28 October 2020
  • 28 October 2020
Breaking News
  • Home
  • Redaksi
  • Lanjutkan Warisan Dahlan, Erick Realisasikan Merger Bank Syariah BUMN Februari 2021

Lanjutkan Warisan Dahlan, Erick Realisasikan Merger Bank Syariah BUMN Februari 2021

By on 5 July 2020 0 139 Views

Foto: Menteri BUMN Erick Thohir

ROC — Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di bawah kepemimpinan Erick Thohir berencana untuk menggabungkan bank syariah yang dimiliki Himpunan Bank-Bank Milik Negara (Himbara) menjadi satu entitas.

Realisasinya ditargetkan dapat terjadi pada Februari tahun depan.

Erick mengatakan, penggabungan bank syariah ini merupakan salah satu langkah untuk memperbesar sumber pendanaan dalam negeri pasalnya permintaan pendanaan syariah juga terbilang besar. Terutama bagi Indonesia yang memiliki penduduk Muslim terbesar.

“Dan untuk juga beberapa bank, kita coba sedang kaji bank-bank syariah kita ini nanti jadi semua kita coba merger-in. Insya allah Februari tahun depan jadi satu. Bank Syariah Mandiri, BNI. Supaya tadi ada opsi-opsi pendanaan yang percaya bisnis syariah kita mesti buka itu. Namanya pendanaan macam-macam kan ada mahal, murah, syariah kita mesti welcome semuanya itu,” kata Erick pekan ini.

Saat ini bank-bank syariah milik Himbara antara lain PT Bank Rakyat Indonesia Syariah Tbk (BRIS), PT Bank BNI Syariah, dan PT Bank Syariah Mandiri sudah menjadi satu entitas terpisah.

Sedangkan untuk Bank BTN masih berupa unit syariah (UUS) yaitu Unit Usaha Syariah PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN).

Menurut penelusuran tim riset CNBC Indonesia, merger ini akan menghasilkan satu entitas bank syariah baru dengan total aset sebesar Rp 207 triliun.

Nyatanya, rencana penggabungan bank syariah ini memang sudah pernah dibahas di masa kepemimpinan Menteri BUMN Dahlan Iskan era 2011-2014.

Rencana ini diberikan oleh Bank Indonesia. Deputi Gubernur BI saat itu Halim Alamsyah mengatakan bisnis perbankan syariah bank-bank BUMN saat ini masih rendah tingkat efisiensinya. Ini terutama karena tingginya investasi dan biaya di sektor IT, serta tingginya investasi untuk membuka cabang.

Untuk itu lebih baik dilakukan merger atau bisnis syariah milik bank-bank BUMN.

“BUMN syariah, masih terpecah, biaya operasional tinggi karena pengeluaran untuk IT tinggi. Beliau (Deputi BUMN Bidang Jasa) paham betul tanpa penyatuan strategi, investasi IT akan mahal,” kata Halim, dilansir dari detikcom.

BI dan Kementerian BUMN saat itu juga telah mulai merumuskan strategi tentang pembentukan dan penyatuan bank BUMN syariah. Harapannya, bank BUMN syariah bisa berdiri sendiri dan terpisah dengan bank BUMN konvensional.

Deputi Bidang Usaha Jasa Kementerian BUMN saat itu dijabat Gatot Trihargo mengatakan model paling efektif adalah konsolidasi atau penggabungan dari 4 bank syariah milik perbankan pelat merah. Namun, opsi tersebut masih terganjal karena 4 bank BUMN sudah menjadi perusahaan terbuka yang terdaftar di pasar modal.

“Yang realistis itu konsolidasi,” kata dia.

Sejalan itu, Dahlan saat itu juga menargetkan bahwa BUMN bisa memiliki satu bank syariah yang kuat sebagai market leader.

“Sebaiknya memang ada syariah yang kuat, di mana BUMN sebagai leader-nya. BUMN kan banknya kuat semua,” kata dia.(Red)

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *