20 September 2020
  • 20 September 2020
Breaking News
  • Home
  • Redaksi
  • Marak Peredaran Obat-obatan dan Alat Medis Palsu Di Tengah Pandemi Covid-19

Marak Peredaran Obat-obatan dan Alat Medis Palsu Di Tengah Pandemi Covid-19

By on 13 April 2020 0 221 Views

Foto : idj

ROC, Senin (13/4/2020) – Wabah virus Corona atau Covid-19 yang saat ini melanda hampir di semua negara-negara besar, termasuk Indonesia, mengakibatkan banyak negara yang mengalami penutupan wilayah atau lockdown. Hal tersebut sangat berpengaruh besar di  segala aspek, termasuk pemerintahan, perdagangan dan perekonomian. Termasuk terhadap pengadaan dan pendistribusian obat-obatan atau alat medis. Wabah virus Corona memicu banyaknya obat-obatan dan alat medis palsu yang beredar di kalangan masyarakat seluruh dunia, efek dari rantai pasokan global obat-obatan dan alat medis yang mulai berantakan. Tidak hanya pengurangan produksi yang bermasalah, peningkatan permintaan juga jadi persoalan karena orang semakin cemas menumpuk obat-obatan dasar.

Banyak orang menumpuk persediaan obat-obatan yang mereka anggap penting. Namun dengan pembatasan wilayah di dua negara produsen obat terbesar di dunia, China dan India, permintaan kini melebihi pasokan. Hal itu memicu meningkatnya sirkulasi obat-obatan palsu.

Saat Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan pandemi virus Corona, Operation Pangea, Unit di Interpol melakukan 121 penangkapan di 90 negara selama tujuh hari, untuk melawan kejahatan farmasi global. Penangkapan ini disertai penyitaan terhadap obat-obatan palsu dan berbahaya senilai 14 juta dollar AS (sekitar Rp 221,2 miliar).

Dari Malaysia hingga Mozambik, petugas kepolisian menyita puluhan ribu masker dan obat-obatan palsu, beberapa di antaranya diklaim mampu menyembuhkan Covid-19.

“Perdagangan ilegal alat medis selama krisis seperti ini benar-benar memperlihatkan tidak adanya kepedulian terhadap hidup orang,” kata Sekjen Interpol Jurgen Stock.

Menurut WHO, perdagangan obat palsu, termasuk di dalamnya obat tercemar, obat tanpa bahan aktif, atau obat kadaluwarsa – nilainya bisa mencapai 30 miliar dolar AS (sekitar Rp 474 triliun) di negara-negara miskin dan negara berpendapatan menengah.

“Hasil terbaik dari obat ini adalah: mereka tidak menyembuhkan apa-apa, dan hasil terburuknya bisa merugikan karena bisa jadi obat-obatan itu beracun,” kata Pernette Bourdillion Esteve, anggota tim WHO yang mengurusi obat-obatan palsu.

Diketahui, nilai dari industri farmasi global adalah triliunan dolar AS. Rantai pasokan terbentang lebar dari pabrikan di China dan India, pengemasan di Eropa, Amerika Selatan atau Asia, hingga distributor pengirim obat ke seluruh dunia.

“Mungkin tak ada yang lebih terglobalisasi dibandingkan obat-obatan,” kata Esteve.

Rantai pasokan global yang mulai berantakan mengakibatkan beberapa perusahaan farmasi di India berkata kepada BBC, mereka kini menjalankan 50-60 persen kapasitas produksi. India memasok 20 persen dari obat-obatan dasar di benua Afrika, dan dengan ini maka banyak negara di Afrika akan terpengaruh.

Sementara itu, Ephraim Phiri seorang apoteker di Lusaka, Zambia, menyatakan ia sudah merasakan dampak itu.

“Kami sudah kehabisan obat-obatan, dan tidak bisa memasok gantinya. Kami tak bisa apa-apa. Susah sekali dapat pasokan, terutama obat seperti anti biotik dan obat anti malaria,” kata Phiri.

Produsen dan pemasok juga kepayahan karena bahan mentah untuk membuat tablet menjadi semakin mahal. Beberapa pabrik harus tutup sama sekali.

Satu produsen di Pakistan mengatakan, ia biasa membeli bahan mentah untuk obat anti malaria, hidroklorokuin, sekitar 100 dollar AS (sekitar Rp 1,6 juta) per kilogram. Kini harganya 1.150 dollar AS (sekitar Rp 18,1 juta) per kilogram.

Berkurangnya pasokan dan peningkatan permintaan membuat WHO mengingatkan bahayanya produksi dan penjualan obat-obatan palsu.

“Saat pasokan tak bisa memenuhi permintaan, akan terbentuk situasi di mana obat-obatan palsu berkualitas rendah mengisi permintaan itu,” kata Esteve.(red)

 

 

 

👉Terimakasih sudah membaca & membagikan link republikonline.com

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *