27 May 2020
  • 27 May 2020
Breaking News
  • Home
  • Redaksi
  • Jika Keputusan Jakarta Dan Sekitarnya Lockdown, Jabodetabek Kemungkinan Besar Akan Ditutup

Jika Keputusan Jakarta Dan Sekitarnya Lockdown, Jabodetabek Kemungkinan Besar Akan Ditutup

By on 30 March 2020 0 98 Views

Foto: Penutupan akses ke luar tol di Gerbang Tol Karang Tengah Barat, Tangerang, Minggu (29/3)/ist

Jakarta, ROC — Virus Corona atau Covid-19 semakin hari semakin meluas. Jumlah pasien yang dinyatakan positif Covid-19 juga semakin bertambah. Menyusul hal tersebut, Direktur Jenderal Perhubungan Darat (Dirjen Hubdat) Kementerian Perhubungan Budi Setiyadi memaparkan pemerintah akan membuka kemungkinan diberlakukannya lockdown atau karantina total di kawasan DKI Jakarta, serta Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek).

Budi mengatakan, pihaknya telah menyiapkan skema sekaligus skenario yang akan diberlakukan jika Jakarta mulai menutup akses masuk dan keluar Jakarta. Selain itu, pihaknya pun akan melakukan rapat koordinasi dengan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan yang saat ini juga menjabat sebagai Plt Menteri Perhubungan.

“Nanti akan ada rapat, di rapat itu kita harapkan, saya merekomendasikan dalam rapat itu kalau bisa Jakarta, Jabodetabek itu sudah di karantina. Tapi tergantung rapat dengan Pak Menko Maritim,” ujar Budi di Jakarta, Minggu (29/3)

“Tapi kami sudah siapkan skemanya saja, kalau rapat besok sudah tidak boleh keluar, protokolnya seperti itu,” ujarnya.

Adapun pembatasan akses keluar dan masuk di Jakarta merupakan langkah lanjutan yang dilakukan pemerintah menyusul masih banyak masyarakat yang melakukan lebih cepat ke kampung halaman akibat virus corona.

Budi pun mengatakan, pihaknya telah berbicara dengan Korlantas Polri serta Polda Metro Jaya mengenai skenario karantina Jakarta tersebut. Secara teknis, pihak kepolisian dan dinas perhubungan di setiap wilayah juga telah memiliki skema sekaligus titik-titik yang akan ditutup aksesnya. Saat ini pun menurut Budi, yang utama adalah mementingkan keselematan masyarakat luas sekaligus mempersempit penyebaran virus corona.

“Itu yang utama, kalau memperdebatkan masalah ekonomi terus nggak akan ketemu,” ujar dia.

Sebelumnya, Kemenhub telah melaporkan adanya masyarakat yang melakukan mudik ke berbagai daerah, meski pemerintah telah mengeluarkan imbauan untuk tidak melaksanakan mudik. Saat itu Budi mengatakan, pelaksanaan mudik lebih cepat tersebut terlihat dengan meningkatnya jumlah penumpang di berbagai terminal sejak tanggal 20 hingga 22 Maret 2020.

Menurutnya, fenomena itu terjadi akibat melambatnya roda perekonomian Jakarta yang diakibatkan merebaknya virus corona. Hal tersebut mendorong pekerja khususnya di sektor informal untuk pulang ke kampung halaman masing-masing.

“Ini terjadi mudik sebelum waktunya karena memang terjadi penurunan kegiatan di Jakarta. Sekarang kan kita ada penurunan dari berbagai aspek kegiatan ekonomi. Sehingga pekerja dari sektor informal, yang kita amati dari tanggal 20-22, ada beberapa terminal tipe A yang mengalami lonjakan penumpang yang datang dari Jabodetabek,” tutur Budi dalam video conference, Jumat (27/3).

(idj/idj)

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *