21 October 2020
  • 21 October 2020
Breaking News
  • Home
  • Redaksi
  • Kemenko Marves : Big Policy Dalam Penguatan Blue Economy Pasca Pandemi Covid-19

Kemenko Marves : Big Policy Dalam Penguatan Blue Economy Pasca Pandemi Covid-19

By on 29 May 2020 0 181 Views

 

Foto: Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya Maritim Kemenko Marves, Safri Burhanuddin

Jakarta, ROC — Sejumlah negara termasuk Indonesia tengah melakukan berbagai kebijakan dalam memulihkan perekonomian akibat pandemi Covid-19 atau Virus Corona, salah satunya dalam sektor _Blue Economy_ (Ekonomi Biru).

Hal tersebut diungkapkan Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya Maritim Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves), Safri Burhanuddin dalam acara _International Maritime Webinar Series “Building Stronger Blue Economy After Covid-19 Pandemic_” yang bekerja sama dengan _CSIRO_ dan _UN-ESCAP_ serta dihadiri lebih 600 peserta dari berbagai negara.

“Jadi hari ini kita ada pertemuan terkait _Blue Economy_, di mana membahas bagaimana respon dan aksi masing-masing negara, apa yang mereka lakukan terhadap pandemi Covid-19 ini melalui model _Blue Economy_. Kemudian hasilnya semua kita gabung dan ketahui bahwa Covid-19 berdampak luar biasa terhadap sektor _Blue Economy_. Sehingga perlu kerja sama mengurangi dan memperbaiki dampak tersebut,” kata Deputi Safri, Kamis (28/5).

Untuk Indonesia sendiri, Deputi Safri menjelaskan, pertama kali dilakukan dalam menghadapi Covid-19 adalah mengubah cara pandang seperti apa yang disampaikan Presiden Jokowi yakni hidup berdampingan dengan Covid-19.

“Setelah kita memperhatikan, kita pelajari bahwa kita akan hidup berdampingan dengan Covid-19 dalam waktu yang cukup lama, maka mau tidak mau kita harus menghadapi kenyataan ini. Cara menghadapi kenyataan ini dengan kita tidak harus bersembunyi, kita harus menghadapi dan tentu secara bertahap kita akan terbuka dengan hal ini,” jelasnya.

Khusus dalam _Blue Economy_ seperti wisata bahari, perikanan dan makanan laut, pemakalah dari CSIRO, Andy Steven menjelaskan bahwa permasalahan yang sama dihadapi oleh Australia. Hingga saat ini juga tengah berjuang mencoba untuk mempebaiki sistem logistik dan kembali memperkuat pasar.

“Nah sekarang dengan aktivitas ekonomi saat ini, pasar otomatis terbuka, kegiatan transportasi jalan. Kemudian kalau nanti mall atau restoran mulai buka, maka bahan-bahan baku seperti _seafood_ akan bertambah. Ini akan memajukan pertumbuhan ekonomi,” ujarnya.

Sejalan dengan hal itu, _Director Environment & Development_, UN-ESCAP, Dr. Stefanos Fotiou menekankan bahwa kita harus siapkan semuanya ini, dan kita harus menerima kenyataan sekarang dengan tentu caranya yang berbeda, seperti kalau dulu kita bisa datang ke restoran beramai-ramai, untuk sekarang kita batasi karena _social distancing_, dan itu akan menyesuaikan dan adaptasi akan hal itu. Demikian juga dikatakan bahwa konservasi laut dan pengendalian perubahan iklim tetap harus berjalan walaupun pandemi ini sedang terjadi.

Memang di satu sisi, lanjut Deputi Safri, bahwa Covid-19 menjadikan lingkungan lebih bagus, namun sayangnya membuat ekonomi tidak berjalan. Padahal jika membahas _Blue Economy_, maka baik lingkungan maupun ekonomi harus tetap berjalan dan memberikan manfaat bagi banyak orang di semua lapisan.

“Jadi kalau cuma lingkungan yang jalan dan ekonomi tidak bermanfaat, maka _Blue Economy_ belum jalan. Jadi ini sekarang bagaimana kita menyeimbangkan situasi baru dan dengan situasi ini kita bisa beradaptasi dengan Covid-19, tetapi ekonomi kita tetap berjalan dengan baik,” imbuhnya.

Dijelaskan juga, peran Kemenko Marves dalam _Blue Economy_ sendiri adalah sebagai _leading sector_ sekaligus pembuat “_big policy_” sehingga semua saling bersinergi, dengan teknis di dalamnya ada Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian ESDM, Kementerian PUPR, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif serta Badan Koordinasi Penanaman Modal.

“Jadi kita semua harus jalan, harus saling bersinergi. Dalam hal ini ada suatu pembangunan berkelanjutan, programnya bertambah, penggunaan dan adaptasi teknologi termasuk dalam _new energy_ menggunakan arus, solar, dan sebagainya,” ucap Deputi Safri.

Pertemuan internasional secara virtual seperti ini rencananya akan dilakukan secara reguler dengan mengangkat isu-isu terkini,” tutup Andreas Hutahaean selaku koordinator pelaksana webinar.(Ire Djafar)

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *