5 December 2020
  • 5 December 2020
Breaking News
  • Home
  • Redaksi
  • Ini Rekam Adu Janji Kampanye Trump dan Biden pada Rakyat AS

Ini Rekam Adu Janji Kampanye Trump dan Biden pada Rakyat AS

By on 5 November 2020 0 87 Views

Pemetaan Suara Hingga Sejauh Ini. (BBC)

ROC — Saat ini Warga Amerika masih menanti hasil Pemilu Amerika Serikat (AS) 2020, siapa yang akan duduk di Gedung Putih selama empat tahun ke depan. Presiden petahana Donald Trump atau saingannya dari Demokrat Joe Biden?

Meskipun penghitungan suara dilakukan pada hari yang sama saat Pemilu AS digelar, 3 November 2020, namun tidak mengherankan jika hasil akhir di penghujung hari tak bisa didapat. Alasanya, karena pandemi COVID-19, kondisi itu membuat pemilih diberikan pilihan untuk memberikan hak suara melalui surat termasuk cara yang ada..Oleh karena itu, mungkin perlu sedikit lebih banyak waktu untuk menghitungnya.

Di tengah masa penghitungan suara Pemilu AS, berikut ini rekam janji kedua capres yang mereka buat selama kampanye kepada rakyat Amerika, dikutip dari India TV, Rabu (4/11).

Janji Donald Trump

-Mengembangkan vaksin untuk Virus Corona COVID-19 pada akhir tahun 2020, dan bekerja untuk mengembalikan negara kembali normal pada tahun 2021.
-Mempersiapkan diri untuk menghadapi pandemi di masa depan.
-Menciptakan 1 crore (10 juta pekerjaan baru).

Selain itu, Donald Trump juga berjanji untuk :

-Memotong pajak yang akan meningkatkan gaji yang dibawa pulang dan mempertahankan lapangan pekerjaan di Amerika.
-Mengubah Amerika Serikat menjadi negara adidaya manufaktur untuk mengakhiri ketergantungan pada China.
-Melanjutkan agenda untuk kemandirian energi.
-Menempatkan fokus pada pengajaran soal keistimewaan Amerika.

Sementara di bidang perawatan kesehatan, Donald Trump telah berjanji akan :

-Membawa rencana kesehatan baru dengan mengusulkan premi asuransi rendah, mencakup semua kondisi yang sudah ada sebelumnya (sesuatu yang juga telah dia janjikan dalam debat presiden).
-Melindungi jaminan sosial dan pengobatan.
-Melindungi para veteran dan layanan kesehatan kelas.
-Memblokir imigran ilegal agar tidak memenuhi syarat untuk skema kesejahteraan yang didanai oleh uang pembayar pajak, perawatan kesehatan, biaya kuliah gratis.

Dia juga mengatakan bahwa pemerintahnya akan :

-Memastikan deportasi wajib bagi anggota geng non-warga negara.
-Melarang perusahaan Amerika mengganti warga AS dengan pekerja asing berbiaya rendah.
-Mewajibkan pendatang baru untuk dapat menghidupi diri sendiri secara finansial.

Janji Joe Biden

Joe Biden telah menjanjikan vaksin Virus Corona COVID-19 gratis untuk semua warga Amerika jika dia memenangkan Pemilu AS.

Biden mengatakan dia akan memperbaiki kegagalan model pengujian dan penelusuran kasus COVID-19 yang dilakukan Trump, masalah peralatan pelindung pribadi. Ia juga mengatakan bahwa pemerintahnya akan :

-Memberikan rencana pedoman nasional yang jelas, konsisten, dan berbasis bukti untuk distribusi efektif pengobatan dan vaksin.
-Melindungi kaum lanjut usia Amerika dan mereka yang berisiko tinggi selama pandemi.
-Menerapkan wajib memakai masker.
-Membangun kembali dan memperluas pertahanan yang telah dibongkar Trump untuk memprediksi pencegahan dan mitigasi ancaman pandemi termasuk yang datang dari China.

Sementara untuk mengembalikan pekerjaan, Joe Biden telah berjanji akan :

-Memberikan bantuan yang mereka butuhkan kepada pemerintah negara bagian, lokal, dan suku sehingga para pendidik petugas pemadam kebakaran dan pekerja penting lainnya tidak di-PHK.
-Perpanjang asuransi pengangguran krisis COVID-19 untuk membantu mereka yang kehilangan pekerjaan.
-Bekerja untuk menyediakan paket bagi bisnis jalanan utama dan pengusaha yang terkena dampak pandemi COVID-19 untuk membantu mereka bangkit.

Selain itu, Joe Biden juga berjanji akan :

-Memaksa China untuk bermain dengan aturan perdagangan internasional, sesuai aturan perusahaan asing, dan tindakannya di Laut China Selatan.
-Mereformasi sistem imigrasi AS untuk menyambut imigran di komunitas.
-Mencabut larangan perjalanan dan pengungsi non-Amerika, juga disebut sebagai “larangan Muslim”.
-Menegaskan kembali komitmen Amerika untuk pencari suaka dan pengungsi, mengatasi akar penyebab migrasi tidak teratur, dan menerapkan pemeriksaan perbatasan yang efektif.

Ssmentara itu, pemerhati politik Amerika Serikat Didin Nasirudin menilai, kerusuhan berpotensi terjadi jika kemenangan yang diraih Trump atau Biden tipis. Ia menilai negara bagian kawasan Great Lakes menjadi titik rentan.

“Di beberapa negara bagian seperti Michigan, kemudian Pennsylvania, di negara bagian Great Lakes, itu yang mungkin potensinya lumayan besar,” ujar Didin, Rabu (4/11).

Negara Great Lakes adalah Illinois, Indiana, Michigan, Minnesota, New York, Ohio, Pennsylvania dan Wisconsin. Donald Trump sudah unggul di Illinois, Indiana, dan Ohio, sementara Joe Biden menang di Minnesota dan New York.

Sepanjang 2020, kerusuhan sempat terjadi di New York akibat protes terkait isu rasisme. Daerah Times Square menjadi korban penjarahan. Kini, pebisnis di Times Square juga mulai menjaga toko-toko mereka untuk mengantisipasi kerusuhan akibat Pemilu AS.

Seminggu sebelum pilpres AS, Donald Trump mengangkat hakim agung baru, yakni Amy Coney Barret. Formasi hakim di Mahkamah Agung AS kini didominasi kubu konservatif.

Namun, hal itu belum tentu berpengaruh jika hasil sengketa pilpres AS dibawa ke Mahkama Agung (MA).

“Mereka tetap menjaga reputasi sebagai sebuah institusi yang fair,” ujar Didin.

Ia menyebut ada beberapa faktor yang menentukan atmosfer pilpres di AS. Pertama, berapa selisih suaranya. Kedua, siapa yang menang. Ketiga, berapa negara bagian yang menjadi sengketa.

“Kalau melibatkan lebih dari satu negara bagian, repot,” jelas Didin.

Lalu, bisakah Trump dihukum jika menolak menerima kekalahan Pilpres AS 2020? Pengamat politik AS di Australia, Dr Emma Shortis, menilai pertanyaan ini cukup rumit dijawab.

“Jika dia menolak untuk meninggalkan kantor dan menolak mengakui kekalahannya, itu berarti Konstitusi dan supremasi hukum tidak diakui,” katanya, dikutip dari ABC Australia.

“Ada beberapa hal yang bisa dilakukan oleh rakyat, tapi pada dasarnya baru pada 20 Januari mendatang ketika kekuasaan presiden mengalami transisi.” ungkapnya.

Dengan asumsi semuanya berjalan sesuai dengan yang diindikasikan oleh jajak pendapat, jelas dia, maka Biden akan menjadi panglima tertinggi AS pada Januari dan dia dapat memerintahkan militer untuk menyingkirkan Trump dari Gedung Putih).

Dr Shortis mengatakan, banyak hal yang akan terjadi antara waktu pengumuman pemenang pilpres dan tanggal pelantikan presiden AS 20 Januari 2021.

“Kami akan melihat krisis konstitusional sepenuhnya (bila Trump menolak untuk menyerah). Menurut saya penyelesaiannya tidak akan mudah,” katanya.

Hingga pukul 22.17 WIB, Rabu (4/11/2020), suara elektoral Joe Biden masih unggul tipis dari Donald Trump. Dikutip dari Peta Hasil Pemilu AS 2020 versi AP, Joe Biden meraih 238 suara elektoral dan Donald Trump 213.

Joe Biden unggul di Washington, Oregon, California, Colorado, New Mexico, Arizona, Minnesota, Illinois, Vermont, New Hampshire, Massachusetts, Rhode Island, Connecticut, New Jersey, Delaware, District of Columbia, Maryland, New York, Hawaii, Maine, dan Virginia.

Sedangkan Donald Trump menang di Montana, Idaho, Wyoming, Utah, North Dakota, South Dakota, Nebraska, Kansas, Oklahoma, Texas, Arkansas, Iowa, Missouri, Indiana, Ohio, Kentucky, Tennessee, Mississippi, Alabama, Lousiana, South Carolina, West Virginia, dan Florida.

(red)

 

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *