27 October 2020
  • 27 October 2020
Breaking News
  • Home
  • Redaksi
  • Ini Empat Pengelola TPK, yang Membuat IPC Pantas Sandang Status Internasional Hub Port

Ini Empat Pengelola TPK, yang Membuat IPC Pantas Sandang Status Internasional Hub Port

By on 5 July 2020 0 172 Views

ROC – Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta merupakan pelabuhan terbesar dan tersibuk di Indonesia lantaran lebih dari 65% kegiatan pengapalan ekspor impor maupun domestik dilakukan.

Di pelabuhan tersebut, kini terdapat empat pengelola terminal peti kemas yang bernaung di bawah kendali operasional PT Pelabuhan Indonesia II/IPC Group.

Pengelola terminal peti kemas itu yakni; IPC Container Terminal (IPC TPK) yang memiliki fasilitas panjang dermaga 1.268 meter dengan kedalam (draft) -12 meter low water spring (mLWS). Pada tahun 2019, IPC TPK menghandle peti kemas sebanyak 647.034 twenty foot equivalent units (TEUs).

Kemudian, Jakarta International Container Terminal (JICT) dengan panjang dermaga 1.701 meter dan draft -14 mLWS. Terminal ini mencatat thorughput peti kemas pada 2019 sebanyak 2.085.691 TEUs.

Adapun Terminal Peti Kemas (TPK) Koja memiliki panjang dermaga 650 meter dengan draft -14 mLWs. Pada 2019, TPK Koja menghandle peti kemas 914.310 TEUs.

Sedangkan New Priok Contianer Terminal-One (NPCT-1) memilili panjang dermaga 850 meter dengan draft -16 mLWS. Pada tahun lalu, terminal ini berhasil menangani peti kemas sebanyak 1.116.859 TEUs.

Yang menarik adalah, keempat pengelola terminal peti kemas di Priok itu memperebutkan market pelayaran atau penguasaan pasar yang hampir sama.

Berdasarkan data IPC, setidaknya terdapat belasan perusahaan pelayaran yang memanfaatkan fasilitas keempat terminal peti kemas di Priok itu antara lain; Maersk Line, CMA-CGM, CTP Line, Yang Ming, Samudera Indonesia, Evergreen, One Shipping, RCL, MSC, Hapag Lloyd, OOCL, KMTC Line, Cosco Shipping, dan LKA Shipping.

Kondisi itu, tidak bisa dipungkiri menyebabkan ketatnya persaingan antar terminal peti kemas tersebut. Makanya, sejumlah terobosan dan inovasi pengelolaan bisnis mutlak dilakukan guna tetap mempertahankan market.

Lalu apa hubungannya dengan mewujudkan Internasional Hub Port di Pelabuhan Tanjung Priok ?

Tentu berkaitan erat, karena selain penguasaan market secara global, kondisi fasilitas eksisting pelabuhan juga mesti mengikuti kriteria sebagai internasional hub port yakni setidaknya memiliki kedalaman air pelabuuan (draft) minimal 15-20 meter.

Belum lagi, kriteria lainnya untuk menyandang status sebagai Internasional Hub Port, seperti terhubung dengan jaringan pelabuhan di seluruh dunia, lokasi geografis yang menguntungkan sebagai rute perdagangan utama, infrastruktur dan lingkungan usaha serta dukungan hinterland yang memadai, maupun pemanfaatan sistem IT yang berstandar global.

Dalam keterangan resminya baru-baru ini, Direktur Utama PT Pelabuhan Indonesia II/IPC, Arif Suhartono optimistis bahwa pelabuhan Tanjung Priok siap menjadi pelabuhan hub internasional. Apalagi sejak tiga tahun terakhir terminal-terminal peti kemas di Tanjung Priok rutin melayani kapal-kapal besar berkapasitas di atas 10.000 TEUs.

Sekarang sudah ada sejumlah direct call (rute pelayaran langsung) dari Priok ke berbagai tujuan, antara lain Amerika, Eropa, Australia, serta China dan beberapa negara Asia Timur.

Arif juga meyakini dengan diberlakukannya bagan pemisah lalu lintas atau Traffic Separation Scheme (TSS) di selat Sunda dan selat Lombok telah sejak 1 Juli 2020, akan meningkatkan lalu lintas kapal di Selat Sunda dan Selat Lombok. IPC melihat adanya peluang ekonomi dari pemberlakuan TSS tersebut.

Oleh karena itu, IPC siap menangkap potensi peningkatan trafik di kawasan selat Sunda, lantaran itu merupakan jalur alternatif perdagangan ke Asia Barat dan Eropa atau sebaliknya, yang selama ini lebih banyak mengandalkan selat Malaka. (idj/idj)

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *