7 July 2020
  • 7 July 2020
Breaking News

Kunci Makmurnya Suatu Negara, Mencontoh Negeri Raja Salman

By on 19 June 2020 0 54 Views

Oleh ; Mayjen TNI (P) Dr. Ir. H. Suharno, M.M

 

Sebagai negara multikultural, kita dihadapkan dengan banyak perbedaan baik dari perbedaan suku, adat, maupun agama. Kombinasi sempurna dalam terbentuknya suatu negara yang kuat dan memiliki toleransi tinggi, harus juga didasari dengan agama. Berdasar pada perkataan Imam Al-Ghazali bawa agama adalah fondasi dan negara adalah penjaganya, maka sangat diperlukan keselarasan dari keduanya agar negara tetap kuat dan nyaman bagi warganya.

Negara pada hakikatnya bertugas untuk melindungi hak warganya, baik hak untuk hidup, memperoleh pekerjaan, kesejahteraan, maupun menjalankan perintah agama yang mereka anut. Prinsip keadilan suatu negara, yaitu keadilan hukum yang harus sama rata sama rasa, tapi keadilan ekonomi itu sama rasa tapi tak sama rata.

Patokan suatu negara yang dapat dikatakan makmur, yaitu saat seluruh komponen negara tersebut, baik warganya hingga alamnya dapat sejahtera. Sedangkan untuk mendapatkan kemakmuran tersebut, diperlukan adanya kebiasaan untuk selalu bersyukur dan memanfaatkan nikmat Allah SWT sebaik- baiknya tanpa berlebih-lebihan.

Pertama kita mengambil contoh Kerajaan Saudi Arabia, walaupun negara tersebut merupakan padang pasir tandus, Namun mereka terlihat lebih makmur dan lebih maju. Kunci sebuah negara menjadi makmur dan maju. Pertama adalah ketersediaan Sumber Daya Alam (SDA). Negara Timur Tengah yang kaya akan minyak sudah terbukti lebih makmur dan maju.

Kemudian yang kedua adalah adanya Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas. Yang ketiga adalah kekuatan institusional, ini terletak pada sistem, mekanisme, prosedur, kultur dan seterusnya yang harus diperbaiki. Kemudian terakhir atau ke-empat adalah values atau nilai.

Baca Juga : Dengan Takwa, Kita Akan Baik Jika Melakukan Ini

 

Negara kita mempunyai 4 faktor untuk menjadi negara makmur tersebut. Namun yang harus diperbaiki adalah kinerja institusi dan pemerintah yang harus mendorong pertumbuhan perekonomian.

Contoh kemakmuran yang mungkin patut ditiru dari negeri Salman tersebut adalah;

  • Bahan Bakar Minyak harganya sangat murah, setara dengan satu botol air mineral di negeri kita.
  • Sekolah hingga kuliah di Saudi Arabia gratis dan dapat tunjangan hidup dan dapat asrama. Hal ini berlaku juga untuk warga asing yang ingin sekolah di sana.
  • Pengangguran di Arab Saudi menerima tunjangan sebesar 2,000 Riyal (± Rp.8 Juta) perbulan. Sedangkan mahasiswa di seluruh Universitas Negeri mendapat uang saku bulanan sekitar 900 Riyal (± Rp.3,6 juta), asrama gratis dan tanpa dipungut biaya kuliah sama sekali.
  • Minimal gaji bersih yang harus diterima oleh Saudi sebesar 2500 riyal (± Rp.10 Juta) per bulan untuk posisi (terendah) sebagai pegawai junior semisal sopir atau petugas keamanan.
  • Arab Saudi adalah produsen terbesar di dunia dan eksportir minyak, dan memiliki seperempat dari cadangan minyak dunia yang dikenal – lebih dari 260 miliar barel. Sebagian besar berada di Provinsi Timur, termasuk bidang onshore terbesar di Ghawar dan bidang lepas pantai terbesar di Safaniya di Teluk Arab. Kilang Arab Saudi memproduksi sekitar 8 juta barel minyak per hari, dan ada rencana untuk meningkatkan produksi menjadi sekitar 12 juta barel per hari.
  • Jalanan di Arab Saudi adalah jalan tol semua dan gratis semua.
  • Tidak ada pajak untuk warga negara Saudi. Sehingga harga mobil pun bisa lebih murah dari negeri produsennya.

Kira-kira apa yang menyebabkan negeri itu begitu maju dan makmur? Berikut penjelasannya.

  1. Negara tersebut memegang teguh Tauhid

Ini dibuktikan lewat dakwah Syaikh Al-Imam Al-Mujaddid Muhammad bin Abdul Wahhab sejak abad ke-18. Yang dahulu bekerja sama dengan Muhammad bin Saud.

Muhammad bin Abdul Wahhab dan Muhammad bin Saud membentuk kesepakatan untuk mendedikasikan diri mereka untuk memulihkan ajaran Islam yang murni kepada komunitas Muslim. Dalam semangat itu, bin Saud mendirikan negara pertama Arab Saudi, dengan  bimbingan spiritual Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.

Dakwah tauhid inilah yang menjadi dakwah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dakwah para Rasul.

Dalam ayat disebutkan,

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

Sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang mengajak; sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.” (QS. An-Nahl: 36).

Makanya di Saudi Arabia, tidak terlihat warganya doyan memakai jimat, susuk dan pelet; warganya juga sangat tidak suka dengan dunia perdukunan.

  1. Rakyatnya memperhatikan Ibadah

Saudi Arabia adalah satu-satunya negara yang mengharuskan penduduknya untuk menghentikan seluruh aktivitas perdagangan selama pelaksanaan shalat berjamaah yang mana setiap toko harus ditutup ketika telah dikumandangkan azan tanda masuknya waktu shalat wajib.

Orang yang menjaga shalat jamaah dan rajin menunggu shalat, pantas mendapatkan rahmat Allah. Itulah di antara buah dari menjaga shalat.

Para malaikat mendoakan orang yang menunggu shalat,

اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ اللَّهُمَّ تُبْ عَلَيْهِ

Ya Allah, rahmatilah ia. Ya Allah, ampunilah dia. Ya Allah, terimalah taubatnya.” (HR. Bukhari, no. 477 dan Muslim, no. 649)

Kata Umar bin Khattab, orang yang memperhatikan shalat tentu urusan lainnya akan lebih dimudahkan lagi.

Amirul Mukminin, Umar bin Al Khoththob –radhiyallahu ‘anhu– mengatakan, “Sesungguhnya di antara perkara terpenting bagi kalian adalah shalat. Barangsiapa menjaga shalat, berarti dia telah menjaga agama. Barangsiapa yang menyia-nyiakannya, maka untuk amalan lainnya akan lebih disia-siakan lagi. Tidak ada bagian dalam Islam, bagi orang yang meninggalkan shalat.“ (Lihat Ash-Shalah karya Ibnul Qayyim, hlm. 12)

  1. Kriminalitas relatif rendah dan ditindak tegas

Tingkat kriminalitas di Arab Saudi relatif rendah dibandingkan kebanyakan negara di dunia, namun setiap tindak kriminalitas akan ditanggapi secara serius. Tindak kejahatan seperti pemerkosaan, pembunuhan, kemurtadan, perampokan bersenjata dan perdagangan narkoba terancam hukuman mati dibawah hukum syariat Islam yang ketat yang diberlakukan otoritas Saudi.

Karena takut pada Allah dan menjalankan hukum Islam, akhirya buahnya adalah berkah dari langit dan bumi,

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آَمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al-A’raf: 96)

Lihatlah karena mau beriman dengan benar dalam hati yang dibuktikan dengan amalan, juga karena bertakwa pada Allah dengan menjauhi segala yang diharamkan, maka berkah dari langit dan dari dalam bumi akan dibuka. (Lihat Tafsir As-Sa’di, hlm. 305)

Baca Juga : Taqwa Sebagai Bekal Hidup dan Solusi Segala Masalah

Setelah kita lihat tadi kenapa Saudi Arabia bisa begitu makmur, yaitu karena mereka sadar akan tauhid dan menjauhi syirik, mereka memperhatikan shalat, juga mereka menindak tegas kriminal dan kejahatan.

Ada lagi alasan kenapa sampai Saudi Arabia terlihat lebih maju selain tiga hal tadi yang disebutkan, yaitu Saudi Arabia berusaha kembali pada Islam yang murni (pemahaman salaf)

Karena kembali pada Islam yang murni seperti yang dibawa oleh Rasul dan para sahabat radhiyallahu ‘anhum itulah yang membuat kita selamat dari kesesatan.

إِنِّي قَدْ تَرَكْتُ فِيْكُمْ مَا إِنْ اِعْتَصَمْتُمْ بِهِ فَلَنْ تَضِلُّوْا أَبَدًا كِتَابَ اللهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ

Aku telah tinggalkan bagi kalian dua perkara yang kalian tidak akan sesat selamanya jika berpegang teguh dengan keduanya yaitu: Al Qur’an dan Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Al-Hakim, sanadnya shahih kata Al Hakim).

Islam yang hakiki bukan hanya berpegang pada Al Qur’an dan Hadits, namun juga mesti ditambah dengan mengikuti para sahabat dalam beragama. Karena para sahabatlah yang mengetahui bagaimana wahyu itu turun. Dalam ayat, Allah Ta’ala memuji keimanan para sahabat radhiyallahu ‘anhum dan orang-orang yang mengikuti mereka dalam firman-Nya,

فَإِنْ آمَنُوا بِمِثْلِ مَا آمَنْتُمْ بِهِ فَقَدِ اهْتَدَوْا

Dan jika mereka beriman seperti keimanan kalian, maka sungguh mereka telah mendapatkan petunjuk (ke jalan yang benar).” (QS. Al-Baqarah: 137)

Jadi tidaklah cukup dengan berpegang dengan Al-Qur’an dan Hadits saja, namun hendaklah ditambahkan berpegang pula dengan pemahaman para sahabat (para salaf) radhiyallahu ‘anhum.

Semoga negeri kita tercinta ini menjadi negeri yang beriman dan bertakwa, diberi limpahan rezeki dan berkah, dikaruniakan kemakmuran; moga kita diangkat dari kemiskinan dan berbagai musibah, serta istiqamah di atas Islam, siap bersaing di papan atas menyalip negara super power lainnya.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *