12 November 2019
  • 12 November 2019
Breaking News
  • Home
  • Nasional
  • Kelanjutan Dugaan Pungli Korban Tsunami di RSKM

Kelanjutan Dugaan Pungli Korban Tsunami di RSKM

By on 8 January 2019 0 5532 Views

SERANG – Pasca pengungkapan pungutan liar (pungli) pengambilan jenazah korban tsunami Selat Sunda di Rumah Sakit Drajat Prawiranegara (RSDP), polisi kini mendalami dugaan yang sama di Rumah Sakit Krakatau Medika (RSKM) Kota Cilegon.

Setelah diusut Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Cilegon, kini perkara tersebut dilimpahkan ke penyidik Polda Banten.

Direktur Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Banten Kombes Pol. Abdul Karim membenarkan hal itu. Menurutnya, saat ini penyidik telah mendalami perkara tersebut.

“Benar, perkaranya resmi dilimpahkan ke Polda Banten dari Polres Cilegon. Saat ini kami masih lakukan lidik, dan mendalami kasusnya,” ujar Kombes Pol. Abdul Karim saat ditemui wartawan di Mapolda Banten.

Dugaan pungutan itu dialami dua orang korban tsunami asal Lingkungan Ramanuju Tegal, Kelurahan Citangkil, Kecamatan Citangkil, Kota Cilegon. Keduanya adalah Nafis (8 dan Danita Handalia (21).

Muginarto, orangtua Nafis kepada wartawan menuturkan, masalah tersebut bermula ketika dia kehilangan komunikasi saat anaknya menjadi korban tsunami. Ia mengetahui posisi anaknya setelah Nafis telah dipindahkan dari RSUD Berkah, Pandeglang ke RSKM Cilegon.

“Awalnya Nafis dirawat di Rumah Sakit Pandelang, kemudian dirujuk ke Rumah Sakit KS (RSKM). Tapi, statusnya daftar umum doang. Makanya ini biaya sendiri, sudah masuk Rp 10,5 juta dari totalnya Rp 17 jutaan. Sisanya masih diproses,” katanya kepada wartawan.

Ia mengatakan, telah dibantu oleh BPJS. Namun, hanya terbantu Rp 2,9 juta. “Jadi, saya masih ada tunggakan di rumah sakit itu Rp 5 jutaan,” ujarnya.

Ia cukup berat untuk melunasi biaya pengobatan anaknya. Ia juga mempertanyakan program pemerintah terkait program bantuan terhadap korban bencana alam. “Cukup berat, kan biasanya ditanggung pemerintah. Tapi, gimana lagi yang penting anak sehat dululah,” ucapnya.

Sementara itu, Direktur Komersial RSKM Kota Cilegon Suriadi Arif menjelaskan, tingginya biaya yang dikenakan kepada Nafis karena keluarga korban meminta pindah ruangan ke VIP. Padahal ketika itu, manajemen telah menjelaskan konsekuensi dari pindah ruang tersebut.

Saat itu, pihak keluarga juga disebut telah memproses klaim BPJS. Namun setelah pasien selesai dirawat, pihak keluarga korban keberatan dengan biaya perawatan kelas VIP yang telah diminta. Lebih disayangkan lagi, pihak keluarga mengadu kepada media tentang tingginya biaya perawatan di RSKM.

Karena ramainya pemberitaan, Satreskrim Polres Cilegon kemudian mulai turun tangan. Hingga Ahad (6/1/2019), sebanyak 10 orang dari manajemen RSKM Cilegon telah dipanggil untuk menjalani pemeriksaan. Mereka adalah unsur humas, cash manajemen, bagian instalasi pelayanan dan perawatan, kasir, serta petugas administrasi.

Dalam pemeriksaan awal, Polres Cilegon juga melibatkan Direktorat Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Banten untuk kebutuhan penyelidikannya. Setelah perkara ini resmi dilimpahkan ke Polda, menurut Abdul Karim, pihaknya akan mendalami terlebih dahulu mengenai mekanisme pembiayaan di RSKM Cilegon. “Kami akan dalami dulu seperti apa SOP-nya,” ujarnya. (Pras/ Red7)

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *