat II (Susilo Hadiwibowo). Penggugat II (Alfin) juga tidak pernah membuat Surat Pengakuan Hutang (SPH) tergugat tergugat II,” teriak  istri Anwar Koty kemudian menangis sambil memegang dadanya yang sesak.

“Yang dibacakan masih dari pihak penggugat dan tergugat. Belum pertimbangan Majelis Hakim, duduk saja dulu,” kata Hakim Tumpanuli

Tanggapannya tidak didengar Hakim, Istri Arwan Koty,  jatuh terduduk ke lantai ruang sidang, langsung menanngis histeris
berteriak dengan deraian air mata  menyebutkan bahwa pihaknyalah yang dirugikan, korban.

“Kami membeli alat berat excavator dua unit, salah satunya bahkan sudah lunas dibayar, tetapi tidak satu pun alat beratnya itu diterima sampai sekarang,”

“Kami korban, kami dirugikan Pak, di mana alat beratnya, kenapa bapak hakim tidak tahu duduk perkara yang sebenarnya. Baca dan pelajari Pak berkas-berkas perkaranya sebelum membuat putusan,” ujarnya sambil terus menangis dan berteriak dengan deraian air mata, ia menyebut kami adalah korban.

Tumpanuli yang sempat meminta penasihat hukum penggugat untuk mengamankan istri kliennya, akhirnya memanggil petugas pengamanan agar mengeluarkan wanita itu dari ruang sidang.

“Kalau begini jadinya, ke mana lagi kami harus mencari keadilan? Keluargaku sudah mengeluarkan uang miliaran rupiah untuk beli dua alat berat itu,” ujarnya sambil menangis.

“Suami saya dipidanakan dan dijadikan tersangka hanya karena mencabut pengaduan ke polisi, ke manakah lagi kami cari keadilan,” teriaknya terus menangis.

Istri penggugat menangis dan meronta-ronta tak terima ditenangkan wartawan dan petugas keamanan sidang. Kemudian ditenangkan kembali dan dibawa keluar ruang sidang oleh petugas keamana sidang PN Jakarta Utara.

Sementara itu, Majelis Hakim terus melanjutkan pembacaan amar putusan. Dalam putusannya, Tumpanuli menyatakab bahwa gugatan penggugat I dan II ditolak. Alasannya melalui jalur PMH tidak tepat untuk menyelesaikan persoalan tersebut. Dia mempersilahkan penggugat I dan II menempuh gugatan wanprestasi.

“Gugatan penggugat ditolak seluruhnya. Begitu juga gugatan rekonvensi dari tergugat I PT Indotruck Utama (IU) juga ditolak,” ujar Tumpanuli.

Menanggapi putusan itu, penasihat hukum penggugat menyatakan pertimbangan majelis hakim untuk perkara No. 144/Pdt.G/2020 salah dan keliru. Salah satu kekeliruan itu bahwa pinjaman penggugat I kepada tergugat II bersifat pribadi, karena adanya jaminan aset dari penggugat I tidak dapat ditransfer langsung kepada tergugat I.

Penggugat pun akan menempuh upaya hukum banding atas putusan majelis hakim PN Jakarta Utara tersebut.

(Nico)

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *