26 May 2019
  • 26 May 2019
Breaking News
  • Home
  • Nasional
  • Politik
  • Hari Pangan Sedunia, Suharno Ingin Kembalikan Kejayaan Pertanian di Lakbok

Hari Pangan Sedunia, Suharno Ingin Kembalikan Kejayaan Pertanian di Lakbok

By on 16 October 2018 0 140 Views

Bandung, ROC – Peringatan Hari Pangan Sedunia (HPS) 2018 ke 38 terpusat di Kabupaten Barito Kuala Propinsi Kalimantan Selatan (Kalsel).  Kementerian Pertanian terus melakukan pengawasan intensif pemanfaatan lahan rawa yang diproyeksikan mencapai 4.200 hektare.

Tema nasional HPS 2018 ini, sejalan dengan tema internasional World Food Day dari organisasi pangan dan pertanian dunia (FAO) yang mengusung tema Zero Hunger atau pengentasan kelaparan dunia  pada 2030. Pengembangan lahan rawa merupakan masa depan untuk mencukupi kebutuhan pangan yang terus meningkat.

Kementan melakukan optimasi lahan dengan kerja bersama antara pemerintah pusat, TNI, pemerintah daerah dan masyarakat. Lahan yang sebelumnya merupakan rawa kini sudah ditanami, siap tanam, dan terus diperluas. Beberapa alat berat seperti traktor diterjunkan untuk olah lahan.

Dalam optimalisasi lahan rawa atau gambut tersebut, Calon Anggota DPD-RI Dapil Jawa Barat yang peduli akan sector pertanian, Mayjen TNI (Purn) DR. Ir. H. Suharno, MM menyebutkan bahwa di Jawa Barat sendiri semenjak lama sudah ada lahan gambut atau rawa di daerah Rawa Lakbok, Ciamis, Jawa Barat.

“Lahan gambut di Negara Indonesia seringkali terdengar berasal dari wilayah Sumatera ataupun dari Kalimantan. Namun, pada tahun 1933, peneliti asal Belanda, Betje Pola, mengungkapkan bahwa di Lakbok Kabupaten Ciamis Jawa Barat juga memiliki lahan gambut seluas 3000 hektare,” ujar Suharno.

Menurutnya, seperti hasil penelitian yang diterbitkan tahun 1949, lahan gambut di wilayah Lakbok itu terbentuk karena adanya materi kayu dan hutan hujan. Sehingga, lahan gambut di Lakbok sangat berbeda dengan gambut pada umumnya seperti di Kalimantan.

Meskipun saat ini wilayah Lakbok, khususnya Rawa Lakbok yang kini menghasilkan embel/gambut, sudah berupa hamparan sawah, tanah di lokasi gambut berada merupakan jenis inseptisol sesuai peta yang dikeluarkan dari Bakorsurtanal (kini BIG) pada tahun 1999.

Secara umum, jika kita berkunjung ke Kecamatan Lakbok Kabupaten Ciamis, kita akan banyak menjumpai banyak areal persawahan yang ditanami dengan padi. Tanaman padi ini sangat mendominasi wilayah Lakbok. Oleh karena itu tidak heran jika Lakbok terkenal dengan lumbung padinya Kabupaten Ciamis.


“Sebelum menjadi areal persawahan, berdasarkan cerita turun temurun Lakbok awalnya terkenal dengan sebutan Rawa Lakbok. Rawa Lakbok merupakan rawa yang berada di kawasan Lakbok Ciamis yang berdekatan dengan Kota Banjar Jawa barat. Konon lakbok merupakan rawa gambut dengan luas mencapai 3000 hektar dengan kedalaman antara 6-10 meter,” Paparnya.

Lanjut Suharno, Rawa Lakbok pada masa lalu banyak ditumbuhi beragam spesies tanaman langka di tanah Jawa, seperti ficus retusa, Elaocarpus littoralis, Nephralepis radicans, Scirpodendron ghaeni, Flascopa scandens, Stenochlaena palustris, dan Licuala sp. Reklamasi lakbok mulai dibuat sejak tahun 1924.

Lakbok merupakan sebuah kecamatan di Kabupaten Ciamis yang terdiri dari 10 Desa. Kecamatan lakbok merupakan wilayah dengan jumlah penduduk kurang lebih 35.011 jiwa yang terdiri dari laki-laki sebanyak 17.273 jiwa dan perempuan sebanyak 17.738 jiwa. Luas wilayah Lakbok kurang lebih 58 km persegi. Kecamatan lakbok sebelah barat berbatasan dengan Kota Banjar dan Kecamatan Purwadadi, sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Cilacap Jawa Tengah, sebelah utara berbatasan dengan kota Banjar dan sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Banjarsari dan Kecamatan Padaherang.

“Potensi penggunaan lahan di Kecamatan Lakbok yaitu 3.317 hektar irigasi teknis, 20 Hektar irigasi non PU, 5 hektar rawa, 1.248 hektar bangunan, 323 hektar tegal/kebun. Potensi lakbok mengarah pada bidang pertanian. Sebagian besar masyarakatnya bermata pencaharian sebagai petani. Sebagian besar dalam satu tahun mengalami 2 kali masa tanam dan panen padi. Mulai tahun 2011 sudah mulai dicoba penerapan panen bisa satu tahun 3 kali dengan memanfaatkan saluran irigasi yang sudah diatur sedemikian rupa,” tuturnya.

Menurut beliau, saat ini Lakbok harus mulai disentuh oleh teknologi terapan untuk mengembangkan potensi pertanian, terutama di lahan gambut, dimana masa kejayaan Lakbok sebagai lumbung padi terbesar untuk wilayah priangan timur akan kembali menuju masa emasnya. (Red)

 

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *