14 December 2019
  • 14 December 2019
Breaking News

Lho! Kenapa Murid SMP di Negara Ini Dilarang Pakai Rok

By on 4 July 2018 0 219 Views

London, ROC –Sejumlah sekolah setingkat SMP di Inggris, melarang siswa perempuannya untuk menggunakan rok, karena kebijakan tersebut dianggap netral gender. Hal tersebut dilakukan oleh  40 sekolah di Inggris.

Diwartakan Russian Today Selasa (3/7/2018), salah satu sekolah yang menerapkan larangan itu adalah Priory School di Lewes, Sussex Timur. Kepala sekolah Tony Smith berkata, kebijakan tersebut diberlakukan karena dianggap netral gender, dan mengakomodasi siswa transgender. Saat itu, siswa transgender itu menanyakan mengapa murid laki-laki dan perempuan harus mengenakan seragam sekolah yang berbeda.

“Meski kecil, namun jumlah murid transgender selalu bertambah. Jadi, seragam yang sama sangat penting bagi mereka,” kata Smith pada September 2017.

SMP Copleston di Ipswich memasukkan rok sebagai salah satu item yang dilarang selain penggunaan jins ketat dan tindik wajah.

Sunday Times via The Independent memberitakan, semua murid di sekolah tersebut diharuskan mengenakan celana panjang berwarna abu-abu. Sementara SMP Woodhey di Bury, rok dilarang karena dianggap “memalukan dan tidak bermartabat” ketika siswi duduk di lantai.

Kebijakan itu mendapat kritikan dari kalangan feminis yang menyebut seharusnya siswa mendapat pilihan bawahan apa yang bisa mereka kenakan. Salah satunya adalah mantan penasihat era Presiden Amerika Serikat (AS) Bill Clinton sekaligus penulis, Naomi Wollf.

“Saya kira memaksakan harus memakai celana merupakan kebijakan konyol. Dengan memberi mereka pilihan, para siswa bisa menemukan kenyamanan mereka,” tutur Wollf.

Kecaman juga datang dari murid di SMP Philips, Bury. Mereka menandatangani petisi agar rok tetap diizinkan dipakai di tahun ajaran 2018-2019. Murid wanita di sana berujar mereka lebih nyaman pakai rok. Mereka khawatir memakai celana panjang karena terpaksa bisa “merusak mental”.

Selain itu, para orangtua murid juga menjelaskan mereka tidak diajak berkonsultasi oleh pihak sekolah terkait kebijakan tersebut.

“Saya terkejut. Sebab, sekolah sama sekali tidak memberi penjelasan maupun mengajak kami berdiskusi,” kata Diane Burdaky, salah satu orangtua murid. [Red/Kompas]

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *