7 July 2020
  • 7 July 2020
Breaking News
  • Home
  • Redaksi
  • Jakarta Bangkit, Konsep Baru MRT Jelang New Normal

Jakarta Bangkit, Konsep Baru MRT Jelang New Normal

By on 31 May 2020 0 806 Views

Foto: Stasiun MRT Jakarta ©2020idj/ROC

Jakarta, ROC – Direktur Utama PT MRT Jakarta (Perseroda) William Sabandar mengatakan, pihaknya telah menyiapkan sejumlah konsep dalam menghadapi New Normal. Konsep itu akan dikampanyekan dengan nama #JAKARTABANGKIT, dengan mendorong penerapan budaya Bersih, Aman, Nyaman, Green, Kolaborasi, Inovasi dan Tata Kelola yang Baik.

“PT MRT Jakarta (Perseroda) memperkenalkan satu sistem protokol yang kita sebut BANGKIT. Protokol-protokol itu akan kita terapkan. Bersih maksudnya soal hygiene. Di transportasi publik misalnya kereta yang dibersihkan tiga kali sehari lalu menyiapkan penyanitasi tangan di setiap stasiun,” kata William seperti dilansir dari website resmi PT MRT, Minggu (31/5).

“Aman maksudnya menyiapkan tes temperature tubuh serta edukasi tanpa henti di stasiun dan kereta. Nyaman merupakan hal paling penting karena memastikan pembatasan sosial (social distancing). Pengguna jasa harus merasa bahwa tidak akan terpapar virus Covid-19 bila menggunakan MRT Jakarta,” sambungnya.

Nantinya, setiap kereta akan diisi maksimal oleh 60 orang. Pihaknya juga akan memberikan marka di dalam kereta bagaimana melakukan antrean.

“Setiap kereta maksimal diisi oleh 60 orang dan kita akan siapkan marka (penanda) di stasiun dan di dalam kereta bagaimana melakukan antrian,” ujarnya.

William menambahkan, faktor ramah lingkungan adalah aspek kampanye berikutnya. Sehingga, ia mendorong masyarakat untuk kembali menggunakan transportasi publik.

“Green, maksudnya adalah walaupun sekarang orang menghindari transportasi publik, kita tetap ingin mendorong masyarakat untuk kembali ke transportasi publik agar mengurangi jejak karbon (carbon foot print),” tambahnya.

Dalam menjalankan itu semua, pihaknya tak bisa menjalankan atau melaksanakannya secara sendiri. Karena, semua itu dibutuhkan secara kolaborasi atau bersamaan.

“MRT Jakarta tidak bisa melakukan ini sendiri. Selain petugas, kami juga mengajak pengguna jasa dan pengelola gedung-gedung sepanjang jalur MRT Jakarta,” ucapnya.

Selain itu, PT MRT Jakarta juga telah menyiapkan sejumlah langkah agar tidak terjadinya penumpukan penumpang. Terutama disaat jam sibuk atau jam kerja.

“Kita kenalkan dan mendorong waktu kerja yang fleksibel (flexible working hours) sehingga penumpukan penumpang tidak terjadi di jam sibuk biasanya yaitu pukul 7-9 atau 17.00-19.00. Dengan melebarkan sibuk tersebut, tidak terjadi penumpukan dan kepadatan penumpang,” ungkapnya.

Selain itu, PT MRT Jakarta (Perseroda) akan mendorong inovasi melalui berbagai teknologi seperti pembayaran nontunai atau penggunaan kode QR dalam melakukan pengetapan di pintu penumpang (passenger gate). “Semua hal tersebut di atas harus dilaksanakan dengan tata kelola yang baik, akuntabel, dan transparan,” tutupnya.

PT MRT Jakarta (Perseroda) telah menerapkan komponen-komponen tersebut di atas seperti pembatasan jumlah penumpang per kereta, penyesuaian jadwal layanan, dan pengetatan protokol kesehatan. Hal tersebut akan terus dilaksanakan selama fase kenormalan baru dan adaptasi terhadap virus Covid-19.(Red)

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *