28 October 2020
  • 28 October 2020
Breaking News

Korelasi Takwa Dalam Melayani Bangsa

By on 17 July 2020 0 112 Views

Oleh : Mayjen TNI (P) Dr. Ir. H. Suharno, M.M

 

Bagi umat manusia, tugas melayani bangsa dan negara adalah kewajiban sosial yang utama.

Saat ini, tentu saja, takwa berkorelasi dengan jawaban atas tantangan dan masalah bangsa. Kita sedang berjuang menghadapi pandemi corona, keterpurukan ekonomi. Bahkan semua negara di dunia mengalami guncangan yang luar biasa.

Mengapa takwa dapat menjadi kekuatan? Karena takwa itu tidak hanya berdimensi individual spiritual, tapi juga bersifat sosial. Istilah takwa, jika dirujuk ke makna awalnya, merupakan bentuk mashdar dari kata ittaqâ-yattaqi, yang bermakna menjaga diri dari segala yang membahayakan. Dalam Al-Quran, kata taqwa disebut 258 kali dalam berbagai bentuk dan konteks.

Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Al Quranul Azhim Juz I/388 mengatakan bahwa menurut Ibnu Abbas ayat “haqqa tuqaatihi'” itu berarti, antara lain, Allah SWT menuntut orang-orang untuk bersungguh-sungguh dalam jihad mereka di jalan Allah, tidak surut dalam perjuangan menegakkan agama Allah, serta tetap berpegang teguh pada keadilan dan sikap lurus, sekalipun terhadap diri mereka sendiri, bapak-bapak mereka, maupun anak-anak mereka.

Secara umum pengertian takwa adalah menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, baik dalam urusan pribadi, keluarga, masyarakat, maupun negara. Allah SWT menuntut penyerahan jiwa dan raga kepada Islam secara total. Seorang muslim akan senantiasa bersikap takwa secara hakiki. Ia sadar bahwa takwa itu bukanlah sekedar jargon dan slogan, tetapi sebuah disiplin untuk menjaga dirinya dari sentuhan siksa di hari kiamat.

Takwa bukanlah teori normatif, tetapi sebuah sikap yang berhubungan dengan aktivitas riil yang dilakukan atau ditinggalkannya.

Untuk umat Islam wajib menjaga disiplin shalat lima waktu; puasa Ramadhan; pergi haji; membaca Alquran; berjihad di bawah panji-panji kalimat tauhid di bawah komando kepala negara; menepati janji; maupun berdisiplin menjaga diri dari perkara yang haram; seperti tidak mau memakan riba, tidak memakan binatang yang diharamkan, tidak melibatkan diri dalam korupsi, tidak menzalimi rakyat kecil. Demikian pula untuk agama lainnya pun hal tersebut sudah tercantum.

Semuanya itu adalah wujud ketakwaan. Akhirnya, sebagai manusia yang lemah, bagaimanapun kita mesti berdoa agar menjadi manusia yang bertakwa di samping berusaha keras untuk mendisiplinkan diri menuju predikat pribadi muttaqin.

 

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *