11 July 2020
  • 11 July 2020
Breaking News
  • Home
  • Redaksi
  • Khofifah Laporkan Alasan ke Presiden Jokowi, Kenapa Penularan Corona Jatim Kembali Naik

Khofifah Laporkan Alasan ke Presiden Jokowi, Kenapa Penularan Corona Jatim Kembali Naik

By on 26 June 2020 0 61 Views

Surabaya, ROC – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengaku sempat senang berhasil menekan tingkat penularan (rate of transmission) virus Corona baru atau Covid-19 di Jawa Timur.

Tingkat penularan Covid-19 itu berhasil ditekan setelah penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di Surabaya Raya yang berakhir pada 8 Juni 2020.

“Pak Presiden, sebetulnya kami sudah sempat mendapatkan satu kebahagiaan ketika tanggal 9 Juni sebetulnya rate of transmission di Jawa Timur itu sudah 0,86 persen,” kata Khofifah di depan Presiden Joko Widodo seperti dikutip YouTube Sekretariat Presiden, Kamis (25/6).

Namun, tingkat penularan virus corona baru atau Covid-19 kembali naik. Tercatat, tingkat penularan Covid-19 di Jawa Timur menjadi 1,08 persen pada 24 Juni 2020.

Khofifah menjelaskan, tingkat penularan di Surabaya Raya sempat di bawah 1 selama enam hari.

Tingkat penularan di Kota Surabaya di bawah 1 selama enam hari, Kabupaten Sidoarjo selama delapan hari, dan Kabupaten Gresik selama enam hari.

Khofifah dan jajarannya sempat lega mendapati hal itu. Ia mulai berpikir untuk menerapkan konsep tatanan normal baru di Jawa Timur.

“Hari itu kami udah merasa bahwa kita tunggu sebentar lagi, delapan hari lagi, kalau terus di bawah 1, kita siap masuk ke new normal,” kata dia.

Namun, tingkat penularan Covid-19 di Jatim justru melonjak. Hal itu disebabkan masyarakat yang tak mematuhi protokol kesehatan.

Menurut dia, masih banyak masyarakat Jawa Timur yang tak mengindahkan imbauan untuk bersilaturahim secara virtual saat Idul Fitri.

“Tidak mudah mengajak masyarakat, halalbihalal secara digital saja ternyata dianggap kurang afdol,” kata Khofifah.

Khofifah juga menjabarkan temuan IKA Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga.

Berdasarkan temuan itu, terdapat 81,7 persen tempat ibadah yang masih aktif. Sebanyak 70,6 persen pengunjung tak mengenakan masker dan 64,6 persen tak menjaga jarak.

Masyarakat di pasar tradisional juga serupa. Pemprov Jawa Timur telah berulang kali membagikan masker dan pelindung wajah.

“Pasar tradisional meski sudah dibagikan masker berkali-kali kami juga minta menggunakan face shield, tapi masih 84,1 persen tidak menggunakan masker,” ujarnya.

Khofifah juga menyoroti sejumlah kafe dan restoran yang biasa dijadikan tempat berkumpul warga Jawa Timur. Saat berkumpul, masih banyak warga yang tak memakai masker.

“Pada posisi seperti inilah yang kemudian munculnya klaster-klaster baru, terutama di titik yang potensi kerumunan massa itu berasal,” kata dia.

Sebanyak 10.263 kasus positif Covid-19 tercatat di Jawa Timur hingga Rabu (24/6/2020). Rinciannya, 3.3236 pasien sembuh, 6.043 dirawat, dan 767 meninggal.

Kota Surabaya menjadi wilayah terbanyak yang memiliki kasus Covid-19 di Jawa Timur. Tercatat 4.962 kasus positif di Kota Pahlawan hingga Rabu (24/6).

Sebanyak 1.838 pasien dinyatakan sembuh, 2.755 dirawat, dan 369 pasien meninggal.(Red)

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *