23 February 2020
  • 23 February 2020
Breaking News
  • Home
  • Pojok Jum'at
  • Khutbah Mayjen (P) Suharno; Islam Ajarkan Untuk Memuliakan Kaum Hawa

Khutbah Mayjen (P) Suharno; Islam Ajarkan Untuk Memuliakan Kaum Hawa

By on 29 November 2019 0 665 Views

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا. يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.

أَمَّا بَعْدُ؛ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.

 

Jama’ah shalat Jum’at yang berbahagia!

Di era milenial ini, pembicaraan tentang kedudukan dan peran wanita adalah termasuk tema yang menjadi perhatian semua orang, baik dari kalangan intelektual maupun dari kalangan awam, di tiu maupun di barat. Betapa tidak, kaum wanita dengan kelemahlembutannya dapat melakukan hal-hal spektakuler, ia dapat melahirkan tokoh-tokoh besar yang membangun peradaban gemilang. Namun dengan kelemah-lembutannya pulalah ia dapat menjadi fitnah, penghancur dunia yang paling potensial.

Oleh karena itulah, ajaran Islam telah meletakkan dasar dan pondasi yang begitu kokoh untuk membangun pribadi wanita yang shalihah, sesuai dengan fitrahnya berdasarkan wahyu dari Rab yang telah menciptakannya.

Wanita dalam Islam sungguh memiliki kedudukan yang begitu mulia. Di mana pada dasarnya, kaum wanita atau perempuan telah diciptakan sebagai pendamping kaum lelaki dan menjadi mitra dalam membangun tatanan peradaban yang mulia.

Lantas di manakah bukti Islam memuliakan wanita?

Jemaah Jum’at yang semoga dirahmati Allah,

Pada kitab suci Alqur’an terdapat surah surat An Nisa’. Surah keempat dalam Alqur’an yang secara khusus menjelaskan tentang berbagai macam permasalahan yang menyangkut perihal perempuan. Di dalamnya dijelaskan tentang hak hak, kewajiban, dan kisah-kisah perihal wanita. Merupakan suatu hal yang sangat mulia di mana satu Juz dalam Kitabullah Al-Qur’an di setiap ayatnya membahas penuh perihal perempuan.

Para wanita juga memiliki kodrat untuk harus selalu dilindungi. Perempuan dilarang melakukan perjalanan jauh (Safar), tanpa didampingi oleh mahramnya. Hal ini dijelaskan dalam hadist Rasulullah yang artinya: “Janganlah sekali-kali seorang perempuan bersafar kecuali bersama dengan mahramnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Adapun surat yang menjelaskan tentang kewajiban melindungi wanita adalah firmanNya dalam QS, An-Nisa’ ayat 34 yang berbunyi:

“Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (isteri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberi nafkah dari hartanya.“ (QS. An-Nisa: 34).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga sering mengingatkan dengan sabda-sabdanya agar umat Islam menghargai dan memuliakan kaum wanita. Di antara sabdanya:

اِسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا

 “Aku wasiatkan kepada kalian untuk berbuat baik kepada para wanita.” (HR. Muslim).

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَهْلِى

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istrinya, dan aku adalah yang paling baik terhadap istriku.” (HR Tirmidzi).

Begitulah kemudian dalam undang-undang Islam, wanita dihormati, tidak boleh diwariskan, tidak halal ditahan dengan paksa, kaum laki-laki diperintah untuk berbuat baik kepada mereka, para suami dituntut untuk memperlakukan mereka dengan makruf serta sabar dengan akhlak mereka.

 

Baca Juga : Suharno, Jadi Jenderal Gara-Gara Idenya Ditolak Mendikbud Saat Kuliah

 

Jama’ah shalat Jum’at yang semoga dirahmati Allah,
Selain menjamin hak-hak wanita, Islam pun menjaga kaum wanita dari segala hal yang dapat menodai kehormatannya, menjatuhkan wibawa dan merendahkan martabatnya. Bagaikan mutiara yang mahal harganya, Islam menempatkannya sebagai makhluk yang mulia yang harus dijaga. Atas dasar inilah kemudian sejumlah aturan ditetapkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Dan agar berikutnya, kaum wanita dapat menjalankan peran strategisnya sebagai pendidik umat generasi mendatang.

Dan di antara aturan yang khusus bagi wanita adalah aturan dalam pakaian yang menutupi seluruh tubuh wanita. Aturan ini berbeda dengan kaum laki-laki. Allah memerintahkan demikian agar mereka dapat selamat dari mata-mata khianat kaum laki-laki dan tidak menjadi fitnah bagi mereka.

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnyake seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Ahzâb [33]: 59)

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا ۖوَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّ ۖوَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ

Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka ….” (QS. An-Nuur: 31)

Para wanita Muslimah pun diperintah oleh Allah untuk menjaga kehormatan mereka di hadapan laki-laki yang bukan suaminya dengan cara tidak bercampur baur dengan mereka, lebih banyak tinggal di rumah, menjaga pandangan, tidak memakai wangi-wangian saat keluar rumah, tidak merendahkan suara dan lain-lain.

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu.” (QS. Al Ahzâb [33]: 33)

Hikmah dari semua aturan syariat ini ditetapkan oleh Allah adalah dalam rangka menjaga dan memuliakan kaum wanita, sekaligus menjamin tatanan kehidupan yang baik dan bersih dari prilaku menyimpang yang muncul akibat hancurnya sekat-sekat pergaulan antara kaum laki-laki dan wanita. Merebaknya perzinahan dan terjadinya pelecehan seksual adalah diantara fenomena yang diakibatkan karena kaum wanita tidak menjaga aturan Allah diatas dan kaum laki-laki sebagai pemimpin dan penanggungjawab mereka lalai dalam menerapkan hukum-hukum Allah atas kaum wanita.

Hadirin yang berbahagia!
Penting difahami bahwa mereka yang membenci ajaran Islam telah mengetahui bagaimana nilai-nilai Islam seperti hijab syar’i dalam melindungi seorang muslimah, mereka juga faham perintah untuk tetap “tinggal di rumah saja” memberikan pengaruh yang sangat besar dalam menjaga kesucian dan kemuliaannya. Oleh karena itu, kita dapat melihat bagaimana mereka memerangi hijab muslimah dengan begitu gencar dan masif. Suatu waktu mereka menyebutnya sebagai sebuah kezaliman dan kejahatan atas wanita. Atau sebagai penghalang yang merintangi berkembangnya kebudayaan versi mereka, atau dikali lain mereka menyebut busana syar’i sebagai budaya Arab saja.

Seiring dengan itu, mereka juga mendorong para wanita muslimah untuk keluar dari rumah-rumah yang menjadi tempat perlindungan bagi mereka dengan alasan persamaan hak dan derajat antara pria dan wanita. Dan yang masih saja hangat sampai hari ini adalah sebuah ide sekular yaitu ide melakukan revisi atau perombakan terhadap fiqih Islam yang katanya selama ini hanya berpihak pada kaum pria.

Isu-isu gender pun dihembuskan. Apakah semua itu dilakukan oleh musuh-musuh Islam karena mereka kasihan dan ingin menolong wanita muslimah atau karena cinta kepada kaum muslimin? Sekali-kali tidak, hal ini, justru karena kebencian yang terpendam dalam hati-hati mereka; “Beginilah kalian, kalian mencintai mereka padahal mereka sama sekali tidak mencintai kalian.” (QS. Ali-Imran: 119).

Jemaah Jum’at yang semoga rahmatNya senantiasa tercurah kepada kita,
Setiap akal sehat akan dapat melihat permusuhan yang amat nyata dari kaum Yahudi dan Nasrani khususnya kepada umat Islam. Lewat kajian fakta sejarah, kita dapat melihat dengan jelas bagaimana mereka selalu menjadikan wanita muslimah sebagai sasaran mereka. Bukankah kaum Yahudi telah memancangkan permusuhannya terhadap hijab sejak mereka mengatur siasat untuk merobek hijab seorang muslimah dan menampakkan auratnya di pasar Bani Qainuqa’?! Dan hingga kinipun, permusuhan itu tetap membara, sebab mereka mengetahui bahwa rusaknya kaum wanita pertanda rusaknya tatanan masyarakat.

Namun sangat disayangkan, entah berapa banyak dari kaum muslimin sendiri yang menyerahkan diri mereka kepada tipu-daya mereka. Entah berapa banyak dari kaum muslimin yang turut serta membantu mereka memerangi hijab syar’i ini. Mereka inilah para korban “brain washing” yang dilancarkan dalam berbagai aspek kehidupan.

Kaum muslimin para hamba Allah yang berbahagia!
Oleh karenanya, melalui mimbar Jum’at yang mulia ini kami mendakwahkan kepada para penanggung jawab kaum wanita, para bapak, para suami dan para saudara, renungkanlah bahwa anak-anak generasi yang berada dalam pengasuhan kita adalah amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawabannya.

كُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، الإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، …”

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannnya. Seorang kepala negara adalah pemimpin atas rakyatnya dan akan diminta pertanggungjawaban perihal rakyat yang dipimpinnya. Seorang laki-laki adalah pemimpin atas anggota keluarganya dan akan ditanya perihal keluarga yang dipimpinnya…” (HR. Bukhari dan Muslim)

 

Baca Juga : Rumahku Adalah Surgaku

 

Melalui mimbar Jum’at ini pula, kami mengingatkan para pemudi Islam bahwa seorang muslim akan mudah terpengaruh fitnah syahwat dan syubhat jika ia enggan mempelajari dan mengamalkan agamanya. Padahal ilmu agama sangatlah penting bagi seorang muslim.

Ya, hal itu yang kini banyak ditinggalkan kaum muslimin. Tidak sedikit dari kaum muslimin mencukupkan diri dengan apa yang telah dipelajari dari orang tuanya dahulu atau dari sekolahannya dahulu tanpa mau mempelajarinya lagi dengan menghadiri pengajian atau membaca buku islami. Tidak heran kalau ilmu agama kita jalan di tempat alias tidak bertambah.

Menuntut ilmu dalam hal ini adalah pendidikan agama merupakan bekal utama manusia mengarungi kehidupan di dunia. Pendidikan pada dasarnya adalah penguatan akidah. Apa yang dipelajari oleh setiap orang, itulah yang menjadi keyakinannya. Bila ia mempelajari hal yang keliru, besar kemungkinan ia akan jatuh pada kekeliruan. Begitu pula sebaliknya.

Dalam kitab Ta’limul muta’allim, Syaikh Az-Zarnuji memaparkan bahwa setiap muslim tidak diwajibkan menguasai seluruh cabang ilmu, namun diwajibkan atasnya menuntut ”ilmu hal”, yaitu ilmu tentang kondisi kekinian. Para ulama menyebutkan bahwa yang dimaksud ilmu hal tersebut adalah ilmu usuluddin (dasar-dasar agama atau akidah) dan ilmu fiqh. Jadi, dengan memahami keduanya, seorang muslim sudah terlepas dari kewajiban yang harus dipenuhinya.

Akhirnya, semoga wasiat ini dapat bermanfa’at dalam proses perbaikan terhadap ummat. Semoga bagi kita sekalian dianugerahkan taufiq dan inayah untuk membangun kekuatan dan kejayaan ummat seperti sedia kala. Aamiin.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *