31 March 2020
  • 31 March 2020
Breaking News

Khutbah Jumat: BISNIS DAN JIHAD

By on 12 July 2019 0 3266 Views

Pada Jumat kali ini, Mayjen TNI (Purn) Dr. Ir. H. Suharno, M.M, membahas mengenai bisnis atau usaha yang dibelanjakan atau dipergunakan dijalan Allah, maka akan disebut jihad. berikut kupasannya.

 

بِسْمِ اللهِ الرَّ ْحمَنِ الرَّحِيْمِ

اَلْحَمْدُِللهِ الَّذِىْ خَلَقَ اْلاِنْسَانَ وَعَلَّمَهُ اْلبَيَانَ. وَاَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِاْلهُدَى وَدِيْنِ اْلحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلىٰ سَائِرِاْلأَدْيَانِ. وَاَشْهَدُاَنْ لاَاِلٰهَ اِلاَّاللهُ اْلوَحِدُ اْلمَنَّانُ. وَاَشْهَدُاَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا ُمحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلَهُ اْلمَبْعُوْثُ اِلىٰ كَافَةِ اْلأَنَامِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلىٰ هٰذَا النَّبِيِّ اْلكَرِيْمِ اْلمُمَجَّدِ وَالرَّسُوْلِ السَّنَدِ اْلعَظِيْمِ سَيِّدَنَا وَمَوْلاَنَا ُمحَمَّدٍ وَعَلىٰ اٰلِهِ وَاَصْحَابِهِ عَلىٰ َممَرِّالدُّهُوْرِ وَاْلأَيَّامِ. ﴿اَمَّابَعْدُ﴾ فَيَاعِبَادَاللهِ، اِتَّقُواللهَ فِى كُلِّ مَكَانٍ، وَاُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِ بِطَاعَةِ اللهِ وَرَسُوْلَهُ فىِ كُلِّ زَمَانٍ.

Hadirin Sidang Jum’at yang Dimuliakan Allah.

Dalam Kitab Durratun Nasihin pada Bab yang menjelaskan tentang keutamaan ilmu, dikisahkan bahwa : Kelak di hari kiamat ada 4 jama’ah yang diantar ke depan pintu Surga tanpa melewati hisab dan tanpa merasakan sedikitpun siksaan. Mereka adalah :

  1. Orang ‘Alim yang mengamalkan ilmunya
  2. Haji Mabrur yang tidak berbuat kerusakan atas ibadah hajinya.
  3. Pejuang Syahid yang tewas di medan perang demi mempertahankan agama Allah.
  4. Bisnisman yang dermawan yang memperoleh hartanya dengan usaha yang halal dan membelanjakannya untuk Fi Sabilillah tanpa riya’.

 

Baca Juga : Orang Jujur Hebat, Pendusta Sengsara Dunia Akhirat!

 

Di antara mereka berlomba saling mendahului untuk masuk Surga. Atas perintah Allah Jibril mengajukan beberapa pertanyaan. Pertama, Jibril bertanya kepada pejuang yang mati syahid. “Apa amalmu di dunia sehingga kamu hendak memasuki Surga  di urutan awal?” Mereka menjawab : “Kami pejuang syahid yang tewas di medan perang semata mencari ridho Allah SWT.” Lalu Jibril bertanya : “Darimana kamu peroleh penjelasan tentang pahala bagi pejuang yang mati syahid?” mereka menjawab : “Dari para ‘Ulama.” Sahut jibril “Peliharalah baik-baik adab dan kesopananmu terhadap para ulama yang mendidik dan mengajarmu serta membimbingmu.” Kemudian Jibril bertanya kepada jama’ah haji mabrur dari mana mereka mendapat penjelasan tentang :

اَلْحَاجُّ اْلمَبْرُرُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ اِلاَّاْلجَنَّةَ

Haji yang mabrur tiada balasannya kecuali surga

Mereka menjawab dari para ‘ulama. Lalu Jibrilpun bertanya kepada para dermawan, dari mana mereka mendapat keterangan bahwa harta yang dibelanjakan untuk fi sabilillah akan mengantarkan pelakunya memperoleh surga Allah SWT?. Merekapun menjawab : “Dari para ‘Ulama.” Maka Jibril berkata : ”Kalian tidak boleh masuk surga sebelum para ‘ulama masuk surga terlebih dahulu.” Namun dengan rendah hati ‘ulama itu berkata : “Ya Tuhanku, keberhasilanku dalam bidang ilmu pengetahuan tidak lain karena bantuan dari para bisnisman yang dermawan yang selalu memberikan beasiswa kepadaku, oleh karena itu Ya Allah izinkanlah para saudagar yang dermawan itu masuk surga terlebih dahulu. Maka Allah berfirman :

صَدَقَ اْلعَالِمُ. يَارِضْوَانْ اِفْتَحْ اَبْوَابَ اْلجَنَّةِ حَتَّى يَدْخُلَ السَّخِىُّ اْلجَنَّةَ وَهٰؤُلاَءِبَعْدَهُ

 “Benar pernyataan orang ‘alim itu. Wahai Malaikat Ridwan, bukakanlah pintu surga, masukkan bisnisman yang dermawan terlebih dahulu kemudian diikuti oleh jama’ah yang lain.”

 

Baca Juga : Khutbah Jumat; Jujur itu Berat, tapi Harus!

 

Hadirin Sidang Jum’at yang Dimuliakan Allah.

Cuplikan kisah di atas menggambarkan betapa mulianya menjadi seorang bisnisman yang dermawan yang mau mengeluarkan hartanya untuk kemaslahatan ummat dan betapa eratnya hubungan antara jihad dengan berbisnis.

Allah SWT menyebutkan harta benda dalam al-Qur’an , dengan al-Khair (kebaikan) sebagaimana firman Allah SWT dalam surah al-‘Aadiyat ayat 8 :

وَاِنَّهُ لِحُبِّ الْخَيْرِ لَشَدِيْدٌ

dan sesungguhnya cintanya terhadap harta benar-benar berlebihan.”

Maka dapat kita katakan, bahwa pada dasarnya berbisnis itu adalah suatu kebaikan. Tinggal bagaimana kita mengelola bisnis itu, apakah memilih jalur yang halal atau sebaliknya. Apabila jalan haram yang dipilih, seperti curang dalam timbangan, barang rusak dikatakan bagus, menipu pembeli, maka harta benda itu akan menjadi fitnah.

Namun, secara fitrah harta benda merupakan kebaikan. Itulah sebabnya mengapa dalam ayat-ayat yang berbicara tentang jihad, Allah SWT selalu mandahulukan kalimat “amwal” dari pada “anfus”. Allah lebih dahulu mengutamakan harta dibandingkan dengan jiwa, karena tidak ada perang yang tidak membutuhkan dana.

Di ayat yang lain, al-Qur’an mengaitkan jihad dengan bisnis. Allah SWT berfirman :

يٰآاَيُّهَاالَّذِيْنَ اٰمَنُوْاهَلْ اَدُلُّكُمْ عَلٰى ِتجَارَةٍ تُنْجِيْكُمْ مِنْ عَذَابٍ اَلِيْمٍ. تُؤْمِنُوْنَ بِاللهِ وَرَسُوْلِهِ وَتُجَاهِدُوْنَ فىِ سَبِيْلِ اللهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَاَنْفُسِكُمْ

Wahai orang-orang yang beriman! Maukah kamu Aku tunjukkan suatu perdagangan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? Yaitu kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu…” (QS; as-Shaff : 10-11).

Dengan demikian, jihad di jalan Allah merupakan suatu bisnis yang untungnya berlipat ganda. Seperti halnya prinsip dasar bisnis, yaitu mendapatkan keuntungan, demikian pula perniagaan atau penawaran bisnis yang Allah sampaikan, selayaknya kita mendapatkan keuntungan dari setiap penjualan yang kita lakukan.

Itulah mengapa, Abu Bakar as-Shiddiq ra. mau bersusah payah mengeluarkan hartanya hanya untuk memerdekakan seorang budak yang bernama Bilal bin Rabah. Demikian pula Utsman bin Affan ra. yang membeli sebuah sumur dari orang yahudi dengan harga tinggi untuk kepentingan umat Islam yang pada saat itu sedang mengalami kekeringan. Itulah sebabnya, ketika Utsman ra. memberikan separuh hartanya untuk Islam Rasulullah SAW memberikan penghargaan dengan mengucapkan :

اِفْعَلْ مَاشِئْتَ دَخَلَ اْلجَنَّةَ

“Ya Utsman, sekarang kamu berbuat apa saja pasti masuk surga”. Sungguh luar biasa penghargaan yang Rasulullah berikan kepada para pebisnis.

Hadirin Sidang Jum’at yang Dimuliakan Allah.

Di saat orang ramai-ramai berjihad melalui dunia politik, ekonomi syari’ah, pendidikan dan lainnnya, maka berjihad melalui dunia bisnis, harus dilakukan. Namun sayang, belum banyak umat Islam yang terjun di dalamnya. Kini, semua hanya tinggal kesungguhan kita untuk terjun dan menjalaninya, karena sejarah kesuksesan pasti berulang, sebagaimana para sahabat pernah melakukannya. Yakni membangun kekuatan Islam melalui dunia bisnis, lahirlah pribadi mandiri, yang tidak berharap dari harta negara ataupun ingin hidup dari negara. Tapi, justru menghidupinya.

Disinilah titik penting mangapa kita perlu mengubah apa yang telah kita lakukan selama ini. Yakni melirik kembali potensi, minat dan kekuatan diri, sehingga mau mengubah arah dengan melakukan bisnis. Dengan demikian kita akan menjadi bagian dari mujtahid-mujtahid yang mempersiapkan diri untuk menegakkan kalimah Allah SWT.

 

Hadirin Sidang Jum’at yang Dimuliakan Allah.

Hal lain yang penting untuk kita cermati bersama adalah, bahwa orang-orang kafir telah lama berkumpul dan bersatu untuk menghancurkan Islam melalui dunia bisnis. Yakni dengan cara menekan lewat kekuatan ekonomi, penindasan dan monopoli serta menguasai aset-aset penting umat Islam. Allah SWT telah mengingatkan kita melalui firman-Nya :

اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْايُنْفِقُوْنَ اَمْوَالَهُمْ لِيَصُدُّوْا عَنْ سَبِيْلِ اللهِ

“Sesungguhnya orang-orang kafir itu, menginfakkan harta mereka untuk menghalang-halangi (orang) dari jalan Allah…”(QS; al-Anfal : 36)

Di saat umat Islam masih sibuk dengan wacana dan retorika, orang-orang kafir telah melakukan aksi nyata dengan cara menginfakkan harta mereka untuk menghalangi kita dari jalan Allah. Oleh karena itu, sebagai umat Islam kita harus ada keseimbangan antara dimensi ritual dan sosial. Tidak pada tempatnya kita melakukan banyak ibadah ritual tapi menepikan kepekaan sosial. Sebaliknya, tidak juga merupakan kebaikan jika orang yang berjasa pada lingkungan dan masyarakat, tapi mengabaikan ibadah ritual. Karenanya, perlu dikoreksi mengapa harus berkali-kali pergi haji? Berkali-kali haji berarti hanya menumpuk amal untuk diri sendiri. itu egois namanya. Tidakkah lebih baik melakukan ibadah haji cukup sekali dua kali, demi menunaikan kewajiban dan sunah. Biaya haji atau umrah untuk berikutnya bisa disalurkan pada jalur-jalur sosial., sehingga masalah sosial ikut terselesaikan.

Masih banyak masyarakat miskin yang memerlukan bantuan. Masih banyak kegiatan sosial yang macet karena kekurangan dana. Masih banyak madrasah dan sekolah yang atapnya bocor, masjid yang masih dalam tahap renovasi dan terbengkalai. Anak-anak yatim yang putus sekolah karena tidak ada biaya. Semuanya itu masih menunggu uluran tangan-tangan para dermawan yang mau menyisihkan sebagian hartanya untuk kemaslahatan umat Islam. Karena kalau tidak, maka kita akan sangat jauh tertinggal. Semoga kita semua diberikan kekuatan oleh Allah SWT untuk selalu mencintai kebaikan hingga akhir hayat nanti. Amin…

 

باَرَكَ اللهُ ِلى وَلَكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلأَ يَاتِ وَالذِّكْرِ اْلحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّاوَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَالسَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *