22 October 2020
  • 22 October 2020
Breaking News
  • Home
  • Pojok Jum'at
  • Khutbah Jumat Mayjen (P) Suharno; Wali Allah Mendapatkan Ujian, Apalagi Kita Manusia Biasa

Khutbah Jumat Mayjen (P) Suharno; Wali Allah Mendapatkan Ujian, Apalagi Kita Manusia Biasa

By on 10 April 2020 0 477 Views

Khutbah Mayjen TNI (P) Dr Ir H Suharno, M.M, disampaikan dalam menyikapi munculnya pandemik virus corona yang meluluhlantakan semua sektor, dalam kajian islam hal tersebut merupakan sebuah ujian yang harus dihadapi. Apalah daya kita sebagai umat muslim yang biasa dan penuh dengan dosa, Nabi, Wali Allah, pun mendapatkan ujian dari Allah SWT. Berikut petikan nya.

 

الحمدُ لله، الحمدُ لله حمدًا كثيرًا طيبًا مُبارَكًا فيه كما يُحبُّ ربُّنا ويرضَى، وأشهدُ أن لا إله إلا الله وحدَه لا شريكَ له عظيمٌ في ربوبيَّته وألوهيَّته وأسمائِه وصفاتِه، حكيمٌ في مقاديرِه وأحكامِه، وأشهدُ أن محمدًا عبدُه ورسولُه ابتُلِيَ بالسرَّاء فشَكَر، وبالضرَّاء فصَبَر، صلَّى الله وسلَّم وبارَك عليه، وعلى آله وأصحابِه، والتابِعِين لهم بإحسانٍ إلى يومِ لِقائِه.

أما بعدُ .. معاشر المؤمنين:

فاتَّقُوا الله حقَّ التقوَى، واستمسِكُوا من الإسلام بالعُروة الوُثقَى، ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَآمِنُوا بِرَسُولِهِ يُؤْتِكُمْ كِفْلَيْنِ مِنْ رَحْمَتِهِ وَيَجْعَلْ لَكُمْ نُورًا تَمْشُونَ بِهِ وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ﴾ [الحديد: 28].

“Hai orang-orang yang beriman (kepada para rasul), bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian, dan menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan dan Dia mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS:Al-Hadiid | Ayat: 28).

Umat Islam,

Allah ﷻ tidak menjadikan hamba-hamba-Nya senantiasa langgeng dalam keadaan stabil. Para walinya tidak selalu dalam keadaan nikmat. Akan tetapi dengan hikmah-Nya, Dia membuat ujian dan musibah. Dia hendak mensucikan hamba-hamba-Nya dengan musibah-musibah tersebut. Sehingga Dia uji mereka dengan ujian dan kesulitan.

﴿وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ﴾

“Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (QS:Al-Anbiyaa | Ayat: 35).

Setiap orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir pasti memiliki bagian musibah. Hal itu telah dikabarkan oleh Allah ﷻ Yang Maha Suci nama-nama-Nya.

﴿أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ (2) وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ﴾

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS:Al-‘Ankabuut | Ayat: 2-3).

Dan musibah itu sesuai dengan kadarnya. Dari Saad bin Abi Waqqash radhiallahu ‘anhu,

قُلتُ: يا رسولَ الله! أيُّ الناس أشدُّ بلاءً؟ قال: « الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِى دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِىَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَمَا يَبْرَحُ الْبَلاَءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِى عَلَى الأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ »؛ رواه الترمذي

“Aku bertanya, Wahai Rasulullah, siapakah yang paling berat musibahnya?” Beliau menjawab, “Para Nabi, kemudian yang semisalnya dan semisalnya lagi. Seseorang akan diuji sesuai dengan kondisi agamanya. Apabila agamanya begitu kuat (kokoh), maka semakin berat pula ujiannya. Apabila agamanya lemah, maka ia akan diuji sesuai dengan kualitas agamanya. Seorang hamba senantiasa akan mendapatkan cobaan hingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan bersih dari dosa.” (HR. at-Turmudzi).

At-Turmudzi mengatakan, “Hadits ini hasan shahih.”

Para nabi ‘alaihimussalam adalah orang yang paling berat cobaannya. Tapi mereka adalah orang yang paling lapang dadanya. Dan paling optimis ketika menghadapinya.

Kekasih Allah Rabbul ‘alamin, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, ketika beliau dilemparkan ke api, beliau mengatakan,

﴿حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ﴾

“Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.” (QS:Ali Imran | Ayat: 173).

Demikian juga dengan Kalimullah, Nabi Musa ‘alaihissalam, beliau dan kaumnya terkepung antara lautan dan serangan musuh yang bengis. Ketika para pengikutnya mengatakan,

﴿إِنَّا لَمُدْرَكُونَ (61) قَالَ كَلَّا إِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهْدِينِ﴾

“Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul”. Musa menjawab, “Sekali-kali tidak akan tersusul; sesungguhnya Tuhanku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku”. (QS:Asy-Syu’araa | Ayat: 61-62).

Ketika Nabi Ya’qub ‘alaihissalam kehilangan anak yang paling ia sayangi, ia mengatakan,

﴿يَا بَنِيَّ اذْهَبُوا فَتَحَسَّسُوا مِنْ يُوسُفَ وَأَخِيهِ وَلَا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ﴾

“Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.” (QS:Yusuf | Ayat: 87).

Adapun nabi kita, Muhammad ﷺ, beliau menjumpai berbagai macam musibah. Beliau disakiti kaumnya. Diusir dari kampung halamannya. Mereka bersekongkol untuk membunuhnya.

﴿وَإِذْ يَمْكُرُ بِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِيُثْبِتُوكَ أَوْ يَقْتُلُوكَ أَوْ يُخْرِجُوكَ وَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ اللَّهُ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ﴾

“Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya.” (QS:Al-Anfaal | Ayat: 30).

Nabi ﷺ adalah orang yang paling indah sikap sabarnya. Dan yang paling berbaik sangka kepada Allah ﷻ.

Di Perang Uhud, gigi graham Nabi ﷺ patah. Wajah dan kepala beliau terluka. Dan darahnya terus mengalir di wajahnya yang mulia. Kemudian beliau menyeka lukanya dan bersabda,

كيف يُفلِحُ قومٌ شجُّوا نبيَّهم؟!

“Bagaimana bisa suatu kaum beruntung sedang mereka melukai nabi mereka”?! (Muttafaqun ‘alaih).

Mereka mematahkan gigi nabi, padahal nabi mengajak mereka ke jalan Allah.

Di Perang Uhud, para sahabatnya, orang-orang yang dekat di hatinya dan sangat beliau cintai juga ditimpa musibah. Di antara mereka adalah paman beliau, Hamzah radhiallahu ‘anhu. Perutnya dibelah dan hidungnya dipotong. Dan dimakamkan di kaki Gunung Uhud 70 orang sahabat terbaik Nabi ﷺ.

Sampai-sampai Nabi ﷺ berandai syahid bersama mereka pada hari itu. Di dalam Musnad Imam Ahmad dengan sanad yang hasan, Nabi ﷺ bersabda,

أما واللهِ لودِدتُ أني غُودِرتُ مع أصحابِي بحضنِ الجبَل

“Demi Allah, aku berharap kalau aku pergi bersama sahabat-sahabatku di pangkuan Uhud.”

Beliau berserah diri kepada Allah, tapi beliau juga tak mampu menutupi kesedihannya. Beliau melihat keadaan para sahabatnya dan berusaha meringankan musibah yang mereka hadapi. Beliau tampakkan keridhaan pada takdir Allah atas musibah yang menimpanya.

Dalam Musnad Imam Ahmad dan selainnya, dengan sanad yang shahih, ketika Rasulullah ﷺ selesai memakamkan para sahabatnya yang gugur di Perang Uhud, beliau berkata kepada para sahabatnya,

استَوُوا حتى أُثنِيَ على ربِّي

“Naiklah kalian hingga dipuji di sisi Rabbku.”

Kemudian para sahabat membentuk shaf, beliau ﷺ berdiri lama memuji Allah ﷻ dengan pujian yang pantas untuk-Nya.

Di antara doa beliau ﷺ adalah:

اللهم لك الحمدُ كلُّه، اللهم لا قابِضَ لما بسطتَ، ولا باسِطَ لما قبضتَ، ولا هادِيَ لمن أضللتَ، ولا مُضلَّ لمن هدَيتَ، ولا مُعطِيَ لما منَعتَ، ولا مانِعَ لما أعطَيتَ، ولا مُقرِّبَ لما باعدتَ، ولما مُباعِدَ لما قرَّبتَ، اللهم ابسُط علينا من بركاتِك ورحمتِك وفضلِك ورزقِك

“Ya Allah, segala puji hanya bagi-Mu. Ya Allah, tidak ada yang bisa menahan apa yang Engkau lepaskan. Tidak ada yang bisa melepas apa yang Engkau tahan. Tidak ada yang bisa memberi petunjuk kepada orang yang Engkau sesatkan dan tidak ada yang bisa menyesatkan orang yang Engkau beri petunjuk. Tidak ada yang bisa memberi apa yang Engkau tahan dan tidak ada yang bisa menahan apa yang Engkau berikan. Tidak ada yang bisa mendekatkan apa yang Engkau jauhkan dan tidak ada yang bisa menjauhkan apa yang Engkau Dekatkan. Ya Allah, karuniakan kepada kami sebagian dari berkah, rahmat, karunia, dan rezeki-Mu.”

Pada tahun ke-5 H, para musuh bersatu untuk memerangi Nabi ﷺ. Mereka datang dari segala sisi. Nabi ﷺ bersabar dan berharap pahala dengan besarnya ujian yang beliau hadapi.

Dalam Shahih al-Bukhari, dari al-Barra radhiallahu ‘anhu, ia mengatakan bahwa Nabi ﷺ mengangkat tanah tatkala peristiwa penggalian khondak hingga perut beliau terkotori tanah. Beliau mengumandangkan syair,

اللّهُمَّ لَوْلَا أنت مَا اهْتَدَيْنَا وَلَا تَصَدّقْنَا وَلَا صَلّيْنَا

فَأَنْزِلَنْ سَكِينَةً عَلَيْنَا وَثَبّتْ الْأَقْدَامَ إنْ لَاقَيْنَا

إنّا الألى قد بَغَوْا عَلَيْنَا وَإِنْ أَرَادُوا فِتْنَةً أَبَيْنَا

Ya Allah, seandainya bukan karena-Mu, maka kami tidak akan mendapatkan petunjuk,
tidak akan bersedekah dan tidak akan melakukan shalat,
Maka turunkanlah ketenangan kepada kami,
serta kokohkan kaki-kaki kami apabila bertemu musuh.
Sesungguhnya orang-orang musyrik telah berlaku semena-mena kepada kami,
apabila mereka menghendaki fitnah, maka kami menolaknya.

Tidak terasa, penggalian parit (khondaq) ini pun berlangsung selama setengah bulan. Di antara mereka ada yang merasakan sangat kelaparan dan mulai lemas. Di saat itu, mereka mendapati sebuah batu besar yang sangat sulit dipecahkan. Semakin habislah tenaga mereka.

Jabir radhiallahu ‘anhu menggambarkan keadaan itu dengan mengatakan, “Pada Perang Khondaq, kami menggali. Kemudian kami mendapati batu besar yang keras. Para sahabat pun menemui Rasulullah ﷺ. Mereka mengatakan, ‘Ada sebuah batu besar di parit’. ‘Aku yang akan turun (menggalinya)’, jawab Rasulullah. Kemudian beliau berdiri dan perut beliau diganjal dengan batu. Karena lapar. Tiga hari kami tidak mendapati makanan.

Kemudian Nabi ﷺ mengambil cangkul dan memukulkannya ke batu. Batu itu lembut bagaikan tumpukan pasir. (HR. al-Bukhari).

Kelompok-kelompok sekutu musuh sudah mengepung Madinah –malam itu adalah malam yang dingin-. Jumlah mereka lebih dari 10.000 pasukan. Sedangkan sahabat Nabi ﷺ jumlahnya tidak lebih dari 3000 orang. Dan dari dalam terdapat orang-orang Yahudi Bani Quraizhah yang telah membatalkan perjanjian mereka dengan Nabi ﷺ.

Keadaan pun semakin genting dan musibah semakin melilit. Rasa takut dan lapar bercampur, diaduk oleh udara yang dingin di malam hari. Alasan zhahir untuk mendapat kemenangan pun rasa-rasanya sudah tak lagi ada. Jumlah pasukan dan perlengkapan pun tak sebanding. Itulah saat kesulitan bertemu dengan kesulitan. Allah ﷻ menyifati hari itu dengan firman-Nya,

: ﴿إِذْ جَاءُوكُمْ مِنْ فَوْقِكُمْ وَمِنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَإِذْ زَاغَتِ الْأَبْصَارُ وَبَلَغَتِ الْقُلُوبُ الْحَنَاجِرَ وَتَظُنُّونَ بِاللَّهِ الظُّنُونَا (10) هُنَالِكَ ابْتُلِيَ الْمُؤْمِنُونَ وَزُلْزِلُوا زِلْزَالًا شَدِيدًا﴾

“(Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika tidak tetap lagi penglihatan(mu) dan hatimu naik menyesak sampai ke tenggorokan dan kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam purbasangka. Disitulah diuji orang-orang mukmin dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang sangat.” (QS:Al-Ahzab | Ayat: 10-11).

Dalam keadaan demikian, Rasulullah ﷺ memberi kabar gembira kepada sahabatnya dengan janji Rabb mereka. Jalan keluar dari kesulitan. Dan kebinasaan musuh mereka.

Diriwayatkan dalam as-Sunan al-Kubra oleh al-Baihaqi: Ketika musibah yang menimpa Nabi ﷺ dan para sahabatnya terasa kian sulit, banyak orang-orang menampakkan kemunafikannya. Mereka berbicara dengan ucapan yang buruk. Ketika Rasulullah ﷺ musibah dan kesulitan yang diderita kaum muslimin, beliau memberi mereka kabar gembira,

والذي نفسِي بيدِه؛ ليُفرَّجنَّ عنكم ما ترَونَ من الشدَّة والبلاء، فإني لأرجُو أن أطُوفَ بالبيتِ العتيقِ آمنًا، وأن يدفعَ الله – عز وجل – مفاتِحَ الكعبة، وليُهلِكنَّ الله كِسرَى وقيصَر، ولتُنفقنَّ كنوزُهما في سبيلِ الله

“Demi Dzat yang jiwaku berada di tanga-Nya, pasti Dia memberi jalan keluar dari musibah berat yang kalian lihat ini. sunnguh aku berharap aku akan thawaf di Ka’bah dalam keadaan aman. Allah -ﷻ- akan menyerahkan kunci Ka’bah. Allah akan hancurkan Kisra (Persia) dan Kaisar (Romawi). Dan perbendaharaan mereka akan diinfakkan di jalan Allah.”

Ibadallah,

Musibah tidak akan hilang kecuali dengan tauhid. Pada saat Rasulullah ﷺ dikepung di Perang Ahzab beliau memperbanyak ucapan:

لا إله إلا الله وحده، أعزَّ جُندَه، ونصَرَ عبدَه، وغلَبَ الأحزابَ وحدَه، فلا شيءَ بعدَه

“Tiada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah semata. Dia yang memuliakan tentara-Nya. Menolong hamba-Nya. Mengalahkan kelompok sekutu sendirian. Tidak ada lagi (tempat berharap) selainnya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Adapun orang-orang munafik yang di dalam hari mereka terdapat penyakit, keadaan mereka seperti itulah keadaan mereka di setiap tempat dan waktu. Mereka gentar dan hina. Mereka menebarkan rasa takut dan kelemahan di barisan orang-orang yang beriman. Sebagian di antara mereka mengatakan, “Muhammad menjanjikan kepada kita perbendaharaan Kisra dan Kaisar, sekarang seorang di antara kita saja tidak aman untuk menunaikan keperluannya.”

Sebagian di antara mereka meminta izin kepada Nabi ﷺ untuk pulang ke rumah. ucapan mereka Allah ﷻ abadikan di dalam Alquran:

﴿إِنَّ بُيُوتَنَا عَوْرَةٌ وَمَا هِيَ بِعَوْرَةٍ إِنْ يُرِيدُونَ إِلَّا فِرَارًا﴾

“Sesungguhnya rumah-rumah kami terbuka (tidak ada penjaga)”. Dan rumah-rumah itu sekali-kali tidak terbuka, mereka tidak lain hanya hendak lari.” (QS:Al-Ahzab | Ayat: 13).

﴿وَإِذْ يَقُولُ الْمُنَافِقُونَ وَالَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ مَا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ إِلَّا غُرُورًا﴾

“Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata: “Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya”.” (QS:Al-Ahzab | Ayat: 12).

Adapun orang-orang beriman, ash-shadiqun, mereka tidak kehilangan ikatan mereka dengan Rabb mereka. Mereka yakin dengan pencipta mereka. Betapapun besar musibah yang menimpa mereka di jalan Allah. Para sahabat radhiallahu ‘anhum, berbaik sangka kepada Allah. Mereka tetap kookh. Mereka bertawakal dan yakin bahwa mereka akan ditolong.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Perang Ahzab adalah perang dimana Allah menolong hamba-hamba-Nya. Allah muliakan tentara-Nya tanpa harus berperang. Orang-orang yang beriman tetap teguh. Semenara musuh-musuh mereka kebalikannya.

﴿وَلَمَّا رَأَى الْمُؤْمِنُونَ الْأَحْزَابَ قَالُوا هَذَا مَا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَصَدَقَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَمَا زَادَهُمْ إِلَّا إِيمَانًا وَتَسْلِيمًا﴾

“Dan tatkala orang-orang mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata: “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita”. Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan.” (QS:Al-Ahzab | Ayat: 22).

بارَك الله لي ولكم في القرآنِ العظيم، ونفعَني وإياكم بما فيه من الآياتِ والذكرِ الحكيم، أقولُ قولي هذا، وأستغفِرُ اللهَ لي ولكم من كلَّ ذنبٍ، فاستغفِروه؛ إنه هو الغفورُ الرحيم.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *