23 October 2020
  • 23 October 2020
Breaking News
  • Home
  • Redaksi
  • Kasus Ibu Ningsih : Tolak Konsep Perdamaian yang Ditawarkan Anaknya soal Gugatan Warisan

Kasus Ibu Ningsih : Tolak Konsep Perdamaian yang Ditawarkan Anaknya soal Gugatan Warisan

By on 14 August 2020 0 125 Views

ROC — Gara-gara tak diizinkan membuat dapur, seorang anak di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) menggugat ibu kandungnya sendiri terkait harta warisan, agar harta warisan tersebut segera dibagikan.

Gugatan harta warisan oleh Rully Wijayanto, terhadap ibunya, Praya Tiningsih, akhirnya sampai ke meja hijau dan saat ini telah memasuki sidang keempat dengan agenda pembacaan duplik dan tawaran konsep perdamaian, Kamis (13/8).

Dalam persidangan yang digelar di Pengadilan Agam Praya, ada empat poin perdamaian yang ditawarkan Rully. Namun, beberapa ditolak ibunya.

Adapun poin yang ditolak, yakni poin pertama yang berbunyi, “Penggugat mohon dicantumkan bagian masing-masing ahli waris di dalam amar putusan perkara ini sesuai dengan hukum Faraid Islam”.

Menurut Tiningsih, poin tersebut telah melanggar wasiat dari suaminya yang menyebutkan tanah tersebut tidak boleh dibagi.

“Ya, saya tolak poin pertama. Dia (Rully) tetap mau bagi tanah tersebut, tapi wasiat bapaknya tidak boleh dibagi,” kata ibu sapaan Ningsih usai persidangan, Kamis.

Ningsih juga menolak poin keempat bagian b yang di mana Rully meminta agar dia juga mendapat penjelasan soal penggunaan uang Taspen.

“Saya tolak juga yang b poin nomor empat, soal Taspen, karena yang Taspen itu lebih ke hak saya,” kata Ningsih.

Sementara itu Rully mengaku sangat kecewa atas tanggapan ibunya yang tidak setuju terhadap konsep yang ditawarkan.

Menurut Rully, pembagian harta warisan dilakukan agar mengetahui hak nya, dan tidak ada pihak luar yang ikut campur terhadap warisan ayahnya.

“Nanti kalau sudah putusan, kita akan tahu hak-hak kita, hak adik saya, hak mama saya, dan ini juga untuk jaga-jaga kalau nanti ada yang mengklaim harta warisan almarhum bapak,” kata Rully.

Rully menjelaskan rumah yang sudah berdiri di atas 4,2 are itu tidak akan dirusak atau pun dijual, dan akan tetap menjadi rumah bersama.

“Walaupun sudah dibagi, rumah itu tidak akan dirusak, tidak akan disekat atau tidak akan dijual. Tetap rumah itu berdiri seperti semula, hanya saja kita tahu hak-hak kita,” kata Rully.

Sebelumnya diberitakan, harta warisan yang ingin digugat oleh Rully, yakni tanah seluas 4,2 are bersama uang deposit sepeninggal almarhum ayahnya.

Persoalan menggugat tanah warisan itu berawal dari kekecewaan Rully karena Ningsih tidak mengizinkan Rully untuk membuat ruang tamu dan dapur.

“Saya juga menggugat warisan ini bukan untuk diri saya sendiri, tapi untuk mama dan adik-adik,” pungkasnya. (Red)

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *