28 October 2020
  • 28 October 2020
Breaking News

Ini Pemicu Konflik Internal PAN di Solo

By on 17 August 2020 0 98 Views

PAN dukung Gibran Rakabuming Raka di Pilkada Solo 2020. (dok.foto: SS/ROC)

ROC — DPP Partai Amanat Nasional (PAN) resmi mendukung Gibran Rakabuming Raka-Teguh Prakosa di Pilkada Solo 2020. Keputusan resmi tersebut ternyata memunculkan konflik di internal DPD PAN Solo.

Muncul kabar bahwa dua pengurus DPD PAN Solo mengundurkan diri karena berbeda pandangan. Hal tersebut dibenarkan oleh Ketua DPD PAN Solo, Achmad Sapari.

“Iya betul (dua pengurus mengundurkan diri). Belum menyerahkan surat resmi,” kata Sapari saat dijumpai di DPRD Solo, Jumat (14/8).

Sapari mengaku tidak mempermasalahkan hal tersebut. Sebab keputusan sudah ditetapkan oleh DPP dan wajib dilaksanakan oleh DPD.

“Semua keputusan kan ada di DPP. Kalau DPP sudah memutuskan mendukung Gibran, ya DPD harus tegak lurus. Kita kan pelaksana,” katanya.

Kedua pengurus yang mengundurkan diri itu adalah Ketua Bidang Pemberdayaan Perempuan Siti Zulaikha dan Wakil Ketua Bidang Pengkaderan Putri Listiyandari. Keduanya pun angkat bicara mengenai kabar tersebut. Mereka menegaskan tidak pernah mempermasalahkan dukungan kepada Gibran.

“Saya kecewa dengan pernyataan beliau. Saya sebetulnya tidak ada masalah dengan Mas Gibran. Saya selama ini hanya ingin ada komunikasi dengan Mas Gibran terkait pemberdayaan perempuan, tapi tidak pernah ada kesempatan,” kata Siti Zulaikha, saat dihubungi wartawan, Sabtu (15/8).

Terkait pengunduran diri, Siti mengaku hal tersebut sebenarnya adalah masalah internal PAN. Dia menginginkan seharusnya kabar tersebut tidak disebarkan.

“Itu sebenarnya pembicaraan di internal partai. Seharusnya ketua itu memfasilitasi kader untuk bermusyawarah, bukan justru membiarkan. Saya kira ini masalah like and dislike,” ujarnya.

Bahkan setelah insiden tersebut, Siti mengaku dilarang mengadakan acara kantor DPD PAN Solo pada Jumat (14/8) kemarin. Padahal dirinya memiliki ruangan di kantor tersebut.

“Kemarin diberi tahu sama penjaga kantor, ditelepon pak ketua, tidak boleh di kantor. Penjaga kantornya tidak enak sama saya, karena saya sering di kantor. Tapi ya sudah saya keluar. Kalau dibilang pengusiran atau bukan ya faktanya seperti itu,” katanya.

“Saya, sudah tidak usah ditanggapi. Kalau mundur silakan, tapi sampai sekarang saya belum terima suratnya,” tambahnya.

Terkait pelarangan penggunaan kantor, Sapari mengatakan Siti tidak meminta izin sebelumnya. Padahal saat itu kantor sudah tutup.

“Kantor kan tutup jam dua. Kalau dia izin dulu, mau pakai jam tujuh malam, jam tiga pagi ya saya izinkan,” tutupnya. (ROC)

 

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *