21 August 2019
  • 21 August 2019
Breaking News

Antara Hijrah dan Farmasi

By on 14 September 2018 0 144 Views

Tahun baru Hijriah, yang diperingati setiap bulan Muharram dan tahun ini bertepatan dengan 1440 H, merupakan salah satu bulan yang mulia dari empat bulan yang dimuliakan Allah selain Dzulhijjah, Dzulqa’dah, dan Rajab.

Hijrah sangat luas artinya, dan bisa diterapkan di semua aspek kehidupan, salah satunya adalah motivasi untuk berubah dan berhijrah, seperti pola pikir dan tindakan, serta memanfaatkan potensi yang dimiliki sesuai dengan profesi masing -masing untuk membantu orang lain, agama dan Negara.

Hal tersebut disampaikan oleh Mayjen (Purn) Dr. Ir. H. Suharno, MM, Calon Anggota DPD-RI Dapil Jabar dalam khutbah jumat yang dilaksanakan di SMK Farmasi Adjeng Suharno, di Jalan Raya Ciparay, Majalaya, Kabupaten Bandung.

“Bulan Muharram adalah bulan yang mulia, hari ‘Asyura adalah hari yang mulia. Bulan Muharram adalah musim kebaikan, momen yang baik untuk melakukan perdamaian, momen yang baik untuk meningkatkan amal, sedekah, menyantuni anak yatim, dan menolong mereka yang membutuhkan. Bulan Muharram sebagai bulan awal tahun baru hijriah menjadi momen yang terbaik untuk melakukan hijrah, hijrah dari sifat yang tercela menuju sifat yang terpuji,” ujar Suharno di hadapan para jamaah sholat jumat.

Lanjutnya, dari pernyataan tersebut, Suharno mengajak para jamaah untuk meningkatkan motivasi dan berubah serta berhijrah ke perilaku yang lebih baik. Merekatkan tali persaudaraan, memanfaatkan potensi yang dimiliki sesuai dengan profesi masing-masing untuk membantu orang lain, membantu agama, dan membantu negara.

“Seorang hamba akan selalu mendapatkan perlindungan dari Allah SWT selama ia bermanfaat dan membantu kesusahan saudaranya. Semoga kita dapat menjadi orang yang selalu berhijrah menuju kebaikan dan menjadi orang yang bermanfaat untuk masyarakat, agama, dan bangsa. Allahumma Aamiin,” ucapnya.

Salah satu hal yang dititikberatkan dalam khutbahnya dihadapan siswa, guru dan pengurus SMK Farmasi Adjeng Suharno tersebut, ayah yang mempunyai tiga anak ini menyebutkan bahwa profesi di bidang Farmasi sangatlah bermanfaat dan bisa membantu banyak orang.

“Teknik farmasi atau pengobatan sudah ada sejak dahulu, berpusat di daerah Sumeria atau yang kita kenal negara Irak sekarang, Menurut data sejarah, tabib-tabib bangsa Sumeria telah mengenal pengobatan sejak 4000 tahun sebelum masehi. Pada masa tersebut terdapat dua cara pengobatan Pertama, menggunakan pengobatan dukun dengan menggunakan ramuan, pijatan, lalu dijampi dengan meminta bantuan jin. Kedua, dengan pengobatan yang ilmiah dimasa itu ramuan herbal, madu, al-kayy bakar, lasah atau fisioterapi, bahkan para tabib telah menuliskan ilmu-ilmunya dalam buku-buku yang dibuat dari tanah liat,” paparnya.

Suharno melanjutkan, metoda pengobatan semakin berkembang pada 1200 sebelum masehi oleh Bangsa Babiluuniyah (Babilon), yang masih serumpun dengan bangsa Arkadia dengan Raja Hamurabi sebagai raja sangat terkenal. Dimasa Raja Hamurabi kemajuan segala ilmu didapat. Bidang kedokteran yang berkembang saat itu antara lain al-kayy bakar, lasah (fisioterapi), ilmu peramu obat (farmakologi) dan bahkan konon telah ada obat-obatan jaman Babilonia dalam bentuk pil. Dibidang kedokteran didapati yang terkenal dimasa itu adalah dibedakannya antara tabib dengan kahin (dukun). Tabib berperan sebagaiahli pengobatan yang jauh dari tahayul, sedangkan kahin/dukun masih menghubungkan segala sesuatu dengan hal yang di luar jangkauan akal.
Mesir.

Sebelum mengakhiri khutbahnya, Mayjen (Purn) Suharno meminta kepada para jamaah agar bisa kreatif dan dapat melihat peluang dalam potensi pengembangan tanaman herbal. Secara berkelompok maupun individu dapat memproduksi tanaman herbal obat, natural, alami. Mulai dari menanam, memproses, marketing sehingga menghasilkan uang dan membuka lapangan kerja. (Red)

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *