26 October 2020
  • 26 October 2020
Breaking News
  • Home
  • Pojok Jum'at
  • Khutbah Jumat, Mayjen (P) H. Suharno; Unjuk Rasa Dalam Kacamata Islam

Khutbah Jumat, Mayjen (P) H. Suharno; Unjuk Rasa Dalam Kacamata Islam

By on 4 October 2019 0 1008 Views

Pada zaman tatkala semua orang boleh menyampaikan aspirasinya, bebas berbicara, bebas menentukan hak pilihnya, dan bebas berekspresi, ternyata kita saksikan fenomena tersebut banyak sekali menerabas dan melanggar undang-undang Islam. Di antara sikap yang menyelisihi norma Islam itu adalah melakukan demonstrasi (unjuk rasa), yaitu sebuah gerakan protes yang dilakukan sekumpulan orang di hadapan umum.

KHUTBAH PERTAMA

Kaum muslimin yang dimuliakan oleh Allah

Pada zaman tatkala semua orang boleh menyampaikan aspirasinya, bebas berbicara, bebas menentukan hak pilihnya, dan bebas berekspresi, ternyata kita saksikan fenomena tersebut banyak sekali menerabas dan melanggar undang-undang Islam. Di antara sikap yang menyelisihi norma Islam itu adalah melakukan demonstrasi (unjuk rasa), yaitu sebuah gerakan protes yang dilakukan sekumpulan orang di hadapan umum.

Demostrasi biasanya dilakukan untuk menyatakan pendapat kelompok tersebut atau menentang pendapat kelompok tersebut atau menentang kebijakan yang diberlakukan oleh suatu pihak. Unjuk rasa pada umumnya dilakukan oleh kelompok mahasiswa yang menentang kebijakan pemerintah atau para buruh yang tidak puas dengan perlakuan majikannya, atau juga para karyawan dan pegawai yang minta dinaikkan gajinya. Di samping itu, ada juga unjuk rasa yang dilakukan oleh kelompok-kelompok lain dengan tujuan-tujuan yang lain pula.

Sebagaimana kita ketahui, demonstrasi ini telah berkembang dan menjamur di tanah air tercinta. Dan yang lebih parah lagi, unjuk rasa dijadikan sebagai simbol kebebasan berekspresi di Indonesia. Itulah profil demonstrasi (unjuk rasa), salah satu di antara produk-produk sistem demokrasi yaitu gagasan hidup yang mengutamakan persamaan hak dan kewajiban serta perlakuan yang sama bagi semua warga negara. Semua itu adalah undang-undangnya orang kafir.

Unjuk rasa terjadi hampir setiap hari di berbagai bagian di negeri kita. Misalnya, ketika pemerintah menaikkan harga bahan bakar -yang berakibat melonjaknya harga bahan pokok dan lainnya- maka sebagian masyarakat dan para aktivis pelajar tidak menerima keputusan pemerintahan tersebut. Mereka pun menyikapinya dengan mengerahkan massa dan menggalang persatuan dalam rangka mengadakan demostrasi dan mengungkap kejelekan-kejelekan pemerintah di atas mimbar. Ujung-ujungnya terjadilah tindakan anarkis, kekerasan, dan pengrusakan. Itulah sekelumit fenomena yang dapat kita rekam di tengah-tengah masyarakat.

Ketahuilah, wahai saudaraku, tindakan-tindakan itu semua tidaklah menyelesaikan perkara tetapi justru memperparah dan memperumit masalah. Sikap ini termasuk penyakit jiwa. Apbila melihat seuatu yang tidak selaras dengan kehendaknya dan tidak disepakati oleh hawa nafusnya, maka muncullah di dalam jiwanya keluh kelas.

Sebagaimana Allah berfirman,

إِنَّ اْلإِنسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا {19} إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا {20} وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا {21}

“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh keash lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan maka ia berkeluh kesah. Dan apabila ia mendapat kebaikan maka ia amat kikir.” (QS. Al-Ma’arij: 19-21)

Kaum muslimin rahimani wa rahimakumullah,

Demonstrasi dan unjuk rasa bukanlah jalan dakwah sebagaimana yang diutarakan oleh sebagian orang. Sebagai seorang muslim sudah sepatutnya untuk mengetahui terlebih dahulu apakah aktivitas semacam ini dibenarkan secara syar’i ataukah tidak. Mungkinkah kita memperjuangkan Islam, menasihati pemerintah melalui demonstrasi dan unjuk rasa di pinggir-pinggir jalan dan di gedung-gedung parlemen? Adakah hal ini semua dipraktikkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat, dan tabi’in, yang mana mereka merupakan generasi terbaik umat ini. Tidak pernah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memperjuangkan Islam dengan cara ini, bahkan hal ini akan menimbulkan banyak madharat (kerugian) yang lebih besar.

Tidak ada kebaikan sedikit pun yang kita peroleh kecuali kalau kita mencontoh suri teladan umat ini yaitu Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam para sahabatnya, dan para tabi’in yang sudah mapan ilmunya dalam berdakwah. Cukuplah mereka kita jadikan panutan dalam bersikap dan bertindak untuk meraih kembali kejayaan Islam yang kini telah terlepas dari kaum muslimin. Hendaklah kita mengingat perkataan Imam Malik

لَا يُصْلِحُ آخِرُ هَذِهِ الأُمَّةِ إِلَّا بِمَا صَلَحَ بِهِ أَوَّلُهَا

“Tidak akan baik penghujung umat ini kecuali dengan sesuatu yang telah memperbaiki generasi awalnya.” (Lihat Hal al-Muslimu Mudzaman Bittiba’i Madzhab Mu’ayyan oleh Muhammad Sulthon al-Ma’shumi al-Khunjadi: 100)

Kaum muslimin yang dimuliakan oleh Allah

Tidak tersembunyi lagi bahwa mafsadat (kerusakan) yang diakibatkan demonstrasi amatlah besar. Demonstrasi bukanlah jalan keluar dari masalah yang dihadapi oleh pemerintah. Jika memang tujuannya untuk menasihati pemerintah bukanlah seperti itu caranya melainkan dengan menasihati mereka (pemerintah) dengan cara yang syar’i dan ittiba (ikut) kepada salaf sholih. Nasihatilah mereka dengan cara sembunyi-sembunyi, bukan dengan demonstrasi, bukan dengan mengerahkan massa sambil membawa spanduk bertuliskan kritikan (baca: hujatan) kepada pemerintah. Wal’iyadzu billah.

Cukuplah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi renungan kita dalam masalah ini. Beliau bersabda,

مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِذِيْ سُلْطَانٍ فَلاَ يُبْدِهِ عَلاِنِيَةً وَلَكِنْ لِيَأْخُذْ بِيَدِهِ فَيَخْلُوْ بِهِ فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فَذَاكَ وَإِلاَّ كَانَ قَدْ أَدَّى الَّذِيْ عَلَيْهِ

“Barang siapa yang hendak menasihati penguasa pada suatu masalah, maka janganlah dia tampakkan dengan terang-terangan. Akan tetapi, hendaklah ia pegang tangannya dan menyendiri dengannya. Kalau dia menerima (nasihat itu) maka itu bagus, namun jika tidak maka dia telah menunaikan kewajibannya untuk memberikan nasihat.” (HR. Ahmad dalam Musnadnya-nya: 3:403 dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Zhilal al-Jannah:1096)

Sebab itu, kita harus memahami bahwa nasihat bagi pemerintah adalah dengan menaati mereka dalam perkara yang ma’ruf, mendoakan mereka, dan menunjuki mereka ke jalan yang benar serta menjelaskan kekeliruan yang mereka lakukan supaya dapat dihindari. Dan hendaknya nasihat itu diberikan secara rahasia (empat mata) antara si pemberi nasihat dan penguasa tersebut. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,

مَنْ رَأَىْ مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيْرِّهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيْمَانِ

“Barang siapa melihat sebuah kemungkaran hendaklah ia ubah dengan tangannya, jika tidak mampu maka ubahlah dengan lisannya, jika tidak mampu maka bencilah kemungkaran itu dalam hatinya.” (HR. Muslim: 49)

Di antara para ulama yang menyebutkan dampak buruk demonstrasi adalah Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin. Beliau berkata, “Sesungguhnya demonstrasi adalah perkara baru yang tidak dikenal pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak pula pada zaman Khulafaur Rasyidin dan para sahabat lainnya. Kemudian pada demonstrasi juga terdapat kericuhan dan kekacau-balauan, keributan, dan gangguan keamanan, sehingga menyebabkan hal ini dilarang. Pada demonstrasi juga sering terdapat pengrusakan; pemecahan kaca, pintu, dan selainnya (tindakan anarkis), begitu pula ikhtilath (campur baur antara laki-laki dan wanita) serta mengakibatkan kerusakan kemungkaran dan yang semisalnya.” (Lihat Al-Jawab al-Abhar, Hal.75)

Syaikh Al-Alamah Ahmad bin Yahya Muhammad an-Najmi, tatkala mengomentari kelompok Ikhwanul Muslimin beliau berkata, “Tanzhim berupa gerakan pengerahan massa dan demonstrasi, Islam tidak mengenal tindakan semacam ini dan tidak pula mengakuinya. Ini merupakan perkara yang baru (ada akhir-akhir ini). Bahkan demonstrasi adalah perbuatan orang-orang kafir yang telah ditiru oleh kebanyakan kaum kita (umat Islam). Lantas apakah setiap kali orang-orang kafir melakukan suatu perbuatan mengharuskan kita menyetujui perbuatan mereka? Sesungguhnya Islam ini tidak akan menang apabila diraih dengan cara pengerahan dan unjuk rasa. Namun, Islam akan menang dengan jihad yang dibangun di atas aqidah yang shahih dan jalan yang ditempuh oleh Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sesungguhnya para rasul dan pengikutnya telah mendapatkan berbagai macam cobaan tetapi mereka tidak diperintah selain untuk bersabar.” (Al-Maurid al-Adzbuz Zulal, Hal.225)

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذا، وَأَسْتَغْفِرُ اللّهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ, إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *