24 March 2019
  • 24 March 2019
Breaking News

Inilah Lelucon Kashmir dan Isu Bilateral India

By on 5 March 2019 0 15 Views

Republik-online.com, Ketika menanggapi isu Kashmir secara internasional, India menyatakan Kashmir merupakan masalah bilateral antara India dan Pakistan. Tetapi ketika berbicara dengan Pakistan, India mengatakan Kashmir adalah masalah internalnya. Dan setiap kali Kashmir berbicara dengan India, India mengatakan tidak ada masalah sama sekali.

Para ahli mengatakan masalah Kashmir yang dikelola India diperkirakan terus meningkat, walaupun India mencoba memaksakan solusi militer untuk masalah politik di wilayah itu.

Dengan krisis saat ini, ketika kedua negara di Asia Selatan yang bersenjata nuklir itu hampir berperang dan negara-negara besar dunia dilaporkan menjadi penengah untuk meredakan keduanya, Kashmir kembali mendominasi berita dunia, mengingatkan semua orang bahwa konflik tertua yang belum terselesaikan di dunia modern dapat memicu perang nuklir.

Sepanjang sejarah, Perang India-Pakistan sudah berlangsung sebanyak empat kali, yakni pada 1947, 1965, 1971, 1999.

Konflik India dan Pakistan yang memanas dalam dua pekan terakhir dipicu seorang pemberontak bersenjata Kashmir berusia 20 tahun, Adil Ahamd Dar, pada 14 Februari ketika ia menabrak kendaraan bermuatan peledak ke konvoi paramiliter India, menewaskan 42 tentara dalam serangan bom bunuh diri terburuk itu.

Sementara semakin banyak orang muda bergabung dengan pemberontakan bersenjata di wilayah itu, India menyalahkan Pakistan atas masalah-masalahnya di Kashmir.

Lebih dari 190 warga Kashmir bergabung dengan gerakan bersenjata pada tahun 2018. Ini lebih rendah dari tahun sebelumnya yang hanya 126 orang. Menurut polisi, jumlah pejuang yang aktif di Kashmir saat ini sekitar 250.

Sementara untuk saat ini perang tampaknya telah berhasil dihindari dengan “isyarat perdamaian” Pakistan untuk mengembalikan pilot angkatan udara India dalam tahanan mereka. Sementara pusat konflik, wilayah Kashmir, tetap berada di tepi jurang berbahaya, dan kaum mudanya – didorong ke dalam jurang ketidakpastian.

“Bagaimana jika besok seorang warga Kashmir berusia 20 tahun meledakkan dirinya lagi?” tanya Firdous Syed Baba, mantan komandan pemberontak yang menjadi politikus. “Bukankah kita akan kembali di tengah krisis dan kemungkinan perang? lanjutnya, dilansir dari Aljazeera, Senin (4/3).

Baba mengatakan para pemangku kebijakan India harus memahami perang dan perdamaian bisa terjadi di wilayah yang lebih besar bergantung pada tindakan seorang anak muda Kashmir dari sebuah desa.

“Dan cara India berurusan dengan Kashmir, dengan kekerasan dan dengan menciptakan situasi mencekam, tindakan seperti itu hanya akan meningkat kekerasan lainnya,” kata Baba.

Kekerasan Meningkat

Sejak serangan bom bunuh diri 14 Februari, India merespons dengan serangan dan perang psikologis yang intens. New Delhi mengirim lebih dari 10.000 anggota paramiliter ke wilayah yang disengketakan itu, menambah lebih dari setengah juta pasukan di salah satu zona militerisasi paling terkenal di dunia itu.

Pada saat yang sama, India menindak para pemimpin dan aktivis perlawanan pro-kemerdekaan di kawasan itu, menangkap lebih dari 300 orang dalam dua pekan terakhir.

“India tidak bisa menghindari konflik Kashmir. Juga tidak bisa menekannya dengan paksa. Dengan setiap pembunuhan yang dilakukan India, akan tumbuh lebih banyak militan,” kata Mirwaiz Umar Farooq, pemimpin muslim di wilayah lembah Himalaya itu.

“Kekerasan India hanya membuat warga Kashmir makin kuat, lanjutnya.

Farooq mengatakan, alih-alih mencoba mengatasi sentimen separatis di Kashmir, India mencoba lebih jauh menciderai hak-hak otonomi daerah di dalam Uni India dan membuka jalan bagi perubahan demografis di Kashmir. [Rep]

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *