21 August 2019
  • 21 August 2019
Breaking News

Ini Peluang Bisnis Keluarga Republik di Selandia Baru

By on 23 June 2018 0 125 Views

New Zealand, ROC – Upaya untuk membuka akses pasar ke Selandia Baru sebagai tujuan ekspor, dan kerjasama dalam hal perkebunan, pertanian serta peternakan yang bisa diimplementasikan di Indonesia, gencar dilakukan oleh pelaku usaha, termasuk salah satu pelakunya adalah Mayjen (Purn) DR. Ir. H. Suharno Prawiro, MM.

Dengan memboyong keluarganya yaitu politikus senior Dr. Hj. R. Adjeng Ratna Suminar, SH, MM yang merupakan istri beliau, serta kedua anaknya yaitu Annisa Pemata Sari, Spt, MSc dan Almira Nidyaartha, SE, MSc mencoba peruntungan dengan menyambangi berbagai sektor yang bisa dijadikan peluang usaha Keluarga Republik.

Setelah bertemu dengan Duta Besar Indonesia untuk Selandia Baru, Tantowy Yahya, Suharno mendapatkan masukkan dan mendapatkan peluang yang bagus dalam misinya tersebut.

Rombongan Bapak Suharno Prawiro bersama Kedubes RI Tantowy Yahya. (21/6)

“Kita mempunyai peluang dalam perdagangan, dimana Selandia Baru sangat menginginkan produk asal Indonesia terutama kopi, minyak sawit, energi terbarukan dan jasa tenaga kerja,” ujar Suharno di Kantor Kedubes Indonesia, Wellington NZ, (22/6).

Lanjutnya, sebagai bahan acuan, dalam beberapa bulan terakhir ini, ketiga sektor diatas telah menghasilkan transaksi lebih dari USD 5,7 juta atau sekitar Rp.78 miliar.

“Salah satu hal yang patut di apresiasi adalah, Indonesia yang merupakan negara penghasil kopi terbesar keempat sekaligus eksportir terbesar ketujuh dunia. Telah membukukan nilai ekspor kopi Indonesia pada 2017 tercatat sebesar USD 1,18 miliar,” paparnya.

Saat ini, sebutnya, Indonesia telah memiliki 20 kopi indikasi geografis. Artinya, kopi dari setiap daerah memiliki cita rasa khas yang berbeda dengan daerah lain. “Tentunya hal ini adalah suatu keunikan yang patut diapresiasi oleh penikmat kopi di Selandia Baru,” tutur Suharno.

Suharno, menambahkan bahwa seluruh peluang tersebut merupakan potensi yang dapat dikerjakan bersama Keluarga Republik, sehingga hasil pertanian, perkebunan, energy terbarukan dan sektor tenaga kerja bisa dijadikan lahan pekerjaan dan pendapatan yang dapat mesejahterakan seluruh rakyat Indonesia khususnya Keluarga Republik.

Sementara, Adjeng Ratna Suminar dan Annisa Permata Sari, lebih melirik potensi ekspor buah tropis asal Indonesa yang sudah dibuka kerannya pertama kali dengan jenis buah manggis yang telah di ekspor sejak tahun 2014 lalu.

Bersama Kedubes RI dan Atase Pertahanan di Wellington, NZ

“Kita ketahui bersama, Selandia Baru sangat ketat aturannya untuk masuknya barang jenis buah-buahan dan sayuran, ini peluang yang sangat bagus, buah tropis Indonesia telah menembus aturan tersebut. Harapan kami, buah-buahan tropis dari Indonesia seperti salak, mangga, nanas, dan pisang dapat segera diekspor ke Selandia Baru,” ungkap Adjeng.

Menurutnya, kedua negara berkeinginan menjalin kerja sama lebih lanjut terkait komoditas ekspor unggulan masing-masing. Jika Indonesia ingin membuka akses pasar buah tropis di Selandia Baru, sebaliknya Selandia Baru ingin meningkatkan ekspor bawang bombai, susu, dan daging ke Indonesia.

Sementara dilihat dari sisi ekonomi dan bisnis, Almira Nidyaartha, SE, MSc ahli ekonomi lulusan Universitas Indonesia dan S2 di Master Singapore Management University ini, menilai potensi perdagangan kedua negara bisa lebih ditingkatkan dari berbagai sektoral.

“Pada 2017, Selandia Baru merupakan negara tujuan ekspor nonmigas. Total perdagangan tahun 2017 sebesar USD1,2 miliar dengan nilai ekspor Indonesia sebesar USD437,8 juta. Sedangkan, impor Indonesia dari Selandia Baru sebesar USD751,2 juta,” papar Almira.

Putri bungsu dari pasangan Suharno-Adjeng ini menambahkan bahwa total nilai perdagangan Indonesia-Selandia baru pada 2017 mencapai US$ 1,19 miliar, naik 15,72% dibanding tahun sebelumnya.

Total nilai perdagangan Indonesia-Selandia baru pada 2017 mencapai US$ 1,19 miliar, naik 15,72% dibanding tahun sebelumnya.

Namun demikian, neraca perdagangan kita mengalami defisit US$ 313,3 juta, dengan ekspor ke Selandia Baru sebesar US$ 437,8 juta dan impor dari Selandia Baru mencapai US$ 751,1 juta.

“Perlu dicari peluang untuk mengatasi defisit antara ekspor dan impor Indonesia dengan Selandia Baru. Namun potensi transaksi selanjutnya yakini akan terus bertambah,” pungkasnya.

Mayjen (Purn) DR. Ir. H. Suharno Prawiro, MM bersama atase pertahanan Indonesia untuk NZ Kolonel AU Ridha Hermawan, SH.

Dalam kunjungan di Selandia Baru tersebut, selain beramah tamah dengan Kedubes Indonesia Tantowy Yahya dan istri, serta dengan atase pertahanan Kolonel (AU) Ridha Hermawan, SH. Rombongan Keluarga Republik ini menyempatkan diri untuk berkeliling ke tiap sudut kota Wellington.

Salah satunya adalah mengunjungi Mount Victoria, dimana pegunungan dengan ketinggian sekitar 196 meter diatas ketinggian laut tersebut, menghadirkan pemandangan 360 derajat Wellington City yang mengagumkan, dimana bisa melihat pelabuhan dan lautan hingga ke selatan.

Rombongan Keluarga Republik di Mount Victoria, New Zealand

Mount Victoria adalah bagian dari Wellington Town Belt, tanah yang disisihkan oleh Pemerintah Kolonial Selandia Baru pada tahun 1841 untuk tempat rekreasi umum bagi penduduk Wellington. Ini merupakan tempat terbaik untuk berjalan kali, jogging dan mendaki gunung.

Di ujung jalan ke puncak, di dekat tempat melihat pemandangan, Suharno menyempatkan diri untuk berfoto di depan monumen Richard Byrd, dimana Byrd merupakan seorang pilot Amerika yang telah melakukan sejumlah penerbangan ekspedisi ke Antartika dari pangkalannya di Selandia Baru; pada tahun 1929 ia melakukan penerbangan pertama melewati Kutub Selatan.

Suharno Prawiro berfoto di depan monumen Byrd, Mount Victoria

Selain itu, Mount Victoria terkenal karena dijadikan lokasi pembuatan film trilogi “Lord of the Rings” yang disutradarai Peter Jackson.

Hal ini juga yang menjadi bahan pembelajaran bagi Indonesia, agar bisa lebih meningkatkan kembali potensi pendapatan dari tourisme dan pariwisata. [RedROC]

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *